
Xavier mengambil belati itu, dia menatap belati itu dan wajah Chelsea bergantian. Helaan napas berat terdengar darinya.
“Chelsea, apa kau yakin?” tanya Xavier ragu, tiba-tiba. Chelsea menggenggam tangannya dan tersenyum tipis.
Dia tanpa ragu menusuk dirinya sendiri, Xavier yang tersadar langsung melepaskan tangannya dari belati itu.
Chelsea menutup mulutnya dan muntah darah, dia tersenyum tipis. “Semuanya telah berakhir, terima kasih telah membantuku selama ini. Yang Mulia.” Chelsea tersenyum manis dan terjatuh, Xavier dengan cepat menahan tubuhnya. Dia membaringkan Chelsea dia tanah sambil melihat belati yang masih tertancap di perut gadis itu.
“Chelsea.” Xavier menepuk wajah Chelsea pelan, namun gadis itu tak kunjung membuka matanya. 'Bagaimana ini? Aku tidak bisa menggunakan sihir penyembuhan, Andaikan Audrey ada di sini. Dia pasti bisa membantuku dengan sihir miliknya!' Xavier berdesah frustasi, dia berdiri dan berlari kecil untuk mencari bantuan.
Namun, saat dia kembali lagi. Chelsea telah menghilang dari tempatnya.
“Yang Mulia, sebenarnya kenapa Anda memanggil saya?” tanya Ellisa, salah satu bawahan Xavier.
“Cepat bantu aku mencari seorang gadis bertopeng! Rambutnya berwarna hitam dan matanya berwarna biru.”
“Tap--” Belum selesai ucapan Ellisa, Xavier sudah lebih dulu menghilang. Gadis itu berdecak, dia berjongkok dan menyentuh tanah. “Darah? Yang Mulia tidak terluka, apa memang ada seseorang di sini sebelumnya?”
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Audrey terbatuk-batuk, Gina mengompres kepalanya sambil menghela napas. “Nona, kenapa Anda tiba-tiba demam? Para Tuan muda dan Tuan Grand Duke sampai memarahi saya karena lalai menjaga Anda.”
“Maaf, Gina. Aku sendiri tidak tau, saat aku pulang.. aku tiba-tiba merasa pusing dan badanku tiba-tiba panas.”
“Istirahatlah, saya akan keluar. Nona tidurlah agar kondisi Nona membaik.” Gina berdiri, dia berjalan pergi dan tak lupa menutup pintu kamar Audrey.
Setelah terdiam cukup lama, Audrey menghela napas. Dia mengambil kain basah di dahinya dan meletakkannya ke dalam baskom, Audrey kemudian menyentuh dahinya yang sedikit panas.
Audrey tersenyum tipis, dia menutup matanya. 'Semuanya telah selesai, maaf Audrey. Tapi raga ini telah menjadi milikku, aku tidak akan membiarkan kau mengambil alih ragamu kembali karena aku tau. Setelah kau mengambil alih, kau tidak akan berbuat baik. Aku tau semuanya, Audrey. Kau ingin mengambil alih tubuhmu lagi dan menghabisi semua keluargamu. Jiwa jahat yang ada di hatimu telah mengambil semua jiwa baikmu, jika aku tidak menghentikanmu. Kau akan kembali dengannya, dengan pria yang seharusnya kau jauhi dan kau hindari.'
__ADS_1
Senyum Audrey semakin melebar. “Maaf, Audrey. Tapi ini kulakukan hanya demi kebaikanmu juga.” Audrey membuka matanya dan menatap datar langit-langit kamarnya.
'Dan untuk Xavier, terima kasih sudah mau membantuku untuk menghabisi Jiwa Audrey seutuhnya. Sekarang, tidak ada yang bisa menghapus keberadaanku di raga ini. Aku telah memiliki raga ini seutuhnya, semua kekuatan terpendam Audrey. Aku telah memiliki semuanya, sekarang. Aku bisa melakukan ritual itu tanpa membunuh siapapun lagi.' Audrey menutup matanya lagi dan tertidur nyenyak dalam sekejap.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
“Kenapa? Kenapa kau ingin menghapus keberadaanku?” tanya Audrey asli, setengah jiwanya telah menghilang.
Audrey tersenyum tipis, dia melipat tangannya di depan dada. “Aku yakin kau tau kenapa aku melakukannya, kan?”
