
Profesor berhenti melangkah, dia menatap Audrey dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Tidak, ini kunci asramamu. Dan asramamu ada di situ, jika kau butuh hal penting. Beritahu teman seasramamu saja.” Profesor menyerahkan kunci dengan gantungan berbentuk beruang, Audrey mengambilnya dan tersenyum tipis.
“Baik.” Dia berjalan ke asramanya dan membuka pintu, Audrey menoleh ke arah Profesor yang tak bergerak di tempatnya. Dia membungkuk sopan dan berjalan masuk kemudian mengunci asramanya.
Profesor menghela napas, dia berbalik dan berjalan pergi sambil menggenggam sesuatu di tangan kirinya.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
'Hah, tempat baru. Hidup baru.' Audrey merapikan barang-barang ke dalam lemari, dia kemudian menutup lemari itu dan duduk di tepi kasur sambil melihat seisi asrama.
Suara pintu terbuka membuat Audrey menoleh, dia mengerutkan keningnya ketika melihat gadis asing yang tampak familier. Gadis itu terkejut ketika melihatnya.
'Pipi chubby, mata besar, cantik, berparas Dewi. Dia pasti Abella! Tidak kusangka akan bertemu di sini.' Audrey tersenyum tipis.
“Selamat siang, Bella.”
“N-nona Audrey, Se-selamat siang,” sapa Abella dengan senyum canggung, senyuman Audrey semakin melebar.
“Ah, kau mengenaliku ya? Tidak kusangka aku cukup populer ternyata.”
Abella menatapnya dengan bingung, dia meletakkan tasnya di atas kasur yang berbeda dengan yang diduduki Audrey.
“Siapa yang tidak mengenal Anda, Nona. Anda adalah putri kesayangan Tuan Grand Duke dan juga adik kesayangannya Tuan Muda Mike, Tuan Muda Damien, dan Tuan muda Caesar.”
Audrey mengangguk membenarkan. “Benar juga, justru aneh jika ada yang tidak mengenalku. Iya kan?” Audrey menatap Abella yang mengangguk.
Dia tersenyum tipis dan berdiri. “Aku akan menemui kak Mike, salam kenal ya. Bella, semoga kita bisa menjadi teman baik.”
Abella tersenyum, Audrey berjalan keluar. Dia menutup pintu asrama dan mengumpat.
'Kenapa si Protagonis bisa di sini?? Memang benar kalau dia bersekolah di akademi ini karena beasiswa, tapi kenapa bisa sangat pas hingga aku seasrama dengannya??' Audrey berdecak, dia sampai lupa mengganti gaunnya karena ingin cepat-cepat pergi dari Protagonis.
'Hah, sekarang aku harus bagaimana? Apa pergi menemui Kak Mike, tidak mungkin. Dia pasti ada di asramanya sekarang, atau aku ke kafetaria?? Tapi dengan gaun ini. Aku pasti akan terlihat mencolok! Akh! Aku tidak tau harus kemana!!' Audrey menggerutu, dia tanpa sengaja melihat sebuah taman yang sepi dan berada di belakang akademi. Dengan senyum yang mengembang, Audrey sejalan keluar dari asrama putri dan berlari kecil ke arah taman itu.
__ADS_1
Seperti yang Audrey duga, di sepanjang perjalanan. Semua siswa maupun siswi menatapnya dengan tatapan yang berbeda-beda, hal itu cukup membuatnya risih. Namun demi sampai ke taman itu, Audrey akan bertahan.
“Dia itu putri Tuan Grand Duke kan?”
Audrey berhenti berlari, dia menoleh ke asal suara dan melihat beberapa siswi yang mungkin tengah menggosipinya.
“Iya, rumor mengatakan. Dia tidak memiliki sihir sama sekali, sikapnya juga sangat sombong dan tidak tahu sopan santun!” kata salah satu dari mereka seolah berbisik, padahal secara terang-terangan. Mereka tengah mengejek Audrey yang notabenenya adalah gadis manja dan sulit diatur.
“Eh, jadi dia Putri Grand Duke itu?”
“Benar, dia gadis tanpa sihir yang selalu menindas seseorang menggunakan kekuasaan ayahnya.”
“Memang gadis tidak tau diri, dia sudah menjadi beban keempat orang hebat itu jika terjadi sesuatu.”
Entah kenapa, siswa-siswi di sekitarnya juga mulai menggosipi Audrey. Gadis yang pertama kali membicarakannya tadi menunjukkan seringai.
