
'Apa yang terjadi?' bingung Audrey.
“Audrey!”
Gadis yang dipanggil menoleh ke asal suara, senyuman manis mengembang di wajahnya ketika melihat siapa yang datang.
“Selamat pagi, Kak Mike.”
Mike mengusap rambut adiknya lembut dengan senyum di wajahnya. “Selamat pagi, bagaimana kabarmu?”
“Aku baik, bagaimana kabar Kak Damian?”
“Kak Damian sudah lebih baik, dia mungkin sedang berjalan-jalan di taman kekaisaran.”
Audrey mengangguk. “Lalu, Kakak tidak ke akademi?”
“Aku sedang libur, itu sebabnya tidak ke akademi. Dimana Kak Caesar dan Ayahanda?”
“Ayahanda ada di ruang kerjanya, kalau Kak Caesar. Mungkin dia ke kamarnya,” tebak Audrey sambil mengetuk-ngetuk dagunya, Mike mengangguk.
Dia mengusap rambut Audrey dan berjalan masuk ke ruangan Grand Duke.
Audrey kembali duduk di sofa, dia bersandar dan menghela napas. 'Aku sendirian lagi.'
Suara pintu terbuka membuatnya menoleh.
“Kak, Mi-ke.” Sebelum dia melanjutkan ucapannya, Mike sudah lebih dulu pergi seperti Caesar. Entah apa yang dibicarakan oleh Grand Duke hingga keduanya menjadi acuh padanya.
'Sebenarnya ada apa sih? Kenapa mereka sangat aneh, tadi Caesar. Sekarang Mike, apa Damian juga akan sama seperti mereka??'
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Audrey menatap hamparan bunga di depannya dengan tatapan datar, dia datang ke kekaisaran untuk bertemu Damien. Namun niatnya diurungkan ketika ingat Damien tengah beristirahat.
Audrey mengambil bunga Peony berwarna pink, dia menatap lekat bunga di tangannya itu.
“Cantik, bukan?”
Audrey melirik ke belakang. “Ya, bunga Peony memang selalu cantik. Apa Anda perlu sesuatu, Yang Mulia?”
Audrey berbalik ke arah pria dengan pakaian pangeran, dia kemudian menunduk sopan sambil memegang bunga di tangan kanannya.
“Salam, Yang Mulia.”
Pangeran berjalan ke arahnya dan mengambil Peony di tangan Audrey, dia menatap Peony itu sambil melirik ke arah Audrey.
“Apa kau menyukai Peony?”
“Benar, Yang Mulia. Menurut saya, Peony lebih baik dari bunga manapun.”
“Heh?” Pangeran memberikan Peony itu pada Audrey, dengan wajah bingung. Dia mengambil Peony itu.
“Kita sudah berteman, lain kali. Panggil aku Zachary atau Zac.” Pangeran berbalik dan melambaikan tangannya.
“Eh?” Audrey memegangi bunga di tangannya, dia kemudian menunduk sopan.
“Baik, Yang Mulia.” kata Audrey, tanpa dia sadari. Zachary menyeringai sambil meliriknya. Audrey berbalik dan berjalan pergi sambil menyunggingkan senyum misterius.
__ADS_1
'Terperangkap.'
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
“Selamat siang, ini kubawakan bunga mawar untuk Kakak.” Audrey menyerahkan bunga mawar yang dia ambil saat hendak kemari, Damian tersenyum tipis dan mengambil mawar itu.
“Terima kasih, apa bunga Peony itu juga?”
Audrey melirik bunga yang dia sembunyikan, dia tak menyangka kalau Damian akan melihat bunga itu. Audrey memperlihatkan bunga Peony itu dan tersenyum tipis.
“Bunga ini milikku, kakak tidak boleh mengambil yang ini.”
“Eh, apa ada yang memberikannya?” tanya Damian dengan senyum jail, Audrey menatapnya dengan senyum penuh arti.
“Baik, baik. Kakak menyerah, terima kasih untuk bunganya,” kata Damian sambil mengangkat kedua tangannya.
“Sama-sama, Kakak istirahatlah. Aku akan keluar.” Audrey berjalan pergi dengan wajah yang dibuat sedatar mungkin, dia menutup pintu kamar Damian tanpa berbalik.
“Damian.”
Damian menoleh ke arah balkon, seseorang kini tengah berdiri sambil membelakangi Damian. Wajahnya yang semula tersenyum menjadi sedih.
“Apa kita harus melakukannya?”
“Ya, Damian. Tidak ada cara lain, kita harus menghabisinya sebelum dia mengumpulkan kekuatannya.”
