Menjadi Antagonis Dalam Novel

Menjadi Antagonis Dalam Novel
Episode 50. Persiapan


__ADS_3

“Anda sedang apa di sini, Yang Mulia?”


“Audrey, kita perlu bi--”


“Aku bukan Audrey!” kata Audrey cepat, Xavier menghela napas.


“Chelsea, kita perlu bicara.”


“Maaf, Chelsea tidak ada waktu.” Neon menggenggam tangan Audrey dan menariknya pergi, Audrey melirik Xavier sekilas.


Dia menghela napas. “Terima kasih, Neon. Aku memang mau menjauhi Xavier.”


“Audrey, aku ingin bertanya satu hal.”


Audrey menoleh ke arah Neon dengan wajah bingung. “Apa?”


“Apa kau.. menyukai Putra Mahkota.”


Audrey terdiam, dia tersenyum miris. “Entahlah,” gumam Audrey. 'Suka? Kalaupun aku menyukainya, aku harus apa? Dia adalah penyebab kematian Audrey dan aku harus melepaskannya begitu saja, aku juga bukan pengecut. Entah dibunuh atau membunuh, tapi aku pasti akan melakukan apapun demi dendam dan janjiku di masa lalu!' Audrey mengepalkan tangannya, dia menatap Neon dengan senyuman manis.


“Tidak, aku tidak menyukainya sama sekali,” kata Audrey tanpa ragu, dia menunduk. 'Ya, memang begitu seharusnya. Aku tidak boleh menyukai orang yang akan membuatku tersiksa di masa depan, oleh sebab itu. Aku harus menghilangkan perasaan ini dan membunuhnya sesegera mungkin!'


“Chelsea, akhirnya kau datang juga.”


Audrey mendongak, dia yang sedari tadi melamun tidak menyadari kalau mereka telah sampai di taman belakang akademi.


“Ayo cepat, hari sudah sore.” Erika, Sato, dan Arden pergi ke arah timur, barat, dan selatan. Neon menoleh ke arah Audrey.


“Kau ke Utara, aku yang akan mengintai di atas.”


Audrey mengangguk, dia berjalan pergi dan menghilang dari kejauhan. Neon menghela napas, dia berbalik dan berjalan pergi. 'Jangan khawatir, aku akan membantumu untuk menghilangkan perasaanmu pada Xavier.'


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


'Hem, sepertinya tidak ada yang aneh malam ini.' Audrey melihat sekeliling, namun dia tak melihat hal yang mengganjal sama sekali. Audrey menghela napas.


Tiba-tiba, suara lonceng membuatnya terkejut. Audrey menoleh ke belakang, suara lonceng itu terdengar nyaring. 'Apa yang..' Dia menoleh ke belakang, tiba-tiba. Muncul segerombolan monster yang mengarah padanya. 'Yang benar saja!' Audrey melompat turun dari tembok tinggi dan berlari ke arah akademi.

__ADS_1


“Semakin banyak monster yang berkumpul!” lapor Audrey, Neon mengangguk pelan.


“Aku tau, Profesor sedang mengumpulkan murid-murid yang lain. Untuk sementara, usahakan untuk menahan para monster sampai persiapan selesai.” Neon menoleh ke arah yang lainnya. “Erika dan Grace, Sato dan Arden, Kiara dan Aud--”


“Aku akan sendiri,” jawab Audrey cepat.


“Tapi Audrey, itu terlalu berbahaya.”


Audrey menyeringai. “Jangan khawatir, aku memiliki senjata lain.” Dia membungkuk dan mengambil pedang di tanah.


Neon menghela napas. “Baiklah, aku akan bersama Kiara. Erika kau ke timur, Sato ke selatan dan Audrey ke barat.”


“Baik.”


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


Audrey tersenyum tipis. “Kalian itu merepotkanku ya, siapa yang tau kalian akan diam-diam menyelinap dan mengikutiku,” gumam Audrey, dia melirik Harimau putih besar yang berdiri di sampingnya.


“Black, kau sembunyilah. Aku tau kau bisa membantu kami, tapi aku tidak ingin kau terluka. Dan untuk White, dia pasti akan baik-baik saja.” Audrey melirik ke bawah, Anjing hitam setinggi lututnya melolong panjang.


Audrey memegang erat pedang di tangannya, dia menghela napas. “Ayo kita mulai.” Dia berjalan dengan tenang ke arah para monster, Audrey mulai menyerang para monster dengan bantuan White. Namun mau bagaimanapun, mereka tetap kewalahan dengan jumlah para monster yang lebih banyak.


