Menjadi Antagonis Dalam Novel

Menjadi Antagonis Dalam Novel
Episode 16. Zombie


__ADS_3

Suara aneh muncul di sekitar hutan yang ada di pedesaan itu, kepala desa yang tengah menatap keluar jendela menghela napas.


'Sudah dimulai ya?' Dia menutup jendelanya rapat-rapat, kepala desa berjalan ke arah lilin-lilin yang menerangi area gelap dan meniup semuanya hingga suasana sangat gelap tanpa sedikitpun cahaya.


Kepala desa kemudian mengambil golok di atas kasur dan meringkuk di antara lemari sambil memegangi golok di tangannya erat.


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


Seorang pria masih terbangun di tengah malam, padahal kedua temannya telah tertidur lelap. Xavier, sedari tadi. Pria itu memperhatikan setiap rumah yang penerangannya dimatikan satu-persatu.


Tiba-tiba, terdengar suara aneh dari dalam hutan. Dia menoleh ke arah hutan namun tidak dapat melihat apapun karena gelap meskipun dengan adanya rembulan.


'Apa ini yang dimaksud Ayahanda?' batin Xavier, dia hendak menutup jendela. Namun siluet seseorang berdiri di atas atap salah satu warga menarik perhatiannya, dari lekuk tubuhnya. Dapat dia ketahui kalau orang yang dia lihat adalah seorang gadis.


Dia hanya berdiri diam seperti teratai, tak ada pergerakan sedikitpun yang dibuat gadis itu. Hal itu membuat Xavier bingung, namun dia langsung tersadar akan hal yang ingin dilakukannya tadi.


Xavier menutup jendela dan berbalik ke arah teman dan adiknya yang masih tertidur lelap tanpa perduli dengan keadaan sekitaran.


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


Terdengar suara helaan napas dari gadis itu, dia mengambil anak panah dan mengangkat panahnya ke arah hutan. Dia kemudian menembak sesuatu di dalam hutan dan sepertinya tepat sasaran.


Gadis itu kembali mengambil anak panah dan menembak, dia terus melakukan hal yang sama sampai saat gadis itu hendak mengambil anak panah lagi. Anak panah yang dia bawa telah habis.


Gadis itu berdecih, dia membuang panahnya dan menarik pedang dari sarung pedangnya. Gadis itu kemudian melompat turun dan mendarat ke tanah tanpa suara sama sekali, dia melihat sekeliling dan berjalan ke arah perbatasan desa dengan hutan.


'Hah, lagi-lagi akan terjadi pertumpahan darah.'


Suara-suara aneh itu semakin terdengar jelas dan banyak, dari kegelapan hutan. Banyak cahaya merah bercahaya terang.


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


Xavier memijat pelipisnya pusing, sudah berkali-kali dia berusaha membangunkan dua anak sialan itu. Namun tetap tidak bisa.

__ADS_1


Justru dia hampir saja terkena tendangan Zachary kalau dia tidak cepat-cepat menghindar, entah apa yang tengah dimimpikan adiknya itu.


Suara-suara aneh yang didengarnya semakin banyak, ada suara dentingan pedang yang sepertinya tak jauh dari tempatnya.


Xavier berdesah frustasi, dia mengambil pedangnya dan berjalan keluar dari rumah itu. Xavier sempat menoleh ke arah rumah yang ditempati dua gadis yang menjadi setimnya, pintunya masih terkunci sehingga Xavier yakin kalau keduanya telah tertidur.


Dia berlari dengan cepat ke arah suara itu muncul, Xavier melompat ke atap rumah warga dan terus berlari sambil melompat ke atap rumah yang lain.


Xavier berhenti di satu atap warga, dia menatap datar pertarungan tak seimbang yang terjadi di depan matanya.


Dia melihat seorang gadis yang tengah dikelilingi oleh zombie, gadis itu mengenakan gaun hitam selutut, sarung tangan yang bagian jarinya terlihat, rambutnya terurai, mata birunya terlihat indah dibawa sinar rembulan, wajahnya yang ditutup topeng rubah membuatnya tampak misterius. Dia membunuh dengan mudah dan menawan, Xavier terdiam beberapa detik. Matanya tak bisa beralih dari gadis itu.


