
“AAA!!!”
Teriakan itu sontak membuat beberapa siswa-siswi menoleh. “Apa yang terjadi?” tanya Mia.
Chiara menggeleng tak tau. “Ayo kita lihat.” Dia meletakkan bukunya dan berjalan bersama Mia ke gudang di belakang akademi.
Saat keduanya sampai, sudah banyak siswa-siswi yang berkerumunan di pintu gudang dengan ekspresi wajah yang berbeda-beda. “Apa yang terjadi di sini?” tanya Mia, salah satu siswa menatapnya dengan wajah ketakutan.
“A-ada mayat di dalam gudang.”
“Apa? Mayat siapa?” tanya Mia mendekat, namun dia tidak dapat melihat mayat siapa yang membuat mereka sampai ketakutan.
“S-sepertinya--”
“Itu mayat Veronika.”
Mia menoleh ke asal suara, dia menatap dua pria dengan kening berkerut. “Kenapa kalian bisa tau?”
Neon dan Armand saling menatap, mereka berdecih dan membuang muka. “Kami melihat seorang gadis yang berjalan keluar tadi, tapi wajahnya penuh darah sehingga sulit dikenali. Tapi dari seragamnya, dia seharusnya siswi dari akademi ini.”
Mia memegang dagunya berpikir, dia menoleh ke arah kemurungan. Mia tanpa ragu berjalan ke arah para kerumunan dan menyelip di antara mereka dan akhirnya berhasil masuk ke gudang yang penuh debu.
Dia langsung ingin muntah saat melihat mayat di depannya, Mia mengambil sapu tangannya dan menutupi mulut dan hidungnya. Dia berjongkok di depan mayat itu dan memperhatikan setiap luka yang ada di sana, Mia menyentuh pergelangan tangan mayat itu. 'Mayat ini sepertinya belum lama terbunuh.' Dia menoleh ke belakang. “Panggilkan Profesor Hanna kemari!”
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
“Apa yang terjadi?” tanya Audrey yang baru saja tiba, rambutnya telah diubah menjadi Orange kembali.
“Ah, Chelsea. Ada mayat di dalam gudang, apa kau tidak ingin melihatnya?”
“Mayat siapa?”
“Ve--”
__ADS_1
“Veronika,” jawab Armand cepat, Audrey menoleh ke arahnya.
Gadis itu menghela napas pelan, dia berjalan ke kerumunan. “Permisi, permisi. Aku ingin memeriksa mayatnya,” kata Audrey sambil menggeser siswa-siswi yang menghalangi jalannya.
“Chelsea, kau sudah kembali??” tanya Mia dengan wajah bahagia, Audrey mengangguk. Dia berjongkok di samping Mia dan ikut memperhatikan kondisi mayat.
“Ada sekitar tiga puluh bekas tusukan di perut, satu bekas tusukan kaki dan tusukan besar di kepala.” Audrey memperhatikan belati yang tertancap di kepala mayat Veronika. “Jika di lihat dari panjang belati, seharusnya tengkoraknya juga rusak.”
“Wah, kau tau banyak soal medis. Ya.”
Audrey menoleh ke arahnya dengan senyuman manis. “Iya, aku belajar tentang ilmu medis saat bersama keluargaku.” Dia berdiri dan mengeluarkan sapu tangannya.
“Aku akan mencabut belatinya untuk melihat apa panjang belati itu benar-benar mengenai tengkoraknya.” Audrey melirik ke belakang, dia menghela napas. “Tolong pergi dari sini, kalian menghalangi cahaya masuk.”
Para siswa-siswi langsung berjalan mundur namun tidak pergi dari sana, Audrey berdecak. Dia menggunakan sapu tangannya untuk memegang belati itu dan menariknya.
Para siswi langsung meringis melihatnya, beberapa dari mereka berlari pergi sambil menutup mulut menahan muntah.
“Sudah kukatakan untuk pergi, kalian tidak ingin dengar.” Audrey menutupi belati itu dengan sapu tangannya, dia meletakkannya di lantai dan melihat Mia yang sepertinya memeriksa sesuatu. “Bagaimana?”
Audrey menghela napas. “Siapa orang jahat yang melakukan hal ini?” gumam Audrey dengan cukup keras. 'Heh, kau akan mendapatkan hal yang setimpal. Abella.'
“Hm, benar. Gadis itu sangat jahat dan mengerikan hingga bisa membunuh seseorang dengan strategis ini.”
