Menjadi Antagonis Dalam Novel

Menjadi Antagonis Dalam Novel
Episode 31. Kebenaran


__ADS_3

“A-audrey, apa maksudmu?” tanya Caesar yang baru saja datang, Audrey berbalik ke arah Caesar. Dia melingkarkan tangannya di lengan pria di sampingnya.


“Hay, kak Caesar. Ups, maksudku Tuan Muda Caesar. Kita bertemu lagi, aku Laura.”


“A-apa??”


“Ya, aku adalah Laura. Kau pasti mengingatku kan?”


Caesar mengepalkan tangannya. “Kenapa kau bisa kemari?”


Audrey menyentuh dagunya dengan jari telunjuk. “Ah, kenapa ya? Mungkin untuk mengambil sesuatu yang seharusnya menjadi milikku,” kata Audrey diakhiri seringai tipis.


“Laura, ayo kita kembali. Sepertinya semakin banyak bantuan yang mengarah ke sini.”


Audrey mengangguk, dia mengikuti pria itu. Namun langkahnya langsung terhenti saat seseorang menarik tangannya. “Ada apa?”


“Audrey, kenapa kau melakukan hal ini?? Kau tidak perlu ikut dengan mereka dan mengorbankan dirimu! Aku bisa menyelamatkanmu dan juga keluargamu!”


Audrey terkekeh geli, dia berbalik dan menatap pria yang masih menggenggam tangannya. “Yang Mulia, sepertinya kau salah paham. Aku bukan Audrey, Audrey sudah lama mati.”


“Apa maksudmu, Audrey?? Kenapa kau berkata seperti itu!?”


Audrey melepaskan genggaman pria di depannya, wajahnya menunjukkan keengganan. “Aku membencimu, Xavier. jangan pernah mendekatiku apalagi mendatangiku!”


Audrey berjalan pergi, Pria itu melirik Xavier sekilas sebelum mengikuti Audrey. Bersamaan dengan itu, para monster tadi berubah menjadi debu yang berterbangan di terpa angin.


“Apa maksudnya itu?” gumam Xavier sambil memperhatikan Audrey yang semakin menjauh dan menghilang.


“Yang Mulia.”


Xavier menoleh ke arah Grand Duke yang berjalan ke arahnya. “Bagaimana keadaan kalian?”

__ADS_1


“Kami baik-baik saja, saya hanya ingin mengatakan hal penting.”


“Apa itu?”


“Ini.. tentang Audrey.”


Tatapan mata Xavier berubah datar. “Ceritakan.”


“Sebenarnya, seribu tahun yang lalu..” Grand Duke mulai menceritakan kejadian yang terjadi seribu tahun yang lalu, dimana leluhur keluarga Grand Duke tidak sengaja membunuh gadis elf yang ternyata seorang ratu dari dunia iblis.


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


“Masuklah ke dalam, aku mempersiapkan kamar ini khusus untukmu.”


Audrey mengangguk. “Tapi, bukankah kamar ini tidak seperti kamarku yang dulu?”


“Memang benar, tapi aku membuatkan kamar ini khusus untukmu.”


“Benarkan?” tanya Audrey dengan wajah berseri-seri, pria itu mengangguk. Dia berdehem.


Audrey mengangguk antusias, dia berjalan masuk ke dalam namun tak dapat melihat apapun karena ruangan yang gelap gulita. Pintu di belakangnya tiba-tiba tertutup sendiri, Audrey dengan panik mengetuk-ngetuk pintu dan memanggil nama pria itu namun tidak ada balasan sama sekali.


Tiba-tiba, terdengar suara raungan dari belakang. Audrey terdiam kaku, badannya seolah tidak bisa digerakkan.


Dia berbalik, matanya langsung membulat saat melihat sebuah harimau raksasa berwarna putih yang terkurung di hadapannya. Harimau itu terus meraung dan menatap Audrey seolah siap menerkam gadis itu kapanpun.


Audrey terduduk di lantai, badannya gemetaran tanpa bisa dicegah. “M-monster ini.. monster ini yang membunuhku,” gumam Audrey, matanya seolah memanas. Setetes demi setetes air mengalir di pipinya. “M-mustahil kan, ini tidak mungkin. Raymond--”


“Benar, aku yang menghabisimu.”


Audrey mendongak ke atas kandang yang mengurung harimau itu, pria tampan yang awalnya tersenyum hangat beberapa menit yang lalu kini berubah. Menatapnya dengan seringai dan senyum puas.

__ADS_1


“Ya, Laura. Aku yang menghabisimu, harimau ini adalah peliharaanku. Seribu tahun yang lalu, kau mati karena dia. Dan hari ini, kau akan kembali mati karena dia juga.”


