Menjadi Antagonis Dalam Novel

Menjadi Antagonis Dalam Novel
Episode 57. Pertemuan dua hati


__ADS_3

“Kau!”


Audrey menoleh ke asal suara. “Apa kau ingin ke alam baka bersamanya?” tanya Audrey sambil melirik Abella dan suaranya yang diubah.


“Chelsea, apa.. apa kau yang membunuh Veronika!?”


“Benar, aku yang membunuhnya. Dan target selanjutku adalah.. kau.” Audrey menunjuk tepat di dada Xavier, dia menghela napas dan memakai tudung jubah. Audrey berlari dari balkon dan dengan sekali lompatan melewati pembatas balkon dan turun dengan sempurna.


Xavier yang tidak mungkin mengejarnya hanya bisa mengecek keadaan Abella, namun dia terlambat lima detik. Gadis itu telah mati meski caranya mati tidak setragis Veronika.


Xavier menoleh ke arah balkon. 'Kenapa kau melakukannya, Chelsea? Aku percaya kau itu bukan orang jahat, tapi hari ini..'


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


“Balas dendammu sudah selesai, apa yang akan kau lakukan selanjutnya?” tanya Neon dengan wajah datarnya yang alami, Audrey mengetuk-ngetuk meja dengan sebelah tangan lainnya menopang dagu.


“Tidak tau, mungkin aku akan mengerjakan tugas terakhirku. Setelah itu, semuanya telah selesai, tidak ada lagi yang bisa kulakukan kecuali menjauh dari kerajaan ini. Jika bisa, aku akan bunuh di--”


Neon tiba-tiba membekap mulutnya dan membuatnya tidak melanjutkan ucapannya lagi. “Jangan katakan itu lagi, aku akan menjadi sedih,” kata Neon dengan wajah tertunduk, dia menurunkan tangannya dan kembali duduk di kursinya.


Audrey berkedip polos, dia tersenyum lembut. “Em, aku mengerti. Aku tidak akan mengatakannya lagi.”


Neon mendongak, dia tersenyum tipis. “Aku akan kembali ke akademi, kau ingin kemana setelah ini?”


“Aku sebenarnya kabur dari kediaman untuk ke akademi, itu sebabnya aku akan kembali agar tidak di curigai.


Neon mengangguk, dia berdiri dengan sebelah tangan yang diangkat ke arah Audrey. Gadis itu tersenyum, dia menerima uluran tangan Neon dan berdiri. “Mari bertemu di tebing saat bulan biru, aku akan memberitahukan semuanya padamu saat itu.”


“Baik, aku pasti akan datang. Jangan terlambat ya, bodoh.” Neon mengacak rambut Audrey gemas, gadis itu berdecak sambil menepis tangan di kepalanya.


“Cepat sana, jika ketahuan. Profesor akan memarahimu.”


Neon terkekeh geli, dia mengangguk dan berjalan pergi. Saat pintu tertutup, Audrey menghela napas. Dia duduk di kursinya dan bersandar. 'Ya, aku akan mengatakan semuanya sejujur jujurnya. Tidak ada lagi yang perlu disembunyikan di akhir kematianku.'

__ADS_1


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


“Nona, Anda seharusnya lebih banyak beristirahat sekarang.” Gina meletakkan mangkuk bubur di meja, dia menatap Audrey yang sedari tadi menutupi seluruh badannya dengan selimut tebal.


Audrey terbatuk-batuk. “Aku baik-baik saja, aku hanya merasa sedikit tidak enak badan.”


“Sedikit?” Gina menghela napas. “Apanya yang sedikit? Anda bahkan tidak bisa meninggalkan kamar sekarang!”


“Aku--”


Ucapan Audrey langsung terpotong saat terdengar suara ketukan pintu. “Siapa?”


“Yang Mulia Putra Mahkota ingin bertemu dengan Nona Audrey.”


“Nona Audrey?” Gina menoleh ke Audrey yang mengambil gelas di meja dan meminum air. “Apa Nona mengajak Yang Mulia bertemu?”


Audrey mengangguk pelan, dia meletakkan gelas di meja dan berdiri. “Aku ingin bertemu, dengannya.”


“Nona, Anda masih sakit! Lebih baik Anda tunggu di sini, biar aku yang memanggil Yang Mulia kemari.”


Gina dengan ragu-ragu mengangguk, dia membantu Audrey keluar dan meninggalkannya bersama beberapa pelayan lain.


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


“Audrey, kau sudah datang. Bagaimana keadaanmu sekarang?”


Audrey berjalan ke arah Xavier dengan tertatih-tatih. “Aku sudah lebih baik, bagaimana kabarmu?”


