Menjadi Antagonis Dalam Novel

Menjadi Antagonis Dalam Novel
Episode 13. Satu tim dengan Protagonis


__ADS_3

“Semuanya, kali ini kita akan melakukan hal yang berbeda dari biasanya.”


Audrey mengorek telinganya, dia dengan malas menatap profesor yang tengah menjelaskan sesuatu.


“Kalian akan dibagi menjadi beberapa tim dengan lima anggota, dan anggotanya akan dipilih secara acak oleh para profesor,” lanjut Profesor di depan podium, dia mengangkat kertas yang dia bawa tadi dan mulai menyebutkan nama satu persatu.


“Tim 1. Mia, Clare, Evan, Davide, dan Armand.”


Tiba-tiba, seseorang mengangkat sebelah tangannya dan membuat tatapan semua siswa-siswi beralih ke dia. Mia, gadis itu berdiri dengan senyum manis yang Sentiasa menghiasi wajahnya yang cantik.


“Maaf atas ketidaksopanan saya, Profesor. Tapi Davide dan Armand dari kelas A². Sementara Evan dari kelas B¹. Apa pembagian timnya sudah benar? Karena disini, kita menggunakan murid kelas lain,” jelas Mia secara terang-terangan.


“Mia, pembagian tim kali ini berbeda dari biasanya. Kali ini, tim kalian akan digabungkan dengan murid-murid dari kelas lain. Entah itu dari kelas A, B, atau C. Sementara kelas E ke belakang tidak dianjurkan untuk mengikuti pelajaran kali ini karena berbahaya.”


Mia mengangguk mengerti, dia kembali duduk di kursinya dan membuat Profesor wanita itu tersenyum.


“Tim 2. Adriana, Chiara, Marcello, Leon, dan Lorenzo.”


Profesor kemudian menyebutkan nama-nama murid-murid yang mengikuti tim 3, 4, 5, 6, dan 7.


“Tim 8. Audrey, Abella, Eryk, Zachary, dan Xavier.”


Tiba-tiba, murid-murid mulai berbisik. Audrey yang tidak perduli juga sampai tersedak salivanya sendiri karena terkejut bukan main.


'Zachary? Xavier?? Apa!? Bukankah mereka seharusnya belajar di akademi militer kekaisaran, kenapa kedua pangeran bodoh plus gila itu ada di sini??' Audrey memijat pelipisnya pusing, dia mengangkat sebelah tangannya.


“Iya, ada apa Audrey?” tanya Profesor.


“Profesor, apa aku bisa mengganti rekan timku?”


Profesor mengerutkan keningnya, dia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Audrey. Apa gadis itu membenci Abella?


“Maaf Audrey, tapi ini diputuskan secara acak dan tidak bisa diubah.”


“Tapi aku tidak ingin setim dengan mereka, profesor!” kata Audrey tertekan.

__ADS_1


“Apa kamu sebegitu membencinya Abella--”


“Yang saya maksud itu Zachary dan Xavier!!” tegas Audrey, murid-murid menatapnya dengan wajah terkejut. Tidak ingin satu tim dengan Zachary dan Xavier??


Bagi semua siswi, satu tim dengan keduanya adalah hal yang paling beruntung dan menyenangkan. Selain karena keduanya adalah pangeran dari kekaisaran, keduanya juga termasuk pria tertampan di akademi dan dikejar oleh banyak siswi. Bukan hanya dari akademi itu saja, siswi dari akademi lain juga sering berkunjung hanya untuk melihat wajah tampan kedua pangeran kekaisaran itu.


“Maaf, Audrey. Keputusan dari para Profesor sudah bulat dan tidak bisa diganggu gugat!”


Audrey duduk di kursinya dan memijat pelipisnya pusing, dia benar-benar akan gila saat itu. Satu tim dengan orang yang berusaha dia hindari? Takdir memang sulit ditebak.


Audrey mengumpat dalam hati, dia rasanya ingin menghilang ditelan bumi daripada bertemu dengan kedua Protagonis yang akan membahayakan kehidupannya di masa mendatang.


“Pelajaran hari ini selesai, kalian akan berangkat siang nanti. Jadi siapkan barang-barang yang akan kalian bawa.”


“Apa perlu? Memang kami perlu menginap?” tanya Clare, Profesor menghela napas.


“Benar, kalian akan menginap beberapa hari sebelum misinya selesai. Jika misi tidak dilaksanakan dengan baik, maka kalian akan diberi hukuman dan di skors selama seminggu!”


