
'Aku ingin bertemu denganmu di pinggir jurang saat sore setelah bulan biru, datanglah ke sana dan temui aku.' Audrey melipat kertas di tangannya dan memberikannya pada merpati putih yang bertelenggar di jendela, dia kemudian menerbangkan merpati itu dan membiarkannya pergi jauh.
Dia menghela napas pelan dan duduk di kursi sambil memijat pelipisnya. 'Karena terbawa perasaan, aku jadi lupa menyampaikan hal itu. Padahal hal itulah yang akan membantuku menghabisinya, di hari yang sama dan waktu yang sama. Davide akan muncul sebagai penjahat terakhir sebelum Abella sekarat.' Audrey tiba-tiba terkekeh geli. 'Sekarang aku bertindak seperti seorang Protagonis, jika dulu Abella bisa diselamatkannya. Kali ini, aku atau Xavier. Tidak akan ada yang bisa diselamatkan lagi.'
Suara ketukan pintu membuat Audrey tersadar dari lamunannya.
“Nona, saya membawa kue ringan untuk Anda,” kata Gina dari balik pintu.
Audrey meremas perutnya yang tiba-tiba terasa sakit. “Aku tidak perlu apapun, bawa saja semuanya kembali!”
“Tapi--”
“Aku akan memintanya jika ingin, bawa makanan itu kembali dan jangan menggangguku!”
“Kalau begitu, saya permisi.” Sayup-sayup, terdengar suara langkah kaki menjauh. Audrey menghela napas dan bersandar.
'Kenapa perutku tiba-tiba terasa sakit? Apa ada hubungannya dengan jiwaku di raga ini?'
Tidak lama setelahnya, rasa sakit di perutnya mulai menghilang. Audrey kembali menghela napas dan menoleh ke luar jendela. 'Aku mohon, biarkan aku kembali ke dunia asliku untuk meminta maaf pada mama dan papa. Mungkin juga, jika aku kembali. Perasaan ini akan menghilang dan aku akan melupakan mereka semua.'
Audrey meletakkan kedua tangannya di atas dada sambil menunduk. “Aku mencintaimu, sangat. Sangat mencintaimu! Tapi takdir justru ingin memisahkan kita.” Air mata kembali mengalir di pipinya, gadis itu menggeleng dengan senyum kecut. “Kita memang tidak ditakdirkan untuk bersama, aku kemari hanya untuk membalas dendam dan menghindari kematian Audrey asli. Tapi sekarang, aku justru terjerat dalam cinta yang tak seharusnya.”
Audrey mengusap wajahnya kasar, dia terkekeh geli mengingat ucapannya. “Kau bodoh, takdir tidak menginginkan kita bersama dan juga. Bagaimana mungkin seorang Protagonis sepertimu akan bersatu dengan Antagonis sepertiku.” Audrey mendongak agar air mata tidak lagi mengaliri pipinya. “Sejak awal, kau hanya bisa mencintai protagonis yang menjadi tokoh utamanya. Jika aku tetap mengikuti alur, apa kau akan tetap mencintaiku sepenuh hati atau menatapnya penuh benci dan jijik seperti di dalam novel?”
Audrey menghela napas. “Mau bagaimanapun, aku hanyalah tokoh penjahat yang selalu berakhir tragis. Entah itu di dunia novel, komik, film, ataupun di dunia nyata.”
“Semuanya hanyalah mimpi!”
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
“Kenapa kau senyum-senyum sendiri?” tanya Zachary sambil menyenggol bahu Xavier yang menopang dagunya ditambah senyuman yang selalu membuat candu.
“Tidak ada apa-apa, aku hanya sedang senang.”
__ADS_1
“Wah, wah, wah.” Zachary bertepuk tangan, dia menatap Xavier. “Ternyata kau bisa senang ya, kak. Aku pikir kau hanyalah Monster berhati dingin yang tidak akan pernah bahagia apalagi tersenyum, dan lagi. Kenapa waktunya sangat pas dengan kematian Veronika dan Abella?”
Xavier berdecak. “Pergi sana! Kau merusak suasana hatiku.”
Zachary berdecak, dia menepuk pundak Xavier beberapa kali dan berjalan keluar. “Ingat untuk ke kelas,” kata Zachary sambil melambaikan tangannya.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
“Angela, Rhys. Aku memiliki tugas untuk kalian,” kata Audrey sambil mengetuk-ngetuk meja, Rhys dan seorang gadis lagi saling melihat.
