
Tatapan Xavier beralih ke pria berkumis yang semakin berkeringat dingin. “Apa kau yang melelang tanah di panti asuhan?”
“B-benar, Yang Mulia.”
“Yang Mulia, apa yang membawa Anda kemari?” tanya Audrey sambil melingkarkan tangannya di bahu Xavier. 'Menggelikan, ih. Aku rasanya seperti dikerubungi ulat bulu.'
'Ada apa dengan gadis ini? Apa dia tersambar petir hingga otaknya koslet?' batin Xavier. “Ya, aku kemari untuk observasi. Apa kau ingin membeli tanah itu?”
“Iya, aku ingin membelinya untuk beberapa hal penting.”
Gina sedari tadi hanya diam sambil memperhatikan interaksi keduanya, dia bahkan sempat terkejut saat Audrey melingkarkan tangannya di lengan Xavier. 'Astaga, sejak kapan Nona begitu lengket dengan Yang Mulia??'
“Y-yang Mulia?”
“Khem, berapa harga tanah itu?” tanya Xavier.
“U-untuk Nona ini, aku akan memberikannya secara gratis,” kata Pria berkumis. 'Jika hanya untuk tanah itu, lebih baik aku memberikannya daripada aku berurusan dengan kekaisaran.'
“Ah, benarkah? Bukankah Tuan akan rugi banyak jika hanya memberikan tanah itu secata gratis, bagaimana jika aku membayarnya dengan harga tadi?”
“Tidak Lady! A-anggap saja aku menyumbangkan tanah itu untuk anak-anak di panti asuhan.”
Audrey tersenyum. “Baiklah jika itu memang keinginan Tuan, aku akan menunggu Anda di panti. Ayo, Yang Mulia.” Audrey menarik tangan Xavier.
Setelah pintu tertutup, dia langsung menjauh dari pria itu sambil bergidik ngeri. “Aku seperti dikerubungi ulat bulu, huh.. mengerikan,” gumam Audrey sambil mempercepat langkahnya.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
“Wah, kakak cantik datang kemari?”
“Iya, Rose. Di mana bibi dan paman? Kakak ingin bertemu dengan mereka.” Audrey berjongkok dan mengusap rambut Rose.
“Paman sedang tidak ada, kalau bibi sedang ke pasar untuk membeli sesuatu.”
“Ke pasar?”
“Wah, kakak tampan!”
“Kakak kemari lagi.”
“Kakak, kakak!”
Audrey dan Rose menoleh ke asal suara, keningnya sedikit berkerut saat melihat siapa yang kini dikerumuni oleh anak-anak panti.
__ADS_1
“Wah, kakak tampan kemari!” Rose dengan wajah senang berlari ke arah anak-anak yang berkerumun, Audrey berdiri dan berjalan ke arah mereka.
“Kenapa kau bisa di sini?”
“Seharusnya aku yang bertanya, kenapa kau ada di sini? Apa kau mengenal anak-anak panti ini?” tanya Xavier dengan wajah datar, Audrey berdecak.
“Semuanya, kalian masuklah ke dalam. Kakak ingin bicara dengan dia.”
Para anak panti langsung menuruti ucapan Audrey, mereka berjalan masuk sambil berbincang-bincang dan bercanda tawa.
“Xavier, kenapa kau bisa ada di sini?”
“Apa urusannya denganmu? Aku hanya ingin bertemu dengan anak-anak,” kata Xavier acuh, Audrey menghela napas pelan.
“Kalau begitu, masuklah ke dalam. Aku akan pergi.” Audrey berjalan pergi, namun langkahnya langsung terhenti saat Xavier menarik tangannya. “Ada apa?”
“Temui aku di taman nanti malam, ada yang ingin kubicarakan.”
Audrey mengangguk malas, dia melepaskan genggaman Xavier dan berjalan pergi. 'Huh, sungguh merepotkan. Biar nanti saja aku beritahu paman dan bibi.'
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
“Nona, Anda ingin kemana malam-malam begini?” tanya Gina sambil memperhatikan Audrey yang memakai topeng dan jubah panjang.
“Aku akan keluar sebentar, kau menyamar menjadi aku dan bantu aku agar tidak ketahuan.”
“Ini sangat penting, Gina. Aku perlu menemui seseorang.” Audrey menutupi wajahnya dengan tudung jubah berwarna hitam.
“Apa Nona ingin menemui Yang Mulia Putra Mahkota?” tanya Gina sambil menutup mulutnya dengan kedua tangan, Audrey meliriknya malas.