Clare berdecih, dia paling tidak suka tinggal di tempat yang kumuh dan kotor. Dan sepertinya misi yang diucapkan profesor adalah misi yang paling dia benci.


“Jika tidak ada pertanyaan lagi, kalian boleh kembali ke asrama dan berberes-beres.” Profesor berjalan keluar, setelah itu. Semua murid mulai berhamburan keluar, kecuali Audrey dan Mia yang masih berada di dalam kelas.


“Apa kau tidak menyukai keduanya?” tanya Mia, Audrey yang tengah menelungkupkan wajahnya menoleh ke arah Mia.


“Ya, aku sangat, sangat membenci mereka.”


“Kenapa kau membenci mereka? Mereka itu idaman para gadis, kau sangat beruntung karena bisa satu tim dengan tiga pria yang populer di akademi.”


“Hahaha, beruntung? Aku justru merasa hari ini adalah hari sialku,” gumam Audrey, dia berdiri dan berjalan pergi. Mia memperhatikan Audrey dengan wajah polosnya yang mungil.


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


Audrey memasukkan barang-barang ke dalam tas dengan kesal, dia kini tidak memperdulikan barang-barang yang berantakan di dalam tas.


“Ada apa? Kau begitu terlihat kesal.”

__ADS_1


Audrey menoleh ke asal suara, matanya seketika berbinar saat mengetahui siapa yang datang menyelinap lewat balkon.


“Er? Kau di sini?? Bagaimana kau bisa masuk? Tunggu, apa kau menyelinap? Apa ada yang melihatmu?” tanya Audrey bertubi-tubi.


“Nanti kuceritakan, apa yang terjadi?”


Audrey menghela napas dan menutup tasnya. “Aku akan berkemah di suatu tempat.”


“Memang kenapa? Bukankah itu hal bagus, lalu kenapa ekspresimu seperti ikan yang ingin digoreng hidup-hidup?”


Audrey menatap datar Er, bisa-bisanya pria berjubah itu menyamakan dirinya dengan ikan. Audrey duduk di tepi kasur.


“Yang membuatku tertekan dan kesal itu adalah satu timku, aku masih menerima jika satu tim dengan Abella. Tapi Eryk, Zachary dan Xavier? Aku tidak bisa satu tim dengan mereka, aku bisa-bisa gila karena mereka bertiga.”


“Gila bagaimana? Mereka itu bukankah sangat tampan dan populer.”


Audrey melirik Er, entah kenapa dia tumben sekali berkomentar tentang hal yang menurutnya tak penting.


“Hah, dengar ya. Pertama, Eryk. Cowok narsis yang sok tampan! Dua, Zachary yang playboy dan narsis. Ketiga, si kutub Xavier. Bagaimana aku tidak gila jika bersama ketiga manusia aneh itu!”


Er tidak bisa tidak tertawa mendengar celoteh Audrey, gadis itu benar. Jika satu tim dengan pria playboy, narsis dan sedingin kutub. Itu benar-benar hal yang mengerikan.


“Jangan tertawa! Kau membuatku malah semakin kesal!!” Audrey berdiri dan membawa tasnya keluar dari asrama, Er menatap punggung Audrey yang menghilang ditelan pintu.


“Selamat siang, Nona cantik. Kita selalu bertemu ya, apa kita memang benar-benar jodoh,” kata Zachary diakhiri kedipan mata, siswi yang melihatnya berteriak histeris.


Namun Audrey justru mengabaikannya, dia memasukkan tasnya ke dalam kereta kuda dan menatap ke arah Abella dan timnya yang lain.


“Ada dua kereta kuda, Aku dan Bella akan satu kereta. Kalian bertiga di kereta kedua.”


“Kenapa? Bukankah lebih baik jika kita semua satu kereta,” jawab Eryk dengan wajah masam, Audrey meliriknya sinis.


“Bella, bagaimana menurutmu?”


“Menurut saya, yang dikatakan Nona Audrey benar. Lebih baik kita memisahkan pria dan wanita agar jika terjadi sesuatu, tidak perlu berdesak-desakan keluar.”

__ADS_1


Audrey mengangguk membenarkan, dia kemudian menarik tangan Abella dan memasuki kereta pertama. Sementara para pria memasuki kereta kedua, barang-barang mereka ada di kereta yang mereka naiki masing-masing.


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


__ADS_2