Cakar tajam itu mengarah ke kepala Audrey, namun dengan cepat disadari oleh gadis itu. Dia menghindar namun tetap terkena cakar tajam dari belakang, dia meringis saat sebuah cakar besar mengenai bahunya.


Audrey berdecih, dia langsung menghabisi para monster di sekitarnya. 'Fokuslah, Audrey! Fokus!!' Audrey masih terus menyerang beberapa monster meski rasa sakit di bahunya membuat tangannya mati rasa.


Meskipun demikian, dia tetap berusaha untuk menghabisi para monster sebisa mungkin. Namun, tidak berselang lima menit. Pedang di tangannya terjatuh, Audrey menatap tangannya yang bergetar. “A-apa yang terjadi?”


Tiba-tiba, sebuah pedang menembus perutnya. Audrey terdiam dengan mata membulat, dia menatap pria bertopeng yang berdiri di depannya. “E-er??”


Pria itu hanya menatap datar Audrey. “Bukan.” Dia membuka topengnya dan membuat Audrey semakin terkejut.


“Ray-mond!!”


Raymond menyeringai. “Heh, kau tidak akan bisa lari dariku lagi. Laura.” Dia mengusap wajah Audrey, gadis itu bertekuk lutut sambil memegangi pedang yang masih berada di perutnya.


“Sialan! Kenapa kau kemari lagi??” tanya Audrey yang mendongak, Raymond berjongkok.

__ADS_1


“Kau tau kan, Laura. Kau itu sangat penting bagiku, kau itu bagaikan.. sebuah nyawa untukku.”


Audrey berdecih. “Kau pikir kau bisa membawaku lagi, mungkin di masa lalu aku mengikutimu dengan sepenuh hati. Tapi hari ini, aku akan berjuang hingga mati. Tidak perduli apapun yang terjadi!”


Raymond tertawa terbahak-bahak, dia mencengkram rahang Audrey dengan wajah dingin. “Jangan terlalu sombong, Laura. Aku akan mendapatkan apapun yang aku mau, termasuk kau.”


Audrey menatap jijik. “Jangan harap, lebih baik aku mati daripada ikut denganmu!”


“Kau!” Raymond menampar wajah Audrey namun seseorang sudah lebih dulu menahan tangannya.


“Jangan pernah melukai seorang gadis, Raja iblis,” kata Eryk, sebelah tangannya memukul perut Raymond dan membuatnya mundur beberapa langkah.


“Eryk, kenapa kau kemari. bodoh!”


“Kau yang bodoh! Seharusnya kau tidak maju sendirian, kau pikir kau bisa mengalahkan semuanya! Dan lagi, kenapa kau tidak menggunakan sihir penyembuhanmu,” kata Eryk sambil berjongkok dan menyentil dahi gadis di depannya.


Audrey tersenyum miris. “Sihir penyembuhan? Aku bahkan tidak memiliki sihir sama sekali sekarang.”


“Apa??”


“Cih, kenapa kau menganggu urusanku dengan Laura!?”


Eryk melirik ke belakang, dia menghela napas. Eryk berdiri dan membelakangi Audrey. “Dia bukan Laura, gadismu telah mati seribu tahun yang lalu.”


Raymond berdecih. “Kau itu terlalu polos, Tuan Archduke. Mungkin Laura memang telah mati, tapi kekuatan dan jiwanya telah bersatu dengan Audrey.”


Eryk mengerutkan keningnya. “Apa maksudmu? Apa kau melakukan..”


“Ya, ritual terlarang yang bisa memindahkan jiwa seseorang. Aku melakukan saat aku sudah membunuh Laura.”


Eryk mengeluarkan pedang dari sarung pedangnya, dia menatap datar Raymond. “Aku tidak akan membiarkan dia ikut denganmu.”


“Heh, memang bocah ingusan sepertinya bisa mengalahkanku.”


“Ya, bukan hanya aku saja yang akan melawanmu.” Eryk melirik ke belakang. Mia, Clare, Adriana, Chiara, Xavier, Mike, dan yang lainnya berdiri tak jauh dari tempat ketiganya.


“Nona Chelsea!” Mia berlari ke arah Audrey, dia berjongkok dan melihat luka Audrey. “Lukamu sangat dalam, aku harus menyembuhkannya. Tapi sebelum itu.. aku harus mencabut pedang di perutmu.”

__ADS_1


Audrey menghela napas. “Tidak perlu, aku yang akan mencabutnya sendiri.”


“Itu mustahil! Tolong jangan keras kepala, jika sedikit saja salah. Kau bisa langsung tiada!”


__ADS_2