
Audrey melihat makanan di depannya. 'Aku harus membeli apa?' Dia mengetuk-ngetuk dagunya berpikir.
“Anda ingin membeli apa, Nona?”
“Em, berikan masing-masing lima dari kue yang berbeda.”
Setelah mengambil masing-masing lima dari kue yang berbeda, Pemilik kafetaria itu memberikan nampan berisi kue-kue yang diminta Audrey.
“Terima kasih.” Audrey mengambil nampan itu dan mengeluarkan sebuah kartu dari sakunya, Audrey mengarahkan kartu itu ke scan QR dan tersenyum tipis.
Audrey memasukkan kembali kartu itu ke dalam sakunya dan berjalan pergi dengan nampan di tangannya. 'Aku merasa jadi seperti bernostalgia, kembali ke akademi ini seperti hanya mimpi. Tapi yah, aku sekarang harus lebih hati-hati atau penyamaranku akan ketahuan.'
Audrey berdecak. 'Lihat saja nanti, aku pasti akan meminta bayaran dari mereka! Mereka pikir aku ini--' Dia berhenti melangkah, tatapannya terpokus pada seorang pria dan gadis yang berjalan beriringan. Di mana si gadis yang menggandeng tangan pria itu dengan manja. 'Sialan! Kenapa aku harus bertemu mereka lagi??'
Audrey menunduk, dia berjalan pergi dan berusaha untuk menghiraukan Xavier yang berjalan masuk bersama Abella.
Setelah melewati mereka, Audrey menghela napas lega. Dia berjalan pergi sambil menggerutu.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Audrey meletakkan nampan dengan kesal, dia duduk di tepi kasur dan melipat tangannya di depan dada.
“Wah, kue.” Sato mengambil Daifuku di meja dan memakannya.
“Ada apa, Audrey? Kenapa kau terlihat sangat kesal?” tanya Erika, Audrey menggeleng.
“Tidak ada apa-apa, aku hanya bertemu masal lalu.”
“Masa.. lalu?” kata Kiara, Audrey mengangguk dan mencomot Dorayaki di meja.
“Ya, aku sedang sangat kesal sekarang!” kata Audrey sambil memakan Dorayaki, dia berdecak. “Rasanya sangat aneh,” gumam Audrey.
“Apa benar, sini biar ku coba.” Neon langsung saja merebut Dorayaki dari tangan Audrey dan memakannya. “Enak, kenapa kau mengatakan rasanya aneh?”
“Kau! Itu makananku!!”
“Kan masih banyak di piring, ambil saja yang lain.”
“Seharusnya kau yang mengambil yang baru! Itu sisaku!”
Kelima orang di sana menatap keduanya bergantian, Audrey yang terus mengomel dan Neon yang hanya membalasnya dengan acuh tak acuh.
“Ah, sudahlah. Aku sudah tidak mau.” Audrey berdecak kesal.
Suara ketukan pintu membuat tatapan mereka semua beralih, kecuali Erika dan Sato yang hanya fokus pada makanan di meja.
__ADS_1
“Siapa?” tanya Audrey, dia berdiri dan berjalan ke arah pintu.
“Aku, Xavier.”
Audrey berhenti bergerak, dia yang awalnya ingin membuka pintu kini hanya memegang kenop pintu tanpa memutarnya. “Ada urusan apa?”
“Aku ingin bicara, buka pintunya.”
Audrey berdecak, dia menoleh ke arah teman-temannya yang lain. Audrey menatap Sato dengan isyarat mata, gadis itu berdecak. Dia yang tengah sibuk makan berdiri dan berjalan ke arah pintu sementara Audrey bergeser ke belakang pintu.
Sato membukanya dengan kening berkerut. “Ada masalah apa?”
“Aku..” Ucapan Xavier terhenti saat matanya tidak sengaja menangkap beberapa orang di sana. “Apa kau di asrama ini sendirian?”
“I--”
“Sato, ayo cepat. Makanannya sebentar lagi akan habis,” kata Erika yang langsung memotong ucapan Sato, mata gadis itu membulat.
“Kalau tidak ada apa-apa, aku tutup dulu ya. Bay!” Sato langsung menutup pintu dan berlari ke meja, dia bernapas lega saat makanan di meja masih tersisa banyak. “Ish, kau membuatku terkejut. Aku pikir makanannya benar-benar akan habis.”
Erika berdecak. “Kalau mau mengomel, mengomel saja pada A-- Chelsea. Dia yang menyuruhku untuk mengatakan hal itu.”