“Raymond, kenapa.. kenapa kau melakukan hal ini?” tanya Audrey, dadanya terasa sesak. Pria yang dicintai selama bertahun-tahun, ditunggu selama seribu tahun itu ternyata menghabisi dirinya.


Raymond tertawa, dia menatap Audrey sambil mengusap setitik air mata yang mengalir di wajahnya. “Kau tau kan, darahmu itu adalah darah elf. Dan dengan darah dan dagingmu, harimauku ini akan semakin kuat dan tidak terkalahkan. Dengan begitu, aku bisa menguasai dunia ini dan menjemput Veronika.”


“A-apa? Kakakku? Tapi dia juga seorang elf!!”


“Oh, kau sungguh polos. Laura, Veronika adalah setengah iblis dan juga elf. Jadi tentu saja, kekuatannya tidak sebanding dengan elf sepertimu. Lagipula, aku mencintai Veronika dan kami akan bersama setelah kematianmu. Tapi sepertinya semuanya tidak sesuai rencana, Veronika menginginkan agar dia yang membunuhmu di kehidupan kedua sebelum kami menikah. Itu sebabnya aku memindahkan jantungmu pada putri Grand Duke agar kau hidup kembali sebagai dia dan Veronika bisa menghabisimu.”


Audrey menunduk dengan wajah tak percaya, dia menggeleng dan menutupi wajahnya dengan kedua tangan dan menangis.


“Kau memang sangat polos, Laura. Kau bahkan tidak bisa membedakan mana yang baik dan yang buruk.” Raymond melompat turun dan berdiri di depan Audrey. “Hanya dengan beberapa kata manis saja, kau langsung jatuh cinta dan menyerahkan semua hidupmu. Sungguh gadis yang bodoh.”


“Kenapa, kenapa kau melakukan ini. Raymond? Kenapa kau menyukai kakakku??” tanya Audrey alias Laura di sela-sela tangisannya, Raymond yang tengah menatap monsternya melirik Laura.


“Karena, kakakmu lebih cantik. Laura, dia lebih hebat, kuat dan juga mempesona.” Reymond berjongkok di depan Laura dan mengangkat dagu gadis itu, dia menatap serius wajah Audrey seolah tengah menilainya. Setelah terdiam cukup lama, dia tersenyum. “Wajahmu yang sekarang memang sangat cantik, tapi kau tidaklah sekuat dan sehebat Veronika. Dia itu bagaikan seorang Dewi yang datang ke bumi, sementara kau.” Reymond berdiri dan menatap hina Laura. “Hanyalah sebuah sampah yang tidak seharusnya berada di samping Veronika.”


“Laura, nikmatilah masa-masa terakhirmu.” Raymond berjalan keluar dan menutup pintu, Laura memeluk kedua lututnya sambil menangis sesegukan.


Tidak lama setelahnya, Laura tiba-tiba tertawa. “Cinta? kata-kata manis? Janji? Semuanya hanyalah pura-pura, Laura. Kenapa kau begitu bodoh sehingga percaya dengan omongan pria yang baru kau kenal!!”


Laura menutup matanya, rasa sesak di dadanya membuatnya seolah tidak bisa bernapas.


“Laura, dia itu bukanlah pria baik!!”


Laura membuka matanya, ucapan terakhir sang ibu kembali terngiang-ngiang di telinganya. “Maaf, Ibu. Aku, aku benar-benar bodoh.” Laura membenamkan wajahnya di antara lutut, dia benar-benar menyesal tidak mendengarkan ucapan orang tuanya yang terus menasehatinya untuk mendekati Raymond. Si raja iblis yang memiliki banyak tipu daya.


Hatinya benar-benar hancur berkeping-keping, Laura mengepalkan tangannya. Dia mendongak dan menatap datar harimau yang berusaha menerkamnya. Laura mengusap wajahnya kasar. “Jika dulu aku melakukan kesalahan, maka kali ini tidak lagi! Aku akan membalas dendam, membalas dendam atas semuanya.” Air mata mengalir di pipinya tanpa bisa dihentikan. “Membalas dendam.. atas kematian ibu dan ayah,” kata Laura terisak.


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ

__ADS_1


“Apa maksudmu untuk tetap tenang?? Audrey dibawa oleh raja iblis, dan kau menyuruhku untuk tenang!??” Xavier melempar pot bunga hingga hancur berkeping-keping, Zachary menghela napas.


“Kau ingin menyelamatkan Audrey bukan? Maka jangan bertindak gegabah atau dia akan mati sebelum kau sampai.”


__ADS_2