Karena gadis itu terlalu fokus dengan zombie-zombie di depannya dan suara para zombie yang berisik, dia jadi tidak menyadari satu zombie yang berjalan ke arahnya dari belakang.


Xavier yang melihat itu melompat ke arahnya dan langsung menusuk zombie itu.


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


“Jangan turunkan kewaspadaanmu Nona, kita sedang dikepung sekarang.”


Gadis itu berdecih, dia memasukkan pedangnya kembali ke sarung pedang dan mengeluarkan dua pisau dari tempat anak panahnya.


“Pedang terlalu berat untukku,” kata gadis itu, Xavier mengerutkan keningnya. Dia tampak familier dengan suara gadis di depannya.


Gadis itu mulai menyerang dengan kedua pisau di tangan kiri dan kanannya, Xavier yang tersadar juga ikut membantu menghabisi para Zombie yang semakin banyak.


Tiba-tiba, terdengar suara teriakan dari salah satu rumah. Gadis itu menoleh dan berdecih, dia melempar kedua pisaunya dan berlari pergi.


Gadis itu tiba-tiba berhenti, dia menatap datar zombie yang sepertinya telah mengigit satu anak kecil. Gadis itu mengeluarkan kunainya dan langsung melempar ke arah zombie itu dan tepat mengenai lehernya.


Gadis itu berlari kecil dan melihat bekas gigitan zombie, racun dari zombie itu perlahan menyebar. Gadis itu memegang dagunya berpikir, dia menghela napas dan menatap seorang anak kecil yang kini tengah menangis tersedu-sedu.


“Jangan menangis, semuanya akan baik-baik saja. Mengerti?”

__ADS_1


Anak kecil itu mengangguk sambil terisak, Gadis itu tersenyum tipis. Dia melepaskan sarung tangan kanannya dan mengarahkan telapak tangannya ke bekas gigitan zombie.


“Ini akan sedikit sakit, kau bisa menahannya kan?”


Anak kecil itu mengangguk, Si gadis tersenyum tipis. Dia menutup matanya dan menghela napas panjang.


“Healing.. magic.”


Cahaya keunguan keluar lewat bekas gigitan itu, racun yang menyebar mulai berkurang sedikit demi sedikit. Anak kecil itu mengigit bibir dalamnya agar tidak mengeluarkan suara rintihan.


Hampir sepuluh menit berlalu, gadis itu tiba-tiba mengepalkan tangannya. Dia kemudian menatap ke anak kecil itu dan mengusap kepalanya.


“Semuanya sudah baik-baik saja, kau kembalilah dan jangan keluar di tengah malam. Mengerti?”


Anak kecil itu mengangguk sambil terisak kecil, dia kemudian tersenyum sangat manis dan berdiri.


“Terima kasih, Kakak cantik. Tapi apa Kakak bisa menyembuhkan ibuku?” tanya anak kecil itu, Gadis tersebut berdiri.


“Memang apa yang terjadi dengan ibumu?”


“Ibuku.. dia berubah menjadi zombie sejak kemarin,” cicit anak itu, si Gadis menahan napas sejenak.


“Lalu di mana ibumu? Apa ayahmu menjaganya?” tanya gadis itu, anak kecil itu mengangguk.


“Ayahku mengikat ibuku di pilar rumah, aku keluar hari ini untuk mencari obat agar ibuku sembuh. Tapi aku malah diserang oleh zombie.”


Gadis itu menghela napas, dia kemudian menyentuh wajah anak kecil itu. “Kembalilah ke rumahmu dan jangan keluar tengah malam lagi, Kakak akan mencari obatnya untukmu. Jadi jangan khawatir.”


Anak kecil itu mengangguk, dia berjalan pergi dan masuk ke sebuah rumah yang tidak jauh dari sana. Gadis itu menghela napas, dia berbalik dan seketika terkejut saat Xavier tiba-tiba berdiri di depannya dengan wajah dingin.


“Siapa kau sebenarnya?” tanya Xavier, gadis itu membunyikan kepalan tangannya di belakang punggungnya. Dia menyeringai.


“Menurutmu? Ah, ternyata Yang Mulia tidak mengenaliku ya? Aku..” Gadis itu mendekat ke arah Xavier dan berbisik. “Adalah Dewi.”

__ADS_1


__ADS_2