“Tapi dia adik kita, Kak!”
Pria itu menghela napas, dia berbalik dan berjalan ke arah Damian. “Dia bukan adik kita, Damian. Dia hanyalah parasit!”
“Tap--”
Damian menghela napas lelah, dia menatap bunga mawar di tangannya. 'Apa aku harus?'
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
'Apa maksud mereka berdua? Apa mereka ingin menghabisiku, tapi kenapa?' Audrey menghela napas dan bersandar.
Audrey kembali menghela napas, awalnya dia pikir. Dia bisa mengoreksi informasi dengan menguping pembicaraan Caesar dan Damian, tapi ternyata itu malah membuatnya menjadi sedih.
'Apa maksudnya coba? Kenapa Kak Caesar memanggilku parasit? Apa aku ini memang sebegitu jahatnya sampai harus dibasmi??'
Audrey menggerutu, dia berdiri dan berjalan pergi sambil menghentakkan kakinya karena kesal.
'Lihat saja, akan kubuktikan aku ini tidak jahat dan bukan seorang parasit!'
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
“Nona Audrey, ini kue Anda.”
Audrey melirik ke arah pelayan yang membawa nampan berisi beberapa jenis kue.
“Tidak mau! Lagipula, aku tidak meminta kue!”
“Tuan muda Caesar yang meminta saya untuk mengantar kue ini untuk Anda,” jawab Pelayan itu, Audrey mengerutkan keningnya.
Dia mengambil nampan itu. “Sudah kuterima, pergi sekarang!”
__ADS_1
Pelayan itu membungkuk hormat, dia kemudian berjalan keluar dan kembali menutup pintu kamar Audrey.
Gadis itu menatap berbagai jenis kue yang tampak menggugah selera, namun dia sama sekali tidak berniat memakan kue itu.
Dia mengambil satu dan menghancurkannya, Audrey tersenyum masam.
'Apa mereka ingin meracuniku?' Audrey berdiri dan berjalan ke jendela dengan nampan di tangannya, dia kemudian melempar nampan itu dan menutup jendelanya.
'Apa kalian sebegitu ingin menghabisiku, Kakak.' Audrey berbalik, dia berjalan ke arah kasurnya dan duduk di tepi kasur.
Audrey berbaring dan menutup matanya, dia sekarang sedang sangat malas untuk keluar dari kamarnya.
Audrey tanpa sengaja mendengar suara pintu kamarnya dibuka, dia tetap menutup matanya dan tenang seolah benar-benar telah tertidur lelap.
Langkah beberapa orang membuat Audrey merasakan hal aneh.
“Sepertinya, obatnya telah bekerja.”
“Mike, Kak. Ayahanda, apa kalian yakin ingin melakukan hal ini?”
“Jangan menjadi lemah, Damian. Dia itu adalah monster yang akan menghancurkan keluarga kita!!”
'Mereka benar-benar ingin menghabisiku, ya?' batin Audrey, dia tersenyum miris dalam hati.
“Ayahanda, ini belatinya,” kata Caesar.
“Ayahanda, apa kau--”
“Damian, jangan menganggu konsentrasi ayahanda!”
Terdengar suara langkah kaki menjauh, Audrey menduga. Itu suara langkah kaki Damian yang membuka pintu dan berjalan pergi.
“Kalian berdua, berbaliklah.”
“Kami akan menunggu di balkon,” kata Mike, dua suara langkah kaki menjauh kembali terdengar.
“Maaf.” Terdengar suara Grand Duke dengan jelas.
“Ayahanda, apa kau ingin menghabisiku?” Audrey membuka matanya, dapat dia lihat Grand Duke yang tengah mengangkat belati itu tampak terkejut.
“Audrey, kau--”
“Ada apa, Ayahanda??”
Audrey menoleh ke arah Mike dan Caesar yang sama-sama terkejut, tatapannya beralih ke Grand Duke. Dengan senyuman tipis, dia kembali bertanya.
“Apa Ayahanda ingin menghabisiku?”
Grand Duke menjatuhkan belati di tangannya hingga menimbulkan suara dentingan.
“A-audrey, kau salah paham..”
“Ya, Ayahanda. Aku benar-benar salah paham, aku pikir kalian sayang dan tidak ingin kehilanganku. Tapi kalian malah ingin membunuhku.”
“Tidak Audrey, kau salah paham. Ayahanda tidak ingin mem--”
“Tidak ingin membunuhku?” Audrey terkekeh geli. “Lalu kenapa Ayahanda, Kak Caesar dan Kak Mike memberikan obat tidur di makananku? Ingin membunuhku ketika aku tertidur?”
__ADS_1
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