
“Apa??” Xavier menoleh ke belakang, namun Audrey sudah lebih dulu terjatuh ke jurang. Dia berlari ke arahnya dan berusaha meraih tangan gadis itu namun terlambat. “Audrey!”
'Aku harap, aku bisa bersama denganmu selamanya. Tapi takdir kita tidak sesuai, setidaknya.. aku bisa menyelamatkanmu dan menebus dosaku.' Audrey tersenyum tipis, tidak ada rasa takut di wajahnya meski dia kini terjatuh di jurang yang ketinggiannya mencapai ratusan meter.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
'Sial!!' Xavier menggeram marah, dia berdiri dan menatap beberapa orang dari seberang jurang yang hendak lari. Dia berdiri dan mengangkat tangannya.
Xavier mengibaskan tangannya dari kiri ke kanan, saat itu juga. Para pria berbaju hitam itu langsung hancur berkeping-keping dengan organ dalam yang sama hancurnya. Tatapannya begitu dingin dan menusuk.
“Heh, kalian pikir. Kalian bisa kabur setelah menghabisi gadisku?” desis Xavier dengan nada menahan amarah. “Kematian gadisku, maka nyawa kalian semua adalah taruhannya!”
“Jangan khawatir, Putra Mahkota. Kita akan bertemu lagi di peperangan antara kekaisaran dan kerajaan iblis!” teriak Davide dari seberang jurang.
Xavier menyeringai. “Akan kutunggu, aku akan pastikan kepalamu akan berada di bawah kakiku!”
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Sudah hampir tujuh tahun sejak perang besar antara kerajaan iblis dan kekaisaran, meskipun pada akhirnya kekaisaran tetap meraih kemenangan. Namun sang bintang, Xavier. Tidak merasa puas sama sekali.
“Kak--”
Suara gebrakan di meja membuat gadis cantik yang wajahnya hampir mirip dengan Xavier itu tidak melanjutkan ucapannya, Xavia. Setelah tujuh tahun berlalu.
Semuanya telah berubah, sikap kakaknya Xavier semakin dingin dan kejam. Bahkan Kaisar, Permaisuri, dan Ibu suri saja yang terkenal sangat dekat dan dituruti permintaannya tidak berani mengajak Xavier berbicara.
Xavia menghela napas, dia melirik para pelayan yang menunduk ketakutan di belakangnya. Xavia memberi kode pada kepala pelayan, gadis paruh baya itu mengangguk pelan.
Xavia berjalan pergi dan diikuti pelayan-pelayan lain. 'Huh, Kakak. Ini sudah tujuh tahun lamanya, apa kau masih belum bisa melupakannya? Meskipun dia berkorban untukmu, tapi bukan berarti kau tidak akan bisa mendapatkan gadis lain yang lebih baik darinya.' Dia kembali menghela napas, Xavia tiba-tiba bersemangat. 'Tidak boleh seperti ini terus! Kakak harus mendapatkan pengganti Kak Audrey agar dia bisa melupakannya! Tapi di mana aku bisa mencarinya?'
Xavia mengetuk-ngetuk dagunya, dia melirik ke pintu kamar Xavier yang tertutup. 'Mengetuk pintunya saja tidak ada yang berani, apalagi mengajaknya berbicara. Huh, sungguh. Kau yang terganggu, aku yang stress.'
__ADS_1
“Nona! Tolong jangan berlari-larian!”
Xavia mengalihkan pandangannya ke suara pelayan tadi, dia memperhatikan seorang anak kecil mungil yang berlari dengan tawa manis sambil melihat ke belakang. “Bibi pelayan tidak akan bisa menangkapku,” kata gadis itu, dia kembali menoleh ke depan namun kakinya tidak sengaja menginjak ujung gaun yang dia pakai dan berakhir jatuh tepat di depan Xavia.
“A-apa kau baik-baik saja?” tanya Xavia yang terkejut sekaligus khawatir.
Anak gadis itu duduk sambil memegangi dahinya yang memerah. “Ssth, sakit sekali,” ringisnya pelan, dia mendongak dan tersenyum manis. “Aku baik-baik saja, maaf karena menganggu Kakak Putri.”
Xavia menatap gadis kecil di depannya dengan mata membulat, seorang pelayan berlari ke arah mereka dan segera membungkuk hormat di hadapan Xavia.
“Maafkan kelancangan kami dan Nona kami, Yang Mulia.”
“Em, tidak masalah. Apa dahinya baik-baik saja? Aku sepertinya melihat dahinya memerah.”
“Apa? Apa Anda terluka?” tanya pelayan itu khawatir, dia membantu gadis kecil berdiri.