“Tugas apa?”
Audrey menatap keduanya bergantian, dia menghela napas. “Di tepi jurang setelah bulan biru. Jangan kemana-mana.”
“Eum, ok. Tapi ada apa?”
“Cukup lakukan yang kukatakan, sekarang pergilah.” Audrey mengibaskan tangannya, namun hanya Angela yang menghilang. Rhys tetap berdiri di depannya dengan wajah datar.
“Soal?”
Rhys menghela napas. “Aku tau apa yang kau pikirkan, Audrey. Setelah mengorbankan setengah jiwamu, setengah jiwamu yang lain akan mulai menghilang dan batas waktu untuk kau hidup hanya sampai bulan biru.”
Audrey menghela napas, dia bersandar dan menatap Rhys. “Benar, tapi aku menggunakan sihir terlarang untuk--”
“Mempertahankan jiwamu hingga bulan Biru berakhir? Dan konsekuensinya adalah.”Rhys mengantung kalimatnya.
“Aku tidak akan bisa terlahir kembali,” lanjut Audrey, dia tersenyum tipis sambil mengangguk-angguk. “Ya, benar. Setelah menggunakannya, aku tidak akan bisa terlahir kembali. Tidak di dunia ini, ataupun di dunia lain karena jiwaku akan menghilang seperti daun kering yang terbakar api.”
“Kenapa kau melakukan semua ini? Apa kau tidak ingin membatalkan sihir itu sebelum terlambat.”
Audrey menggeleng pelan, dia tersenyum kecut. “Percuma, aku juga tidak akan bisa hidup di dunia ini lagi.”
“Tapi kau masih bisa terlahir kemba--”
__ADS_1
“Aku tau, tapi apa aku tetap akan terlahir kembali dengan sifat yang sama? Apa Xavier tetap akan mengenaliku?”
Rhys memijat pelipisnya pusing. “Lalu, bagaimana dengan Neon? Bukankah dia juga mencintaimu, dia menganggapmu lebih dari seorang adik.”
Audrey menghela napas. “Aku akan meneruskan kesalahpahaman dengannya, dan lagi. Aku hanya menganggapnya seorang kakak, meskipun dia selalu baik denganku. Tapi aku tidak pernah punya perasaan dengannya.”
“Terakhir, apa kau yakin ingin menggunakan sisa kekuatan kesadaran kami berdua untuk melindungi Xavier dari panah itu?” tanya Rhys dengan tatapan yang sulit diartikan.
Audrey menatapnya dengan kening berkerut, ada rasa terkejut yang terlihat jelas di matanya. “Bagaimana--”
“Setelah aku membaca buku hewan yang dikontrak, tertulis saat manusia yang mengontraknya mati maka kesadaran hewan yang dikontrak akan perlahan-lahan menghilang dan ingatan yang dilalui mereka akan menghilang. Apa kau sudah yakin untuk menggunakan kekuatan terakhir kami untuk melindungi Xavier?”
Audrey menghela napas, dia memijat pelipisnya pusing. “Aku tidak melindungi Xavier.”
“Lalu?”
Audrey menatap Rhys dengan tatapan yang tak bisa diartikan, dia berdiri dan berjalan ke arah jendela. “Aku melindungi hatiku, jika dia terluka aku yang akan merasakan sakitnya.”
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Audrey menulis sesuatu di kertas kosong, dia sesekali melirik ke luar sambil terus menulis. Audrey menghela napas dan meletakkan kertas itu di tumpukan kertas lain, Dia merapikan tumpukan kertas itu dan memasukkannya ke dalam laci.
Suara ketukan pintu membuat senyum tipis mereka di wajahnya. “Masuklah, Gina.”
Pintu terbuka dan menampilkan seorang gadis dengan pakaian pelayan, Gina berjalan ke arah Audrey dan menunduk hormat. “Iya, Nona Muda.”
“Ingat yang kukatakan sore tadi?”
“Iya, setelah Anda pergi dan Yang Mulia kemari. Saya akan memberitahukan soal surat yang ada di laci kamar Anda.”
“Bagus, sebelum itu. Bawa benda itu dan berikan pada Xavier saat kau mengatakan pesanku.” Audrey melirik sebuah kalung yang ada di meja, kalung itu memiliki liontin berbentuk berlian berwarna merah.
“Baik, tapi apa saya boleh bertanya satu hal? Kemana Nona Akan pergi sehingga saya harus memberikan kalung itu?”
__ADS_1