Audrey mengepalkan tangannya kesal. 'Apa sebegitu bencinya mereka pada Audrey?? Cih, mereka mencoba masuk ke kandang serigala rupanya.'
Audrey tersenyum tipis, dia berjalan pergi dan berusaha mengabaikan beberapa ucapan murid-murid yang mengejek dan mencemoohnya.
Audrey menoleh dengan tatapan tajam, dia menatap seorang gadis dengan tajam seperti ingin menerkamnya. Namun gadis itu justru menunjukkan tatapan mengejek.
“Ada apa, Nona tanpa sihir? Kau ingin menindas orang lain dengan kekuasaan ayahmu lagi?”
Audrey tersenyum tipis namun penuh arti, dia berjalan mendekati gadis itu. Namun si gadis justru berjalan mundur.
“Kau! Apa yang ingin kau lakukan??” tanya gadis itu sambil menunjuk wajah Audrey.
“Menurutmu? Nona Clare, kau pikir aku takut denganmu hanya karena ayahmu seorang Earl. Jika kau berpikir aku takut, kau sungguh naif. Nona Clare.” Audrey tersenyum, senyumnya selalu membuat siapapun yang melihatnya candu.
“Dengar, Nona Clare. Hanya satu jentikan jari saja, keluargamu bisa langsung..” Audrey menjentikkan jarinya beberapa kali.
“Audrey.”
Semua yang ada di sana menoleh ke asal suara, semuanya menahan napas ketika melihat siapa yang datang. Tapi Audrey justru mengerutkan keningnya.
__ADS_1
Orang yang memanggilnya berjalan ke arah keduanya dengan wajah datar dengan eskpresi yang sulit dibaca.
“Eryk? Kau kenapa bisa di sini??”
“Seharusnya aku yang bertanya, kenapa kau bisa di sini? Dan apa dia mengganggumu??” Eryk mengalihkan perhatiannya ke Clare yang langsung menunduk, siapa yang tidak mengenal Eryk Adney, pria yang menyandang gelar Archduke di usia muda dan bahkan diberi penghargaan secara langsung oleh keluarga kekaisaran.
“Ah, tidak ada apa-apa. Tadi hanya terjadi kesalahpahaman.”
“Baguslah.” Eryk meletakkan tangannya di atas kepala Audrey, namun langsung ditepis secara kasar oleh gadis itu ditambah tatapan tajam yang mengarah ke Eryk.
“Jangan menyentuhku!” Audrey tiba-tiba berubah 180°, dia yang tadinya seperti kucing manis yang patuh tiba-tiba berubah menjadi harimau yang garang.
Eryk tertawa. “Baik-baik, kenapa kau bisa di sini?”
“Aku kemari ingin bertamasya,” kata Audrey ketus. “Sudah sana, aku ingin pergi.” Audrey berlalu pergi, dia sempat melirik Clare yang mengepalkan tangannya.
Seringai tipis muncul di wajah Audrey, dan hanya disadari oleh Clare yang sedari tadi menatapnya penuh dengan kebencian.
“Aku ikut!!” Eryk berlari kecil dan menyusul Audrey, siswa-siswi yang mengelilingi ketiganya langsung memberi jalan.
Clare menghentakkan kakinya kesal, dia berjalan pergi dengan wajah penuh amarah dan tangan yang terkepal erat.
'Audrey Marley!! Lihat saja pembalasanku nanti!'
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
“Pergi sana! Jangan mengikutiku lagi!!” Audrey menatap Eryk kesal, sejak tadi. Pria itu tidak berhenti mengikutinya kemanapun, jika hanya mengikutinya saja tidak apa-apa. Tapi Eryk juga menanyakan pertanyaan acak.
“Aku tidak mengikutimu, mungkin tujuan kita sama,” jawab Eryk santai, Audrey menatapnya dengan tangan terkepal. Ingin sekali dia menonjok pria di depannya sekuat tenaga.
Audrey berdesah frustasi, dia berjalan pergi dengan cepat agar Eryk tidak mengikutinya. Namun apalah daya, pria itu tetap mengikutinya sambil melontarkan pertanyaan-pertanyaan acak.
“Audrey, kau menyukai apa?”
“Diam, Eryk.” Audrey menghela napas, dia berbalik dan menatap sayu Eryk. Tatapannya seperti bunga yang telah layu.
__ADS_1
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