
Tubuh Audrey menegang, ocehan yang hendak dia keluarkan langsung tertahan di tenggorokan saat seseorang yang terus mengetuk pintunya tiba-tiba memeluknya dengan sangat erat. “K-kau??”
“Audrey, kau darimana saja? Aku benar-benar sangat menghawatirkanmu.”
Gumaman kecil dari orang yang memeluknya membuat Audrey menahan napas, wajahnya seketika memerah bak kepiting rebus. Namun dia dengan cepat menggeleng, Audrey berdehem dan melepaskan pelukan pria di depannya. “Kenapa kau kemari? Apa kau tidak ingin bersama tunangan barumu itu?” tanya Audrey sinis.
Xavier terdiam sejenak. “Hah? Tunangan apa?”
Audrey mengerutkan keningnya. “Bukankah kau bertunangan dengan Veronika.”
Xavier berkedip polos, dia tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. “Jadi maksudmu, aku bertunangan dengan gadis lain?” tanya Xavier di sela tawanya, Audrey mendengus. Dia langsung menutup pintu kamarnya namun tidak bisa karena Xavier menahan pintu. “Tenang, tenang. Aku hanya bercanda, biarkan aku masuk dulu.”
“Tidak mau! Kau pergi saja sana! Aku muak melihat wajahmu!”
“Heh, benarkah? Apa kau tidak merindukanku?” tanya Xavier dengan alis yang dinaik turunkan, Audrey tertawa hambar.
Dia menatap Xavier dengan wajah jengkel. “Untuk apa aku merindukanmu? Padahal aku sendiri tidak menyukaimu!”
“Wah, sayang sekali. Padahal aku ingin memberitahumu tentang gadis bernama Veronika itu.”
Audrey terdiam, dia berdecak dan langsung menutup pintu kamarnya. Audrey bersandar di pintu dan terduduk di lantai, Audrey memeluk kedua lututnya. “Apa-apaan! Aku sama sekali tidak merindukannya! Aku bahkan.. tidak ingat dengannya, aku hanya. Khawatir dengan keluargaku, bagaimana kalau mereka kenapa-napa?” gumam Audrey, dia membenamkan wajahnya di antara lututnya dan menghela napas.
'Berada dekat dengannya tidak baik untuk kesehatan jantungku, aku harus jauh-jauh darinya atau aku bisa terkena serangan jantung.'
Audrey mendongak, dia menepuk-nepuk kedua wajahnya. “Sadarlah, Audrey. Sadar!! Kau tidak boleh melakukan hal ini!” Audrey menyentuh dadanya. “Perasaan ini memang seharusnya tidak ada, aku harus menghapus perasaan ini! Semuanya hanya bohong.” Dia menggeleng cepat. “Seharusnya ini tidak terjadi,” gumam Audrey.
“Hey, apa kau merindukanku?”
Audrey menoleh ke arah balkon. “Er, kenapa kau datang kesini?”
“Aku mendengar kau sudah kembali, makanya aku kemari. Apa kau merindukanku?”
Audrey tersenyum masam. 'Merindukan? Aku bahkan tidak pernah mengingatmu, aku malah terus mengingat dengan seseorang yang seharusnya kujauhi dan kuhindari.'
“Hey, ayolah. Kau merindukanku kan?”
__ADS_1
Audrey menghela napas, dia berdiri dan berjalan ke arah kasurnya. Audrey duduk di tepi kasur dan mengusap Black dan White. “Aku bahkan tidak mengingatmu sehari pun, kenapa kau kembali ke sini?”
“Ucapanmu kasar sekali, aku kan hanya bertanya.”
Audrey melirik Er. “Pergilah, Er. Aku tidak ingin diganggu, aku tidak ingin melihatmu. Kau kembalilah dan jangan menggangguku.”
“Tapi--”
“Pergi!!” Audrey menatap dingin Er, dia berdecih. Audrey berjalan ke arah balkon kamarnya dan langsung menutup pintu. “Jangan temui aku lagi! Aku tidak ingin berbicara dengan siapapun!”
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
'Sekarang, aku harus mencari tau soal Veronika. Tapi aku harus meminta bantuan siapa? Mustahil jika aku ke kekaisaran sendiri dan mencari tau, itu akan menimbulkan kecurigaan. Aku harus memikirkan hal lain.' Audrey memegang dagunya berpikir, dia menghela napas pelan. 'Aku sudah muak dengan dunia ini, andai saja semuanya sudah selesai. Aku tidak perlu lagi berpura-pura menjadi Audrey.'
