
“Apa itu benar?” tanya Lia sambil menghapus air matanya, Audrey mengangguk.
“Sebenarnya, Nona Veronika meminta kami satu desa untuk menahan Nona Audrey di desa. Agar dia bisa mendekati Putra Mahkota dan bertunangan dengannya.”
“Apa lagi yang Veronika katakan?”
Lia menggeleng. “Aku tidak tau semuanya, tapi aku tidak sengaja mendengar Nona Veronika meminta pelayan untuk memasukkan sesuatu ke minuman Putra Mahkota.”
“Sesuatu?” gumam Audrey, Lia mengangguk pelan.
“Aku sudah mengatakan semua yang kutau, apa kau akan benar-benar menepati janjimu?”
Audrey tersenyum. “Iya, aku akan menepati janjiku.” Senyum Audrey digantikan wajah datar, dia berdiri dan langsung menusuk leher Lia dengan belati. Lia yang terkejut langsung terjatuh dengan darah yang menyembur dan membuat wajah Audrey terkena darah, gadis itu menatap dingin gadis yang terbaring di tanah dengan sedikit kesadaran yang tersisa.
“Kau menginginkan keselamatan kan? Aku telah memberikannya, dengan begini. Kau tidak perlu kembali ke desa atau menerima penyiksaan apapun dari Veronika.” Audrey berjongkok. “Dan lagi, anggap ini sebagai balasan karena sudah berani menahanku.”
“No-na.. A-udre-y.” Lia menutup matanya, Audrey berdiri. Dia berjalan ke arah White dan Black sambil mengusap darah di wajahnya dengan sapu tangan.
“Kalian sangat rakus, ayo kita pergi. Kita akan keluar dari hutan belantara ini.” Audrey menatap kedua hewan kecil menatapnya dengan kepala memiring dan darah di mulut mereka, Audrey berjongkok hingga membuat keduanya melompat naik ke pelukannya.
Audrey tersenyum tipis. “Kita akan membantu Xavier, kita tidak boleh membiarkannya jatuh ke perangkap Veronika.” Dia menutup matanya dan menghela napas, suara-suara hewan malam di sekitar seolah menghilang dan membuat suasana sunyi yang menenangkan. 'Laura, bantulah aku. Hanya kau yang tau soal hutan dan juga Veronika, meskipun hal ini tidak ada kaitannya. Tapi bantulah aku untuk keluar dari hutan ini, dan aku berjanji. Aku akan membuat Veronika tersiksa hingga dia menginginkan kematiannya, kau juga bisa jika ingin menyiksanya dengan tanganmu sendiri.'
Audrey membuka matanya, di depannya terdapat jejak kaki yang bercahaya hijau. Dia tersenyum tipis dan melangkah mengikuti arah jejak kaki itu.
__ADS_1
Tidak sampai setengah jam, Audrey tiba di perbatasan antara hutan dan kota. Di sana, jejak kaki itu perlahan menghilang dengan aura yang terbang ke langit dan menghilang. 'Terima kasih Laura, aku pasti akan menepati janjiku.' Audrey dengan percaya diri melangkah dan melewati perbatasan, wajahnya begitu datar sehingga tidak bisa diartikan.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
“Apa maksudmu?? Ini sudah sebulan lebih dan kau masih belum menemukan keberadaan Audrey!?” tanya Mike sambil mencengkram kerah baju seorang pengawal Kediaman.
“Maafkan saya, Tuan Muda. Saya dan para pengawal lain sudah mencari kemanapun, tapi kami tidak bisa menemukan jejak Nona Muda. Kita juga tidak bisa masuk ke wilayah raja iblis.”
Mike mencekik leher pengawal itu. “Jika besok masih belum ada jejak apapun, kalian semua akan habis!” Dia langsung melempar pengawal itu hingga menabrak tembok.
Dengan sekuat tenaga, pengawal itu bertekuk lutut. “Baik, Yang Mulia.” Dia berdiri dan berjalan pergi dengan terhuyung-huyung.
Tidak lama setelah kepergian pengawal itu, seorang pelayan berjalan masuk dengan terburu-buru dan menunduk hormat. “Tuan Muda, Nona Audrey. Nona Audrey sudah kembali di kediaman!!” kata pelayan itu heboh, Mike tersentak kaget. Dia berbalik dan berlari masuk secepat mungkin.