“Aku baik, aku langsung ke sini karena kau ingin bertemu. Ada masalah apa?”


Audrey berdiri beberapa langkah dari Xavier, sebelah tangannya terus memegangi dadanya.


“Apa kau baik-baik saja?” Xavier hendak melangkah mendekat namun langsung berhenti saat Audrey mengangkat sebelah tangannya.

__ADS_1


“Aku baik-baik saja, aku ke sini untuk mengetahui keadaanmu dan juga ingin kau ikut denganku ke suatu tempat.”


“Hanya itu? Aku pikir ada hal lain,” kata Xavier dengan wajah lesu, Audrey menatapnya dengan tatapan yang tak bisa diartikan. Gadis itu melangkah sedikit demi sedikit hingga sampai tepat di depan Xavier.


Tangannya terangkat dan menyentuh wajah pria di depannya, Audrey tersenyum lembut dengan kepala yang sedikit memiring. “Aku harap, semuanya hanyalah mimpi.”


“Apa maksudmu?”


Audrey seolah tersadar, dia langsung melangkah mundur namun justru tidak sengaja tersandung. Audrey yang tidak bisa menyeimbangkan badannya terjatuh ke belakang namun seseorang tiba-tiba menariknya ke mendekapnya dalam pelukan yang hangat, Audrey terdiam dengan mata membulat.


“Aku berharap, semua yang kita selama ini bukanlah mimpi,” gumam Xavier sambil dengan nada lirih.


Gadis itu tetap terdiam, antara terkejut dan shock. “Xavier, apa kau benar-benar menyukaiku?” tanya Audrey ragu.


Xavier mengangguk pelan. “Sangat, aku sangat mencintaimu. Audrey.”


“Lalu, apa kau rela jika aku mati?”


“Kenapa kau mengatakan hal itu?” tanya Xavier dengan suara parau.


“Aku hanya bertanya.”


“Maka jawabannya adalah tidak, aku tidak akan pernah rela kau pergi meninggalkanku. Jika suatu hari kita benar-benar berpisah, maka aku akan melakukan ritual terlarang seperti Raymond dan membangkitkan jiwamu kembali meski di tubuh yang berbeda.”


“Pertanyaan terakhir, jika kau mengalami kehidupan kedua. Apa cintamu tetap sama? dan apa kau akan mengenaliku meski tubuhku telah berbeda?”


“Ya, aku akan selalu mencintaimu. Entah itu di dunia ini, ataupun di dunia selanjutnya.” Xavier melepaskan pelukannya, dia menangkup wajah cantik di depannya. “Tidak perduli apapun rintangannya, aku akan tetap menjadi milikmu dan selalu seperti itu.”


Audrey terdiam, hatinya seolah berbunga-bunga mendengarkan perkataan pria di depannya. Audrey berdehem untuk menghilangkan rasa gugup yang tiba-tiba melandanya. “Satu hal lagi.” Dia menggantung kalimatnya, Audrey menatap lekat wajah pria yang lebih tinggi darinya itu. Tatapannya sangat sulit diartikan, dia tersenyum sangat manis. “Apa kau akan mengorbankan nyawamu untukku?”


Xavier tidak langsung menjawab, dia hanya diam sambil melihat senyuman manis di wajah gadis yang telah memenuhi hatinya. “Ya, aku akan menyerahkan nyawamu demi kau. Tidak perduli apapun yang terjadi, aku akan terus berdiri di sampingnya dan menjadi pelindungmu.”


Senyuman manis di wajah Audrey perlahan luntur dan digantikan mata yang berkaca-kaca menahan tangis. “Kenapa, kenapa kau sangat baik padaku? Kenapa kau bahkan rela mengorbankan nyawamu demi aku?”

__ADS_1


Xavier tersenyum tipis, senyuman yang selalu membuat hati Audrey berdebar-debar hingga rasanya ingin melompat keluar. “Karena aku.. sangat mencintaimu, meskipun dunia akan berakhir. Aku tetap akan mencintaimu selamanya, aku akan terus bersamamu sampai kematian memisahkan kita berdua.”


Air mata yang berusaha dia tahan akhirnya mengalir keluar tanpa bisa ditahan lagi, Audrey berbalik dan berlari pergi. Dia bersembunyi di balik pohon dan terduduk, Audrey menutup mulutnya dengan air mata yang terus mengalir. 'Jangan seperti ini, aku.. aku benar-benar tidak bisa melakukannya. Kau bisa mendapatkan gadis yang lebih baik lagi, tolong jangan mengatakan itu lagi.'


__ADS_2