“Chelsea, kenapa kau melakukan itu?” tanya Sato dengan wajah cemberut, Audrey menatapnya dingin. Sato langsung membekap mulutnya. “Aku tidak akan mengganggumu.”
Neon melihat arlojinya. “Besok, setelah pelajaran selesai. Kalian semua berkumpul di ruangan profesor, detail misinya akan diberitahu di sana.”
Audrey duduk di kursi, dia bersandar dan mengambil kue manju dari meja. Audrey memakannya sambil mengoceh tak jelas.
Setelah kue yang dimakannya habis, Audrey berdiri. “Aku ingin ke taman, apa ada yang ingin ikut.”
“Aku! Aku ikut.” Neon mengangkat sebelah tangannya sambil memakan mochi, dia berdiri. “Ayo.”
“Yang lain--”
“Mereka tidak ikut,” potong Neon cepat, dia menggenggam tangan Audrey dan menariknya keluar asrama.
“Neon menjadi aneh ya.”
“Hem, benar. Mungkin dia sudah jatuh cinta,” jawab Grace asal.
“Dengan Audrey,” lanjut Arden, Grace mengangguk membenarkan.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
“Wah, tamannya sangat indah. Ya.”
__ADS_1
Audrey mengusap telinganya, pria yang awalnya dingin tiba-tiba menjadi ceria saat masuk ke akademi. Benar-benar aneh. “Jangan berkeliaran seperti anak kucing, jika kau menghilang. Akan repot jadinya.”
“Kau pikir aku ini hewan yang bisa tersesat begitu saja?? Dengar ya, daya ingatanku ini sangat kuat. Sekali lihat saja, aku sudah hapal jalanannya,” kata Neon dengan bangganya, Audrey berdecak.
“Hm, terserah kau saja. Aku sedang pusing.”
“Ada apa?” tanya Neon setelah duduk di samping Audrey.
“Tidak ada apa-apa, aku hanya merasa tidak enak badan.” Audrey memijat pelipisnya pusing. 'Huh, kenapa aku harus bertemu dengannya lagi sih? Setelah lima bulan, bukannya dia menghilang. Aku malah bertemu dengannya lagi di tempat yang sama.'
“Kau suka bunga apa?”
Audrey menoleh ke arah Neon dengan kening berkerut. “Kenapa memangnya?”
“Tidak ada apa-apa, aku hanya bertanya.”
Audrey menoleh ke taman bunga di depannya. “Em, sepertinya aku menyukai banyak bunga. Seperti bunga mawar, Peony, bunga Lily dan anggrek.”
“Hem, kenapa kau menyukai anggrek?”
“Entahlah, aku karena warnanya yang indah.”
“Lalu makanan kesukaanmu?”
Audrey menoleh ke arahnya dengan kening berkerut. “Kenapa kau menanyakan pertanyaan rendom seperti itu?”
“Hanya bertanya saja.”
Audrey ber-ooh, dia menatap datar satu bunga yang ada di depannya. 'Veronika, aku tidak sabar untuk mencabik-cabik kau hingga mati. Tidak, tidak. Tapi hingga kau menginginkan kematianmu sendiri, benar kan. Laura.' Audrey tersenyum tipis, dia memetik bunga itu dan menghancurkannya.
“Ada apa?”
“Tidak ada apa-apa.” Audrey melempar bunga di tangannya sejauh mungkin.
“Apa kau sedang kesal?”
Audrey menoleh ke arah Neon dengan senyuman. “Tidak, aku hanya tidak sabar untuk melalukan janjiku.” Matanya berubah biru hijau bergantian, Audrey bersandar dan mendongak ke langit. 'Aku benar-benar tidak sabar untuk membuatnya tersiksa,' batin Audrey dengan mata berwarna hijau.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
“Hari ini, pelajaran sampai di sini. Kita juga mendapatkan murid baru, kalian berdua. Silahkan masuk.”
Seorang gadis berambut pirang berjalan masuk bersama pria berambut coklat, gadis itu terus bergumam tak jelas. “Mereka memperhatikanmu,” bisik Neon dengan senyum jail, Audrey berdecak.
'Kenapa tuhan sangat tidak adil? Kenapa aku malah harus sekelas dengan tiga orang ini? Astaga, apa salahku di kehidupan sebelumnya sampai-sampai mendapatkan nasib sial seperti ini.'
__ADS_1