“Aku akan membantumu.”
Audrey menoleh ke arah suara, keningnya tampak berkerut melihat Xavier yang berjalan ke arahnya. “Kenapa kau masih di sini? Aku kan sudah mengusirmu tadi.”
Tanpa ba-bi-bu, Xavier duduk di samping Audrey. Gadis itu bergeser menjauh. “Kenapa kau selalu ingin menjauhiku?”
“Ucapan yang mana?”
“Saat kau bilang ingin membantuku, memang kau ingin membantu apa?” tanya Audrey sambil menatap Xavier dengan kening berkerut. 'Tidak mungkin kan dia bisa mendengar isi hatiku.'
“Ah, yang itu. Kau terlihat sedang.. frustasi? Em, tidak. Mungkin lebih terlihat seperti banyak tekanan, ada apa? Ceritakan saja padaku.”
Audrey menghela napas. “Percuma, kau tidak akan mengerti pemikiranku. Lebih baik kau pergi saja sana! Aku ingin sendiri.”
“Aku ingin memberitahumu sesuatu.”
“Apa?” tanya Audrey yang setengah penasaran.
“Apa kau, tetap mau menjadi tunanganku?”
Audrey mengerjap bingung. “Hah?”
__ADS_1
“Apa kau tetap mau menjadi tunanganku?” tanya Xavier lagi, Audrey terdiam. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangan.
“Tidak, kau sudah memiliki tunangan baru kan. Jadi jangan mendekatiku lagi dan pergilah ke tunanganmu.”
“Oh, begitu ya.” Xavier menunduk dengan wajah sedih. “Aku pikir kau cemburu karena mendengar soal pertunanganku, itu sebabnya kau langsung datang kemari.”
Audrey menatapnya sinis. “Heh, pria gila. Dengar ya, di sini itu kediaman ayahku. Rumah ayahku, apa hubungannya denganmu?” tanya Audrey sambil menunjuk tanah yang dipijaknya, Xavier dengan santai bersandar.
“Tapi kan ini adalah tanah kekaisaran juga, jadi tanah ini sama saja dengan tanahku,” kata Xavier dengan bangganya, Audrey memutar bola matanya malas.
“Terserah, sana pergi. Aku tidak ingin melihat wajahmu!”
“Ah, yang benar?” tanya Xavier dengan wajah yang dimajukan, Audrey langsung mundur.
“Jangan mendekat! Sialan.” Audrey membuang muka sambil berdecak, Xavier terkekeh geli. Dia kembali duduk dan menatap dua hewan kecil yang tengah bermain.
“Di mana kau menemukan dua hewan kecil itu? Sepertinya sangat jarang menemukan dua hewan beda spesies yang bisa berteman.”
Audrey mengalihkan pandangannya ke Black dan White. “Ah, aku menemukannya saat tersesat di hutan. Dan untuk harimau putih itu.” Audrey terdiam sejenak, dia menunduk. “Dia menolongku saat disekap oleh raja iblis.”
Xavier menoleh ke arahnya, tersirat wajah sedih yang dapat Xavier lihat pada gadis di depannya. Audrey menatap Xavier dan tersenyum manis. “Syukurlah aku bisa selamat, maaf jika sebelumnya ada kata-kata kasar yang kuucapkan. Bukan aku yang.” Audrey kembali terdiam, dia menatap kedua hewan dan tersenyum tipis. “Lupakan saja, semuanya sudah lewat.”
“Oh iya, aku juga ingin meminta tolong.”
“Apa?”
Audrey menghela napas. “Apa kau tau Er? Dia sahabatku sejak kecil, tapi tadi aku tanpa sadar membentaknya. Aku tau aku salah, tapi aku juga tidak bermaksud. Jadi, jika kau tau di mana Er. Tolong beritahu dia permintaan maafku.”
Xavier terdiam, dia menatap Audrey dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Ad apa? Kenapa kau melamun?” tanya Audrey, Xavier menggeleng dan tersenyum tipis.
“Tidak ada apa-apa, aku hanya berpikir beberapa hal. Aku juga mengenal Er, aku akan memberitahunya nanti. Kau tidak perlu khawatir, ok?” Xavier mengusap rambut Audrey lembut, wajah gadis itu langsung memerah hingga daun telinga.
Audrey buru-buru membuang muka ke arah lain. “Khem, kalau begitu. Terima kasih sudah mau membantuku.”
__ADS_1
Xavier terkekeh. “Wajahmu sampai memerah, apa kau benar-benar sudah jatuh cinta denganku?”