“Jangan mengada-ngada, urusanku kali ini lebih penting daripada pria sinting itu. Ingat untuk menyamar menjadi aku dan jangan biarkan siapapun masuk, aku pergi.” Audrey berjalan ke arah balkon dan melompat turun, Gina yang melihat itu berbaring di atas kasur dan menutupi dirinya dengan selimut.
'Semoga saja Nona tidak terlalu lama, aku tidak mungkin bisa menyamar menjadi dia dalam waktu yang sangat lama.'
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
“Audrey, kau sudah datang,” kata Xavier yang membelakangi gadis berjubah.
“Ini aku, Yang Mulia.”
Xavier melirik ke belakang, Chelsea membuka tudung jubah dan melangkah ke arah Xavier.
“Kenapa kau bisa kemari? Dan darimana kau tau aku kemari?”
__ADS_1
Chelsea duduk di samping Xavier. “Aku ingin mengatakan hal penting.”
“Hem, tentang apa?”
“Yang Mulia, aku ingin meminta satu hal padamu.”
Ucapan dari Chelsea membuat Xavier menoleh ke arahnya dengan kening berkerut. “Permintaan apa.”
Chelsea menarik napas. “Aku ingin kau.. membunuhku.”
“Apa?? Apa kau gila!?”
Chelsea menggeleng pelan. “Aku mohon, Yang Mulia. Habisi aku sebelum aku menghabisi semua orang.”
“Apa maksudmu, Chelsea?? Kenapa kau sangat ingin mati?” tanya Xavier sambil mencengkram kedua pundak Chelsea, gadis itu membuang muka. Dia sama sekali tidak ingin menatap pria di depannya.
“Yang Mulia, kumohon.. habisi aku, aku tidak ingin membunuh semua orang.”
“Jawab pertanyaanku dulu! Kenapa kau sangat ingin aku membunuhmu??”
“Karena, karena..” Air mata Chelsea mengalir begitu saja. “Karena dalam diriku ada monster, monster yang bisa membunuh semua orang dan mengambil alih dunia.”
“Apa?” Xavier melepaskan cengkraman tangannya, dia menatap Chelsea dengan kening berkerut.
“Iya, Yang Mulia. Dalam diriku ada monster, monster yang amat menakutkan. Apa kau ingat saat harimau itu menusuk perutku?” Chelsea membuka sedikit topengnya dan menghapus air mata yang mengalir.
“Ya, aku ingat.”
Chelsea tersenyum masam. “Dia ada di sana, monster itu menjaga jiwaku agar tetap hidup. Jika tidak ada dia, aku pasti telah mati waktu itu. Apa Yang Mulia tau, mengobati diri sendiri itu lebih sulit daripada mengobati orang lain.”
“Kenapa, kenapa monster itu melindungi jiwamu?” tanya Xavier penasaran sekaligus sedikit kasihan.
Chelsea menatapnya dengan tatapan yang tak bisa diartikan, dia tersenyum tipis. “Karena sebelum dia mengambil alih tubuhku, jiwaku tidak boleh mati. Jika tidak, dia tidak akan bisa menguasai tubuhku sepenuhnya dan dia akan ikut hancur karena kehilangan tempatnya untuk hidup.”
“Bagaimana aku bisa percaya dengan ucapanmu? Lagipula, pasti bisa menyingkirkan monster itu tanpa membunuhmu. Kan?”
Chelsea menggeleng pelan. “Tidak ada cara, Yang Mulia. Aku sudah melakukan semuanya, tapi percuma. Malahan, monster itu semakin meluas dan hampir menguasai semua jiwaku. Itu sebabnya, bunuh aku. Tidak ada waktu lagi untuk berpikir, Yang Mulia. Tolong bunuh aku sekarang atau monster itu yang akan menghabisiku dan kalian semua.”
“Tapi--” Ucapan Xavier langsung terhenti saat Chelsea mengeluarkan sebuah belati dengan ukiran rumit di gagang pisau, Chelsea menyerahkan belati itu pada Xavier.
“Jwngan khawatir, Yang Mulia. Jika kau membunuhku dengan belati ini, maka monster itu akan mati. Aku telah melumuri ujung belati itu dengan racun mematikan, jadi cukup gores sedikit saja dan semuanya akan selesai.”
“Chelsea, kau--”
__ADS_1
“Tolong bantulah aku, aku tidak bisa menghabisi diriku sendiri. Hanya kau yang bisa, Yang Mulia. Takdirmu adalah untuk menghabisi semua iblis dan menjadi kaisar selanjutnya, maka habisi aku sebelum aku menghabisimu.”
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