
“Apa ini, labirin dari taman bunga?” gumam Audrey dengan napas terengah-engah, dia terduduk dan memegang dadanya yang nyeri.
'Sudah tujuh 6 hari berlalu, sisa empat hari lagi. Aku tidak boleh menyia-nyiakan waktu.' Pandangan Audrey tiba-tiba mengabur, dia menutup matanya dengan kening yang sedikit berkerut. Keringat membasahi wajahnya.
'Sial, rasa sakitnya kembali kambuh! Rasa panas ini kembali lagi, sudah 5 hari rasa panasnya hanya berkurang dan tidak pernah menghilang.' Audrey mengusap wajahnya, dia berusaha berdiri dan berjalan dengan terhuyung-huyung.
“Aku, harus bisa.” Audrey mengangkat tangannya ke arah jalan masuk labirin. “Sebentar lagi, aku harus--” Audrey terjatuh dan tak sadarkan diri, seseorang tiba-tiba muncul di depannya. Wajahnya ditutupi slayer hitam.
“Hah, kau itu selalu saja merepotkanku,” gumam orang itu, dia memapah Audrey dan membawanya masuk.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Cahaya matahari yang terik membuat Audrey membuka matanya, dia berkedip beberapa kali dan melihat sekitaran.
'Di mana aku? apa aku sudah mati lagi?'
“Kau sudah bangun?” Audrey menoleh ke asal suara, matanya sedikit membulat ketika melihat siapa yang datang.
“Siapa kau dan kenapa aku bisa di sini??” tanya Audrey.
'Ah, kenapa kepalaku pusing sekali.' Audrey menyentuh kepalanya.
“Kenapa kau kemari, Nona?”
“Aku.” Audrey melirik sekitaran, wajahnya seketika berbinar ketika mencari menemukan bunga yang dia mau.
Dia berdiri dan berjalan ke arah bunga itu, namun langkahnya langsung dihentikan oleh orang yang menolongnya.
“Aku harus mendapatkan bunga itu!” Audrey menunjuk bunga mawar biru, Orang menolongnya tampak mengerutkan keningnya.
“Untuk apa? apa kau ingin menyembuhkan seseorang? Jika untuk menghidupkan seseorang, kau harus menggunakan mawar merah itu.” Orang itu menunjuk mawar yang dimaksud, Audrey menggeleng pelan.
“Aku ingin mengambilkannya untuk saudaraku yang terkena racun.”
“Astaga Nona, Saudaramu hanya terkena racun. Tapi temanku dalam keadaan lebih bahaya dan bisa mati kapan saja.”
“Tapi, aku perlu--”
“Dengar Nona, tabib masih bisa menyembuhkan racun manapun. Tapi temanku di ambang kematian, maaf karena aku tidak bisa memberikan bunga itu.”
__ADS_1
“Apa? tung--” belum selesai ucapan Audrey, orang itu sudah lebih dulu menghilang. Gadis itu menghela napas dan melihat ke arah mawar biru, keningnya tampak berkerut ketika melihat mawar itu yang telah layu.
“Ah, gawat!” Audrey berlari ke arah mawar itu, dia berhenti di depan mawar dan gelagapan. Tidak tau harus berbuat apa.
'Mawarnya telah, layu? lalu bagaimana aku bisa menyembuhkan Kak Damian?' Audrey terduduk di tanah, dia memukul tanah dengan kepalan tangannya.
“Sial!” desisnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Audrey, kau darimana saja? Kenapa pergi tanpa memberitahu siapapun??” tanya Caesar sambil mengguncang badan Audrey pelan, namun gadis itu tidak berkata apa-apa.
“Kak Damian,” gumam Audrey dengan air mata yang mulai mengalir, Caesar memeluknya erat.
“Audrey, kau darimana saja? Damian mencarimu.” Ucapan Caesar membuat Audrey berhenti menangis. “A-apa maksudnya? i-ini sudah lebih 10 hari, K-kak Damian--”
“Dia masih hidup, Audrey. Damian masih hidup.” Audrey melepas pelukan Caesar. “Benar kan? Kak Damian masih hidup!? kumohon jangan membohongiku!”
“Sungguh Audrey, Damian mencarimu sejak 3 hari yang lalu. Dia sangat khawatir padamu.”
“D-di mana kak Damian?” tanya Audrey dengan suara bergetar, Caesar tersenyum tipis. “Dia ada di kamar Putra Mahkota.”
