
“Ada apa?”
Abella mencengkram bahunya. “Aku.. ingin meminta maaf.”
“Soal?”
“Soal kemarin, aku tidak seharusnya memaksamu untuk mengaku kalau kau adalah Audrey.”
Audrey menghela napas. “Tidak apa-apa, aku juga tidak memasukkan kata-katamu dalam hati. Lain kali, jangan menggangguku lagi.” Audrey berjalan pergi, namun dia tiba-tiba menghentikan langkahnya dan melirik Abella. “Aku bukan Audrey, camkan itu.”
“Ya,” cicit Abella.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
“Kenapa kau ingin bertemu? Aku ingin kembali ke asramaku!”
“Audrey--”
“Aku bukan Audrey!” sentak Audrey cepat. “Kenapa kalian semua menganggapku sebagai Audrey?? Aku ini orang lain, bukan Audrey!”
“Audrey, kau--”
“Dia telah mati, Eryk! Audrey telah mati!!” Audrey mengepalkan tangannya dengan dada yang naik-turun. “Audrey telah mati, dan penyebab semua itu adalah kalian!” Audrey menunjuk wajah Eryk penuh emosi.
“Semuanya karena kalian! Jika kalian tidak menuduh Audrey dan memilih untuk memihak Abella, Audrey tidak akan nekat untuk bunuh diri!!”
“Apa yang, kau katakan?” tanya Eryk bingung.
Audrey menutup mulutnya, air mata mengalir begitu saja. “Ini semua salah kalian!” Audrey mengusap wajahnya kasar. “Jangan menemuiku lagi! Aku membenci kalian semua, sangat benci!!” Audrey berbalik dan berlari pergi.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
“Kenapa kalian semua berdiri di depan asrama?” tanya Neon sambil menatap bingung teman-temannya yang lain.
“Itu, Audrey tidak tau kenapa tiba-tiba menangis saat kembali. Dan kau tau kan bagaimana suasana hatinya, jika kami menganggunya. Habislah kami.”
“Menangis? Tapi kenapa?”
Erika mengangkat bahunya acuh. “Tidak tau, mungkin dia bertemu dengan teman di masa lalunya.”
Neon hanya ber-ooh, dia membuka pintu asrama dan berjalan masuk.
“Dia itu tidak ada takut-takutnya ya,” bisik Grace, Sato mengangguk membenarkannya.
__ADS_1
“Mungkin, Ketua menyukai Audrey,” tebak Sato asal, Grace segera membekap mulut gadis manis itu.
“Sstth, bagaimana jika ada dengar?”
“Jangan khawatir, di sini tidak ada siapapun.”
Di sisi lain, seseorang yang sedari tadi mendengarkan ucapan mereka menyeringai. 'Heh, akhirnya aku menemukan rahasiamu. Audrey.'
Orang itu pergi dan seragam akademinya terkena angin hingga membuat Erika tidak sengaja melihatnya. “Ada seseorang di sana.” Erika berlari ke balik tembok namun tak melihat siapapun, dia memegang dagunya berpikir. 'Jelas-jelas aku melihat seseorang di sini tadi, dari seragamnya.. dia seharusnya seorang wanita.' Erika mengepalkan tangannya. 'Ada yang diam-diam menguping pembicaraan kami.'
“Ada apa, Erika?” tanya Grace, Erika menggeleng.
“Eum, tidak ada apa-apa. Ayo kita kembali.” Erika berjalan ke arah teman-temannya yang lain meski sesekali dia melirik ke arah tembok.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
“Kau menangis karena mereka kan!?” tanya Neon, Audrey meliriknya sinis.
“Bukan urusanmu, lagipula. Siapa yang menangis.”
“Heh, jadi yang dikatakan Sato itu bohong?”
Audrey berdecak. 'Dasar gadis itu, dia selalu saja ikut campur.' Audrey memijat pelipisnya pusing. “Terserah saja, kau pergi dan jangan menggangguku!”
Neon bersandar di pembatas dinding dan melipat tangannya di depan dada. “Siapa yang membuatmu menangis?”
“Audrey, aku mengenalmu lebih dari apapun. Aku tau pasti ada seseorang yang membuatmu benar-benar sedih, kau bukan contoh orang yang akan menangis tanpa sebab.”
Audrey berdecak, dia berbalik badan dan berjalan pergi.
“Kau mau kemana?”
“Ke kafetaria, apa kau mau ikut?”
“Iya, aku ikut kau kemanapun.” Neon berdiri tegak dan berjalan ke samping Audrey, dia menggenggam tangan gadis di sampingnya sambil membuang muka. “Ayo kita pergi.”