Audrey menatap Mia, dia mengigit bibir dalamnya. 'Maaf, tapi aku tidak bisa menceritakannya pada siapapun itu.'
Audrey menoleh ke belakang, tatapannya langsung tertuju pada dua pria dan seorang gadis yang berdiri tepat di mulut pintu. “Bisa panggil Profesor kemari? Kita membutuhkannya agar bisa memeriksa mayat ini lebih detail.”
Chiara mengangguk, dia berlari pergi. Tatapan Audrey beralih ke Neon, pria itu menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Dia menghela napas dan berkedip sekali.
Seolah mengerti ucapan Neon, Audrey mengangguk pelan. Pria itu memijat pelipisnya dan berjalan pergi.
Audrey mengalihkan pandangannya ke mayat di depannya. 'Veronika, ini tidak akan terjadi seandainya kau tidak mengganggu Laura. Aku melakukan transmigrasi jiwa juga karena kesalahanmu.'
__ADS_1
“Mia, tunggulah Profesor di sini. Aku ada keperluan lain.”
Mia yang sedang fokus melihat-lihat mayat langsung menoleh ke arah Audrey, dia mengangguk. “Berhati-hatilah.”
Audrey berjalan pergi, dia sempat melirik Armand dan membuat tatapan keduanya saling bertemu. 'Tatapan itu.. kenapa terasa sangat aneh? Apa dia tau aku yang membunuhnya? Atau dia mencoba mencari kebohongan di mataku?'
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Suara Isak tangis memenuhi kamar asrama itu, seorang gadis manis menangis tersedu-sedu di atas kasurnya. “Kenapa kamu harus mati tragis seperti itu, Veronika? Kita sudah menjadi sahabat, tapi kenapa kamu tiba-tiba meninggalkanku di hari penting kita?”
Tiba-tiba, terdengar suara aneh dari luar asrama. Gadis itu, Abella. Memeluk kedua lututnya dan membenamkan kepalanya. “Jangan ganggu aku! Aku tidak ingin bertemu dengan siapapun.”
Angin bertiup sangat kencang hingga membuang jendela terbuka dan tirai-tirai terbang terbawa angin, Abella mengangkat kepalanya dengan mata sembab. Dia tanpa sengaja melihat batu yang dibungkus kertas, dengan wajah pucat.
Abella berdiri dan berjalan sempoyongan ke arah surat itu, dia terduduk di lantai dan mengambil surat itu. Abella membukanya, tidak lama setelah membacanya. Dia langsung berteriak ketakutan sambil menutup kedua telinganya.
“Abella.”
“Abella.”
Suara ketukan di pintu membuat Abella semakin ketakutan, suara yang familiar itu membuatnya benar-benar ketakutan. “Pergi! Jangan menggangguku, jangan menggangguku!!” teriak Abella dengan air mata berlinang.
Suara ketukan itu tiba-tiba menghilang, namun saat Abella hendak bernapas lega. Suara-suara mengerikan terdengar dari luar sambil memanggil namanya, tiba-tiba. Muncul telapak tangan yang terbuat dari darah, hal itu membuat Abella terkejut. Dia mundur perlahan-lahan, jejak darah muncul di lantai. Seseorang tak terlihat seperti berjalan ke arahnya dengan jejak darah yang terus menetes ke lantai.
“Tolong, siapapun tolong aku!!” teriak Abella, namun tidak ada siapapun yang menolongnya. Jejak darah itu semakin mendekat, tiba-tiba. Mayat Veronika muncul di depannya dan membuatnya terkejut hingga tak sadarkan diri.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
'Sepertinya ilusi ini sudah cukup, aku tinggal menghabisinya sekarang.' Gadis bertopeng menatap datar Abella yang berbaring di kasur dengan ekspresi wajah ketakutan dan air mata yang terus mengalir. “Maafkan aku, Abella. Tapi kau adalah penyebab utama dari kematianku di dalam novel, jadi untuk membuat alur itu tidak berhasil. Maka kau harus mati,” gumam gadis bertopeng itu, Audrey.
Dia mengangkat belati di tangannya dan tanpa ragu menancapkan belati itu tepat di jantung Abella, suara teriakan nyaring itu membuat siswa-siswi yang berada di asrama terkejut.
Audrey perlahan menjauh dari membiarkan Abella yang kesakitan, dia berbalik ke arah balkon. Namun baru saja hendak pergi, seseorang sudah lebih dulu membuka pintu asrama.
__ADS_1
“Kau!”