“Kak Damian,” panggil Audrey dengan suara bergetar. “Sayang, kau darimana saja? Kami mencarimu.”
“A-aku-- bagaimana bisa terjadi?” Damian tersenyum. “Putra Mahkota mengambilkan bunga jiwa.”
“B-bunga jiwa?” bingung Audrey, Damian mengangguk. “Bunga jiwa sering dipanggil bunga mawar biru, bisa menyembuhkan racun apapun.”
Audrey menunduk. 'Bagaimana mungkin? saat aku datang, bunga itu masih ada di taman. Tidak mungkin Putra Mahkota-- apa jangan-jangan, orang yang mengambil bunga itu dariku adalah Putra Mahkota yang menyamar?'
Damian mengusap rambut Audrey lembut dan membuat gadis itu langsung tersadar dari lamunannya, dia tersenyum manis meski matanya tampak bengkak karena menangis. Hidungnya memerah.
Audrey memeluk Damian. “Tolong, jangan tinggalkan Audrey lagi,” cicit Audrey, Damian mengusap punggungnya.
“Iya, iya. Maafkan Kakakmu ini, Kakak tidak akan meninggalkanmu lagi.”
Audrey melepaskan pelukannya, dia terisak dan membuat Damian mencubit pipinya. Audrey meringis sambil memegangi pipinya yang memerah.
“Jangan menangis lagi, Ok? Kakak tidak ingin melihat peri kecil Kakak menangis, itu membuat Kakak jadi sedih.” Audrey mengangguk patuh.
__ADS_1
“Kak Damian istirahat ya, Audrey akan bertemu Ayahanda dan Kak Caesar.” Damian mengangguk sebagai jawaban, Audrey tersenyum dan berjalan keluar.
'Aku harus mencari tau siapa yang meracunimu, Kak Damian!'
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Audrey berjalan-jalan di sekitar taman kekaisaran, suasana hatinya mulai membaik ketika melihat Damian telah sadar.
Senyuman yang menghilang di wajahnya beberapa hari yang lalu kembali muncul. “N-nona Audrey.” Audrey menoleh ke asal suara, dia tersenyum manis ketika melihat Lixi.
Namun senyum manisnya seketika menghilang saat melihat siapa pria di samping Lixi, pria itu menatap datar dirinya sambil berkacang pinggang.
“K-kak Mike di sini?” tanya Audrey basa-basi, namun Mike hanya menanggapi dengan deheman.
“Dari mana saja kau?”
“A-aku dari.” Audrey berusaha memikirkan alasan yang sempurna, tidak mungkin dia memberitahu Mike kalau dia pergi ke taman surga untuk mendapatkan mawar biru.
“Bukankah kau bilang pada Lixi, kalau kau ke akademiku. Tapi kau tidak ke sana, kan?” Audrey tersenyum kaku. “A-apa makaudmu, Kak?” tanya Audrey dengan tampang polosnya.
Mike memijat pelipisnya pusing, dia menarik tangan Audrey dan membawanya kembali ke kediaman. “Lepaskan aku, Kak. Kak Damian masih belum sembuh!!”
“Audrey, Ayahanda mencarimu dari 13 hari yang lalu! Dia sampai tidak tidur karena mengkhawatirkanmu!” Audrey yang berusaha meronta langsung diam, dia menunduk sambil terus mengikuti Mike.
“Maaf Kak, aku seharusnya memberitahu Ayahanda soal ini. Aku hanya tidak mau Ayahanda melarangku ke sana dan aku tidak bisa menolong Kak Damian,” cicit Audrey.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Ayahanda, aku mohon. Maafkan aku,” mohon Audrey sambil memegang telinganya, namun Grand Duke dan Mike tidak meliriknya sama sekali. Keduanya malah asik mengobrol.
“Kak Mike,” Panggil Audrey, namun dia tetap dihiraukan oleh kedua pria itu. Audrey mendengus kesal.
“Lihat saja, jika hukumanku selesai. Aku tidak akan bicara dengan kalian!”
Tak terasa, Audrey telah berdiri selama 2 setengah jam. Setelah waktu hukumannya selesai, Audrey langsung terduduk dengan wajah kesal.
Dia berdiri dan berjalan keluar dari ruang kerja Grand Duke, Audrey melihat sekitaran yang sepi. Dengan langkah tanpa suara, dia berjalan menuju kamar Mike untuk membalas pria itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1