“Bisa tidak, jangan menggenggam tanganku?” tanya Audrey sambil mengikuti Neon yang menariknya keluar asrama.
“Tidak apa-apa kan, anggap saja ini sebagai penyamaran.”
Audrey memutar bola matanya sambil berdecih. “Bilang saja kalau ingin menggenggam tanganku,” gumam Audrey malas, dia melirik Neon yang selalu melihat ke arah samping. “Kau ini kenapa, sedari tadi kau tidak ingin menatapku.”
Neon berdehem. “Tidak ada apa-apa, aku hanya sedang tidak enak badan.”
__ADS_1
Audrey berdecak. 'Apa hubungannya menatapku dengan tidak enak badan?' batin Audrey bingung, dia melepaskan tangannya dari genggaman Neon.
“A-ada apa?”
Audrey menggeleng. “Tidak ada apa-apa, maaf. Aku merasa sedikit tidak nyaman.”
Neon ber-oh, dia tersenyum. “Ayo jalan lagi.”
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
“Aku bersungguh-sungguh, aku mendengar salah satu anak baru itu menyebut nama Audrey!”
Zachary melirik gadis di depannya. “Apa kau yakin tidak salah dengar?”
“Aku yakin, Yang Mulia. Murid baru itu memang menyebut nama Audrey.”
Zachary memegang dagunya berpikir, dia melirik gadis di sampingnya yang menunduk sambil memainkan jemarinya. Pria itu tersenyum. “Aku percaya, terima kasih sudah memberitahu aku info ini. Clare.”
Wajah Clare bersemu merah. “I-iya, A-aku akan pergi.” Dia dengan cepat berlari keluar dan menutup pintu, Clare bersandar di pintu dengan kepalan tangan yang diletakkan di atas dada. Wajahnya masih bersemu merah. 'Yang Mulia sangat tampan, dengan informasi ini. Yang Mulia pasti akan lebih dekat denganku.'
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Siang telah digantikan malam, seorang gadis bercadar berdiri di atas atap asrama sambil memperhatikan sekitar. Keberadaannya tidak bisa dirasakan sama sekali, dia bagaikan teratai yang berdiri tenang di atas air.
Seorang pria muncul di belakangnya. “Audrey, apa kau tidak bisa terus mengintai?”
Audrey melirik ke belakang, dia menghela napas dan melepaskan cadarnya. Audrey melempar cadar itu hingga terbang dan dibawa angin. “Aku tidak akan pernah bosan jika itu tentang misiku, kenapa kau kemari? Seharusnya kau berjaga di tembok belakang.”
“Huh, ayolah. Aku sungguh malas berada di sana semalaman, sendirian itu membuatku merasa kesepian.”
Audrey berdecak. “Terserah kau saja, kau berhenti mengikuti Neon saja itu sudah membuatku terkejut.”
“Terima kasih pujiannya,” kata Arden diakhiri kekehan kecil, Audrey memutar bola matanya malas. Dia kembali mengintai sekitaran.
“Jangan banyak bicara, Arden. Kembali ke tempatmu dan jangan menggangguku.”
Arden menghela napas. “Sikapmu denganku dingin sekali.” Dia melompat dari atap asrama, Audrey duduk melipat kaki. Dia menutup matanya dan mengatur napasnya, angin malam menerpa dan menerbangkan rambutnya yang terurai.
Audrey dapat mendengar suara detak jantungnya yang lebih cepat, dia tiba-tiba meremas dadanya. Audrey membuka matanya. 'Sial, segel di tubuhku masih belum menghilang.' Dia berdiri dan menghela napas. 'Sepertinya, aku memang tidak ditakdirkan untuk mendapatkan kekuatanmu. Laura.'
Di saat Audrey mulai putus asa, matanya tanpa sengaja menangkap siluet seseorang yang bertingkah mencurigakan di pintu asrama putri. Dia melompat turun dan bersembunyi di balik tembok sambil memperhatikan gerak-gerik seorang gadis yang tampak mencurigakan. 'Bentuk tubuh, warna rambut.. aku tidak pernah melihat seorang gadis dengan warna rambut seperti itu, apa dia ingin menyelinap dan menemui seseorang?'
Gadis itu mengeluarkan besi kecil dan berusaha membuka pintu asrama putri, Audrey terus memperhatikan gadis itu sambil melirik sekitaran waspada.
__ADS_1
Dia berjalan selangkah agar bisa lebih dekat dengan gadis itu namun kakinya justru tidak sengaja menginjak ranting kering. 'Uh, sial!'
“S-siapa di sana!?”