“Audrey!!” Mike berjalan masuk, di depan pintu Kediaman. Seorang gadis cantik dengan darah di gaun dan jejak darah di wajahnya berdiri diam di mulut pintu.
Audrey tersenyum tipis. “Aku baik-baik saja, Kak.”
“Kau darimana saja??” Mike menuntun Audrey dan mendudukkannya di sofa. “Pelayan, bawakan baskom berisi air hangat dan juga kain ke sini!”
Audrey meletakkan kedua hewan kecil yang ada di pelukannya, dia menatap sekeliling kediaman. Tidak ada yang berubah di sana, semuanya tetap sama.
“Kenapa kau bisa terkena darah? Dan kenapa dua hewan kecil ini ada bersamamu?” tanya Mike sambil mencelupkan kain ke baskom dan memerasnya, dia kemudian membersihkan bekas darah di wajah Audrey. “Kau tidak terluka kan? Apa raja iblis itu melakukan sesuatu padamu?”
__ADS_1
Audrey hanya diam, dia tidak bergerak sama sekali. Tatapannya terpokus pada meja di depannya. “Apa, Xavier bertunangan dengan orang lain?”
Pertanyaan dari Audrey membuat Mike berhenti sejenak, dia terdiam beberapa detik sebelum menghela napas. “Karena kau yang tiba-tiba menghilang, kaisar jadi memilih gadis lain untuk menjadi tunangan baru Yang Mulia.”
Audrey hanya diam, pikirannya kalang kabut. Dia tersenyum masam. “Apa Xavier setuju begitu saja?”
Mike memperhatikan wajah Audrey sebelum menghela napas. “Kakak tidak tau, tapi dari yang kakak dengar. Xavier sempat kabur dari istana saat Yang Mulia kaisar memberitahunya soal hal itu.”
'Kenapa dia kabur? Apa dia tidak mau bertunangan dengan Veronika? Lalu kenapa dia tetap setuju pada akhirnya? Apa dia benar-benar sudah putus asa untuk mencari keberadaanku? Apa dia benar-benar hanya menganggapku sebagai rekannya?' Audrey menghela napas, dia melirik kedua hewan kecil yang tertidur lelap di sampingnya. 'Apa yang harus kulakukan? Kenapa aku tidak rela mendengar dia bertunangan dengan gadis lain? Kenapa hatiku terasa sangat sakit?'
“Tapi bukankah itu bagus, kau juga tidak ingin bertunangan dengan Putra Mahkota sejak awal kan.”
Audrey menyingkirkan tangan Mike yang sibuk membersihkan jejak darah, dia menggendong Black dan White lalu berdiri dan menatap ke arah Mike. “Aku ingin ke kamar, aku tidak ingin diganggu. Jadi jangan masuk ke kamarku.” Audrey berjalan ke kamarnya dengan pikiran yang berkelana ke mana-mana.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Audrey dengan hati-hati meletakkan Black dan White di atas kasurnya, dia tersenyum tipis dan berjalan ke arah lemarinya. Audrey merenggangkan kedua tangannya dan mengambil gaun berwarna hijau, dia berjalan ke arah kamar mandi sambil mengoceh tidak jelas.
Hampir lima belas menit berlalu. Audrey akhirnya keluar dari kamar mandi dengan gaun yang dibawanya, dia duduk di meja rias dan menyisir rambutnya.
Audrey tersenyum tipis sambil memperhatikan penampilannya. “Sempurna, ini lebih baik daripada pakaianku beberapa menit yang lalu.”
Senyum di wajah Audrey berubah digantikan seringai. “Sesuai janjiku, Laura. Aku pasti akan membuat Veronika menderita, oleh sebab itu.” Audrey bersandar dan mendongak ke langit-langit kamarnya. “Aku membutuhkan bantuanmu untuk beberapa hal yang akan datang.”
__ADS_1
Suara ketukan pintu membuat Audrey menoleh, dia menghela napas. “Ada apa?”
Tidak ada Jawaban, namun pintu terus saja diketuk dan membuatnya kesal sekaligus geram. Audrey berdiri dan berjalan ke arah pintu, dia membuka pintu kamarnya dan bersiap untuk mengomel namun seseorang langsung memeluknya dengan erat hingga Audrey terdiam.