“Aku baik-baik saja, tapi gaun ini sangat susah untuk di kenakan. Huh, di mana ayah? Apa dia belum kembali?” Seolah tersadar akan sesuatu, gadis kecil itu berbalik ke arah Xavia dan membungkuk hormat dengan anggun. “Maafkan ketidaksopanan saya, Kakak Putri.”
“Eum, tidak masalah. Apa dahimu baik-baik saja?”
'Mata itu memang sangat mirip dengan milik Kakak Audrey, biru laut yang indah dan sedikit bercahaya.' Xavia berjongkok di depan gadis kecil itu. “Siapa namamu, gadis kecil?”
“Namaku Andrea, kakak putri bisa memanggilku Rea.”
“Rea, matamu sangat indah. Matamu itu jadi mengingatkanku pada temanku tujuh tahun yang lalu.”
“Em, benarkah? Apa teman kakak itu adalah putri dari Tuan Grand Duke?” tanya Rea ragu-ragu, Xavia mengangguk.
“Kau kenal?”
Rea menggeleng. “Tidak, tapi sejak kecil ibu pernah menceritakan tentangnya. Dia gadis yang cantik dan baik, bahkan mengorbankan nyawanya demi Kakak Pangeran.”
__ADS_1
Xavia mengangguk pelan. 'Ya, dia bahkan bisa merebut hati Kakak. Kak Xavier yang bahkan tidak pernah di dekati oleh siapapun kecuali kak Zachary, terutama seorang gadis. Apa Kak Audrey semenarik itu sampai membuat Kakak penasaran dan cinta mati??'
“Kakak Putri, apa Kakak ingin aku melakukan sesuatu?” tanya Rea, gadis itu seolah bisa membaca isi pikirannya.
Xavia mengangguk, dia melirik pelayan di depannya. Xavia mengambil satu nampan berisi sepiring makanan dan air putih, dia berjongkok di depan Real. “Apa kau bisa membantu Kakak memberikan ini pada Kakak pangeran? Kakak pangeran sedang tidak ingin menemui kakak, tapi kalau Rea. Mungkin dia akan menemuimu.”
Rea tanpa ragu mengambil nampan itu dengan tangan mungilnya, dia dengan sekuat tenaga mengangkat nampan yang menurutnya sangat berat. “Di mana kamar Kakak pangeran?”
“Eum, Yang Mulia. Ini--”
Xavia melirik pelayan Rea, dia berdiri dan memperhatikan gadis mungil itu yang berjalan dengan hati-hati. “Jangan khawatir, aku yakin Kakak tidak akan marah ataupun melukainya.”
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Rea berusaha meraih kenop pintu, namun mau bagaimanapun dia mencoba. Dia tetap tidak bisa meraihnya.
Xavia yang melihat hal itu terkekeh geli, pelayan Rea hendak maju dan membantu gadis mungil itu namun langsung dihentikan oleh Xavia. “Pintunya tidak dikunci, cukup dorong saja.”
Rea menoleh ke arah Xavia, dia tersenyum manis dan menatap pintu besar di depannya. Karena kedua tangannya yang memegang nampan, Rea jadi menendang pintu di depannya hingga terbuka. Dia berjalan masuk sambil melihat sekitar. 'Wah, kamar Kakak pangeran sangat bagus.'
Dia berhenti di depan seorang pria yang duduk di kursi sambil membelakanginya, tangannya yang memegang kuas terkepal erat hingga kuas itu patah. “Kenapa kau--”
“Kakak Pangeran,” panggil Rea, Xavier tidak lagi melanjutkan ucapannya. Dia hanya menoleh ke asal suara dan menatap penuh selidik gadis mungil di depannya.
'Suara dan matanya.. kenapa mirip seseorang?'
“Kakak Pangeran, aku membawakan makanan untuk Kakak. Kata Kakak Putri, kakak tidak pernah makan dan Kakak sering sakit. Jadi supaya Kakak pangeran tidak sakit, Kakak pangeran harus makan!”
“Siapa kau? Kenapa kau masuk ke kamarku tanpa izin?”
“Namaku Rea, aku kemari mengantar makanan untuk Kakak. Ini.. perintah Kak Audrey,” kata Rea dengan senyuman misterius di wajah imutnya.
__ADS_1
END
(Halo semuanya, setelah sekian lama. Cerita Menjadi Antagonis Dalam Novel Akhirnya tamat, meskipun akhir ceritanya cukup membagongkan ya. Tapi tenang aja, aku bakalan buat extra chapter buat misteri pas Rea bilang “Perintah Kak Audrey,” jadi, tunggu extra chapternya besok jam.. 11