Menjadi Antagonis Dalam Novel

Menjadi Antagonis Dalam Novel
Episode 53. Jeruji besi


__ADS_3

“Chelsea, jangan ikut dengannya! Kami pasti bisa mengalahkan mereka!”


Audrey tersenyum. “Tidak akan ada yang bisa menghabisi raja iblis, Mia. Aku akan kembali dengan baik-baik saja.”


“Tapi..”


“Ayo kita pergi!” Raymond mencengkram tangan Audrey dan menariknya pergi, gadis itu melirik ke belakang sambil mengikuti Raymond.


'Tidak masalah, aku pasti bisa menghabisinya sendiri! Aku akan berusaha agar tidak membuat siapapun menjadi korban dari ulahku!'


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


Raymond mendorong Audrey masuk ke sel dingin dan menguncinya. “Jika kau mencoba untuk kabur lagi, kau akan tau akibatnya!” desisnya, dia berjalan pergi dengan angkuhnya.


Audrey menghela napas pelan. “Aku tidak akan kabur sebelum membunuhmu, setelah itu. Aku akan mengurus Veronika dan Bella.” Dia memijat pelipisnya pusing. “Membalas dendam tiga orang itu benar-benar memusingkan.”


Seorang wanita bertelinga kucing berjalan ke arah sel Audrey dengan nampan di tangannya, dia membuka sel itu dan meletakkan nampan berisi makanan di depan Audrey. “Nona, makanlah ini. Aku akan.. berusaha untuk membantu Nona kabur dari Raja.”


Audrey berkedip dengan wajah bingung, dia memiringkan kepala ke samping. “Kenapa kau mau menolongku dan mengkhianati rajamu sendiri?”


Wanita itu menunduk. “Sebenarnya, keluargaku dibunuh oleh Yang Mulia Raja dan aku dibawa paksa kemari untuk melayaninya dan keluarganya yang lain.”


“Kaluarganya yang lain?” Audrey memegang dagunya berpikir, dia menatap Wanita. “Siapa saja keluarganya?”


“Kalau tidak salah, Raja memiliki seorang adik yang dia sayangi. Namanya Davide.”


“Davide,” gumam Audrey, dia kemudian tersenyum pada sang Wanita. “Em, aku mengerti. Terima kasih sudah mau memberiku makanan dan mengajakku berbicara.” Audrey melihat sekitaran. “Lebih baik kau cepat pergi atau para prajurit akan menyadari kehadiranmu di sini.”

__ADS_1


Wanita itu mengangguk, dia berdiri dan berjalan pergi. Wanita itu menatap Audrey sekilas sebelum mengunci sel.


Setelah kepergian Wanita itu, Audrey bersandar di sel besi dan memeluk kedua lututnya. 'Merepotkan, tapi seharusnya Davide itu sangat bodoh dan juga sangat polos meskipun menakutkan ketika marah. Jika aku bisa memanfaatkannya untuk mengeluarkan aku dari sini.. tapi itu tidak mungkin, aku tidak yakin dia akan ke penjara bawah tanah yang kotor dan dingin. Dia mengetuk-ngetuk dagunya berpikir. 'Bagaimana cara agar memancingnya kemari tanpa menaruh curiga pada siapapun?'


Hampir berjam-jam Audrey berpikir, dia masih juga belum mendapatkan ide yang bagus. Audrey mendongak ke jendela tinggi dan kecil yang ada di setiap sel.


Tiba-tiba, terdengar suara sel yang dibuka. Audrey mendongak, matanya membulat saat melihat siapa yang membuka selnya. Audrey segera berdiri. “Y-yang Mulia!” kata Audrey terkejut, dia menunduk dengan mata yang melirik ke arah lain. 'Kenapa Davide tiba-tiba datang tanpa sebab?'


Pria tampan dengan mahkota di kepalanya berjalan ke arah Audrey, dia mengangkat dagu gadis itu dengan jari telunjuk. Gadis itu terus menoleh ke arah lain dan tidak ingin melihat wajah pria di depannya. “Hm, jadi kau yang bernama Laura.”


Audrey menoleh ke arah Davide, dia segera mundur beberapa langkah dan menuduk. “Y-yang Mulia.. k-kenapa Anda bisa di sini?”


“Tidak ada apa-apa, aku hanya ingin melihat orang yang dimaksud Kakak dan berhasil mengontrol harimau putih ganas peliharaannya.”


“M-maaf, Yang Mulia. Saya tidak pernah bermaksud untuk melakukan hal itu,” kata Audrey dengan wajah bersalah dan polos, dia terus menunduk seolah tidak berani menatap pria di depannya. 'Menyebalkan! Jika bukan.. huh, tenang. Tenang, kau sudah biasa berpura-pura polos. Jadi seharusnya aktingmu kali ini akan sempurna.'