“Tapi, aku bisa menahan iblis ini! Kenapa kau tetap ingin menghancurkan sisa jiwaku?” tanya Audrey asli dengan mata berkaca-kaca, Audrey memutar bola matanya malas.
“Dengar, Audrey. Kau tau kan jiwaku bukan dari dunia ini, tapi dari dunia lain. Dan aku tau semua alur dari dunia ini, setelah kau mendapatkan sedikit kekuatannya. Maka kau akan menjadi sangat sombong dan membuat keluargamu dalam bahaya.” Audrey menjeda ucapannya, dia menatap datar Audrey asli yang mulai menghilang secara perlahan-lahan. “Dan sebab itu juga, kekaisaran membunuh semua keluargamu karena mereka berpikir bahkan keluarga Grand Duke adalah seorang penyihir.”
“Tapi--”
“Kau! Aku pasti akan mem--” Belum selesai ucapan Audrey asli, dia sudah lebih dulu menghilang. Audrey menghela napas. Kini tinggal dia sendiri di ruang gelap tanpa batas itu.
'Maaf, tapi aku tidak akan percaya denganmu. Audrey, sekarang. Aku bisa melakukannya meskipun kekuatanku akan melemah karena jiwamu yang menghilang.' Audrey berbalik, dia berjalan pergi dan menghilang dalam kegelapan.
Ruangan itu kini sangat hening, tidak ada suara apapun lagi dari dalam ruangan.
Tiba-tiba, muncul sebuah jari kelingking dari lantai yang gelap itu. Ada aura keunguan yang mengelilingi jari itu.
Suara-suara aneh muncul dari dinding-dinding gelap. suara raungan, suara anak kecil yang menangis, suara bayi, dan suara hewan malam yang terdengar bersamaan dan berulang-ulang.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Audrey duduk di atas atap sambil menghela napas, dia menatap lurus ke depan dengan tatapan datar tanpa ekspresi. 'Semuanya telah selesai, Chelsea maupun Audrey. Mereka telah mati, dan sekarang tinggal aku sendiri.' Audrey kembali menghela napas.
__ADS_1
Dia mendongak ke langit dengan kedua tangan yang dijadikan penopang. “Waktunya hampir tiba, aku harus memulihkan diriku sampai waktu itu datang.” Audrey menutup matanya, jantungnya berdetak sangat cepat hingga menimbulkan rasa sakit.
Dia lagi-lagi menghela napas. “Aku sudah muak dengan dunia ini, ughh. Aku ingin semuanya cepat selesai dan aku bisa bertemu dengannya lagi,” gumam Audrey, dia menekan menunduk sambil menekan perutnya yang terasa perih.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Audrey mengambil kue manju di piring dan memakannya dengan tenang, di depannya ada Mike dan Damien yang menatapnya dengan tatapan aneh.
“Audrey,” panggil Mike dan membuat Audrey yang sibuk mengunyah mengangkat kepalanya dengan kening berkerut. “Apa yang terjadi?”
Audrey menelan makanannya, dia kemudian meminum teh dan menatap Mike dengan kepala yang sedikit memiring. “Ada apa memangnya?”
“Tidak, kami hanya merasa aneh dengan sikapmu. Kau tidak seperti biasanya.”
Audrey mengangguk kecil sambil mengambil mochi. “Aku tidak merasa ada yang berubah, memang apa yang aneh dariku?”
“Ah, tidak. Kau biasanya tidak menyukai kue manju, jadi agak aneh karena kau tiba-tiba memakannya.”
“Oh, soal itu. Selera makanku berubah, itu sebabnya aku menyukai kue manju sekarang,” kata Audrey asal, Mike dan Damien saling menatap.
Damien membuat gerakan isyarat menggunakan tangan. 'Audrey sangat aneh, bukan?'
Mike mengangguk kecil, dia menoleh ke arah Audrey yang hanya fokus pada kue di meja. Mike melirik ke arah Damien. 'Apa yang harus kita lakukan?' Seperti Damien tadi, Mike juga menggunakan isyarat tangan.
'Kita tunggu sebentar lagi, jika masih ada hal aneh. Maka kemungkinan gadis di depan kita ini bukan Audrey, melainkan orang lain yang menyamar menjadi dia.'
Mike mengangguk membenarkan, dia dan Damien terus memperhatikan Audrey.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
__ADS_1