Menjadi Antagonis Dalam Novel

Menjadi Antagonis Dalam Novel
Episode 30. penyerangan


__ADS_3

Audrey duduk di pembatas balkon, tatapannya begitu datar dan sulit diartikan. 'Maaf, Gina. Tapi kau yang melakukannya terlebih dahulu.'


Audrey mendongak ke langit yang berwarna biru cerah, matahari ditutupi oleh awan putih. “Sebentar lagi.” Dia tersenyum tipis. “Sebentar lagi semuanya akan selesai, tidak perduli apapun yang terjadi. Aku akan memberitahu pada kalian secara jujur saat waktunya tiba.”


“Audrey.” Suara berat nan bariton terdengar jelas dari belakang Audrey, gadis itu melirik ke belakang dengan senyuman tipis.


“Ada apa, Xavier? Kenapa kau datang ke kamarku sepagi ini?”


“Aku ingin menanyakan beberapa hal padamu.” Xavier melangkah mendekat, dia naik ke pembatas balkon dan duduk di samping Audrey. “Apa rencanamu selanjutnya?”


Audrey menoleh ke arah Xavier dengan kening berkerut. “Rencana apa?”


Xavier memutar bola matanya malas. “Soal pertunangan kita, kau pasti merencanakan hal aneh demi membatalkan pertunangan kita. Kan?”


Audrey menghela napas. “Aku tidak merencanakan apapun, setidaknya untuk beberapa hari ini.”


“Apa maksudmu dengan ‘beberapa hari ini’?”


“Tidak ada maksud apapun.” Audrey berdiri dan melirik Xavier. “Pergilah, aku ingin istirahat. Satu lagi, jika aku mengatakan hal aneh. Maka arti dari ucapanku adalah sebaliknya.” Dia berjalan masuk dan menutup pintu. Audrey duduk di tepi kasur sambil menghela napas, dia memegang jantungnya yang berdetak dua kali lebih cepat.


Helaan napas kembali terdengar darinya. 'Seharusnya tidak begini, kau tidak boleh. Lilia! Kau itu hanyalah jiwa yang masuk ke raga seseorang dan kau bukan dari dunia ini! Kau tidak boleh melakukan apapun yang akan membuatmu menyesal!!'


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


Awan mendung sentiasa menghiasi langit dab menutupi matahari, gemuruh petir terdengar beberapa kali.


Semua pintu dan jendela tiba-tiba terkunci, kamar Audrey yang awalnya tenang tiba-tiba mengeluarkan aura ungu kegelapan di dinding dan lantai. Sebuah jari kelingking muncul dari lantai, seperti awal. Jari itu dikelilingi aura ungu.


Jari itu bergerak ke arah Audrey yang tertidur lelap, jari itu tiba-tiba berubah menjadi bola sihir yang dikelilingi aura hitam. Bola itu terbang dan masuk ke tubuh Audrey.


“Kau tidak akan bisa menghancurkanku dengan mudah, sayang..” Suara-suara mengerikan terdengar menggema dari dinding dan tembok, setelahnya. Aura yang ada di kamar Audrey menghilang dan semuanya kembali normal. “Aku akan bertemu denganmu lagi, Pangerangku.”


Audrey membuka matanya, dia mengucek matanya dan bangun. Audrey melihat sekeliling namun tak merasa ada hal aneh. 'Kenapa aku seolah mendengar suara seseorang tadi?' Audrey menguap, dia berdiri dan berjalan ke kamar mandi dengan mata yang masih sedikit tertutup.


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ

__ADS_1


Seorang Pria mengetuk-ngetuk sandaran kursi dengan sebelah tangannya yang menopang dagu, senyum smirk terbit di wajah orang itu. Mata merah darahnya menatap datar ke foto seorang wanita cantik yang bingkainya dipenuhi darah. 'Sudah waktunya.. aku akan membawamu kembali, Dewiku.'


“Yang Mulia.” Seorang wanita paruh baya bertekuk lutut di hadapan orang itu.


“Beritahu dia untuk menyiapkan pasukan, aku akan menjemput dewiku sekarang,” titah Pria itu.


“Tapi, Yang Mulia. Bukankah Ratu sudah ma--” Wanita paruh baya itu tidak lagi melanjutkan kalimatnya karena sebuah aura yang melilit lehernya dengan erat hingga membuatnya sesak, dia menatap Pria yang duduk di singgasananya. Tatapan tajam terlihat jelas mengarah ke wanita paruh baya itu.