Davide melangkah ke arahnya namun Audrey juga tidak tinggal diam, gadis itu juga melangkah mundur hingga punggungnya menyentuh tembok. “Apa kau setakut itu padaku?”


“Jangan takut.” Davide mengangkat dagu Audrey. “Aku tidak akan menyakitimu seperti kakakku.”


“Maaf, Yang Mulia. Aku tidak bermaksud untuk menyinggung Anda, a-aku hanya takut Anda akan melukaiku seperti Yang Mulia Raja,” kata Audrey dengan wajah sok sedih, Dia mengangkat tangannya dan menepis tangan Davide pelan. Tanpa sengaja, luka lebam di tangannya dilihat oleh pria itu.


“Apa yang terjadi dengan tanganmu?” tanya Davide sambil menggenggam tangan Audrey.


“A-aku baik-baik saja, Yang Mulia.” Audrey menarik tangannya dan menutupi luka lebam itu. 'Itu luka lebam yang tidak disengaja saat aku menabrak sel, tapi setidaknya. Itu mirip seperti penyiksaan, kan?'


“Apa kakakku yang melakukannya?”

__ADS_1


Audrey menggeleng cepat. “T-tidak, Yang Mulia. I-ini salahku yang tidak hati-hati.”


“Yang Mulia, kenapa Anda di sini?”


Davide melirik ke belakang. “Seharusnya aku yang bertanya, kenapa kalian kemari?”


Para prajurit itu saling melirik. “Kami diperintahkan oleh Yang Mulia raja untuk membawa Nona Laura untuk menghadap Yang Mulia Raja.”


“Membawa ya? Lalu untuk apa cambuk dan kayu yang kalian bawa?” tanya Davide dengan tatapan mata dingin, Para prajurit itu langsung menunduk dengan badan gemetaran. “Jujur padaku atau kalian akan habis!”


“K-kami sebenarnya diutus kemari untuk menyiksa Nona Laura.”


Davide berdecih, dia melirik Audrey yang menunduk dengan badan gemetar. Pria itu menggenggam tangan Audrey dan membuat sang gadis mendongak, air mata terlihat jelas mengalir di pipinya. “Aku akan melindungimu, ayo kita keluar dari sini.”


“Tapi Yang Mulia, Yang Mulia Raja akan sangat marah jika tau Anda mengeluarkanku tanpa seizinnya,” kata Audrey dengan suara bergetar.


“Jangan khawatir, kakak tidak akan memarahiku dan dia tidak akan mengganggumu selama kau terus bersamaku.” Davide menarik Audrey keluar dari sel, para prajurit itu langsung memberi jalan.


Audrey tersenyum sangat tipis hingga tidak dapat di lihat jika tidak diperhatikan dengan teliti. 'Bagus, dia masuk dalam jebakan! Aku hanya perlu menambahkan bumbu-bumbu untuk menambah rasa. Yah, meskipun aku tidak menyangka mereka berdua akan tiba di saat yang sangat tepat.'


“Yang Mulia,” panggil Audrey ragu-ragu, Davide meliriknya sekilas. “Apa Yang Mulia.. akan membantuku? Mau bagaimanapun, Anda adalah adik Yang Mulia Raja. Aku takut, Yang Mulia Raja akan menghabisiku saat Anda tidak ada.”


“Jangan khawatir, Kakak tidak akan melukaimu ketika aku masih hidup. Aku berjanji soal itu.”


“Terima kasih, Yang Mulia,” cicit Audrey dengan wajah bersalah. 'Maaf, Davide. Tapi hanya kau yang bisa menjadi pionku di sini, meskipun kau mungkin akan dendam. Tapi aku tetap akan melakukannya!'


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ

__ADS_1


“Duduklah di sini, aku akan meminta pelayan untuk memberikan gaun baru untukmu.”


Audrey mengangguk patuh, Davide berjalan keluar dan menutup pintu. Gadis itu langsung menghela napas lega, dia bersandar di sandaran kursi dengan tatapan yang terarah ke jendela. 'Aku bisa saja kabur sekarang, tapi jika aku lakukan hal itu. Kemungkinan Raymond akan kembali menyerang akademi dan kembali mencoba merebut pohon sihir, tapi aku tidak yakin dia tidak akan mengincar pohon itu setelah mendapatkanku. Dia bisa saja meminta untuk memulihkan kekuatan sihirnya dan menjadi yang terkuat, tapi dia justru membawaku pergi. Itu sangat aneh dan menganggu.'


__ADS_2