“Jika kau mengatakannya lagi, maka kau akan mati!”


Aura di leher wanita itu menghilang, dia langsung menunduk dengan napas yang tak karuan. “S-saya, mengerti. Yang Mulia.” Wanita itu dengan sekuat tenaga berdiri dan berjalan pergi.


Setelah pintu tertutup dan membuat ruangan itu kembali minim cahaya, pria itu berdecih. Tatapannya beralih ke foto wanita cantik itu, senyuman tipis muncul di wajahnya. “Ah, Laura. Sihir apa yang kau berikan hingga aku tidak bisa melihat siapapun kecuali dirimu.”


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


Audrey menyisir rambutnya, senyuman manis Sentiasa menghiasi wajahnya yang cantik. Dia berdiri dan berjalan ke cermin yang seukuran manusia, Audrey memperhatikan penampilannya. Gaun berwarna merah selutut, rambut yang diurai, aksesoris berwarna merah dan matanya yang berwarna hijau.


Audrey tersenyum hangat. “Aku telah kembali, setelah menunggu selama bertahun-tahun. Akhirnya aku akan kembali melihatmu, rajaku.” Dia berjalan keluar dengan angkuh.


Bukannya takut, Audrey justru mengembangkan senyum senang. “Bawa aku ke sana.”


“Tapi, Nona--”


“Antar aku ke sana!!” teriak Audrey, Gina langsung menunduk dengan badan gemetaran.


“T-tapi--”


Audrey mencengkram rahang Gina dengan erat, tatapan tajam tertuju pada gadis itu.


“B-baik.”


Audrey melepaskan cengkramannya, dia berdecih dan berjalan pergi terlebih dahulu.


'Kenapa sikap Nona tiba-tiba berubah?' batin Gina, dia segera berlari dan mengikuti Audrey yang menuruni tangga.

__ADS_1


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


Suara dentingan pedang terdengar jelas di halaman kediaman Grand Duke, para pengawal sibuk menghalangi monster-monster yang hendak menerobos masuk.


“Bagaimana ini kak? Mereka tidak ada habis-habisnya!” gerutu Mike sambil memotong kuku tajam yang mengarah padanya, Damien yang juga kewalahan hanya meliriknya sekilas.


“Jangan banyak bertanya! Fokus dengan tugasmu!”


Mike berdecak, dia melompat ke belakang dan menyerang beberapa monster dengan sihir bola api.


Suara terompet tiba-tiba terdengar dari belakang para monster, mereka langsung berlari pergi dan berbaris di depan gerbang.


“Grand Duke, serahkan Lauraku jika kau ingin selamat.”


Suara dingin terdengar dari para monster itu, segera. Beberapa monster memberi jalan, pria dengan pakaian kerajaan berwarna hitam ungu itu berjalan ke arah Grand Duke, Mike, dan Damien.


“Siapa kau?? Dan siapa Laura??” tanya Damien dengan pedang yang diarahkan ke pria itu, pria itu hanya melirik pedang yang mengarah di lehernya sekilas sebelum beralih ke Grand Duke yang menatapnya dingin.


“Dia tidak ada di sini!” jawab Grand Duke, pria itu terkekeh geli. Dia menatap Grand Duke dengan seringai yang tercetak di wajah tampannya.


“Apa maksudmu, Grand Duke? Dewiku pasti ada di sini, bukan?”


“Tidak!! Dia tidak ada di--”


“Yang Mulia.”


Grand Duke dan yang lainnya menoleh, Pria itu tersenyum ke arah seorang gadis dengan gaun merah. “Laura, akhirnya kau keluar.”


Gadis yang tidak lain adalah Audrey itu melangkah ke arah si pria dengan senyum menawan, dia langsung memeluk pria itu. “Aku sangat merindukanmu, Yang Mulia.”


“Ya, aku juga merindukanmu.” Pria itu membalas pelukan Audrey, keluarga Audrey yang lain menatap keduanya dengan tatapan bingung. Kecuali Grand Duke yang menatap dingin.


Audrey melepaskan pelukannya. “Apa kau tau, aku sudah menunggu selama bertahun-tahun hari ini. Hari di mana aku kembali bertemu denganmu setelah seratus tahun yang lalu.”


“Se-seratus tahun!??” kata Mike dan Damien dengan wajah tercengang, Audrey menoleh ke arah mereka dengan senyuman tipis.

__ADS_1


“Terima kasih sudah mau menjaga raga ini demi aku, ah tidak. Maksudnya, demi putri dan adikmu.”


__ADS_2