Menjadi Antagonis Dalam Novel

Menjadi Antagonis Dalam Novel
Episode 42. Misi


__ADS_3

Lima bulan berlalu dengan cepat, Audrey telah mendapatkan pekerjaan untuk dirinya. Sendirian membuatnya kesepian namun juga menenangkan.


Audrey menyisir rambutnya, dia dengan gaun selutut berwarna hitam. Dia mengikat rambutnya dan memakai cadar berwarna hitam. 'Semuanya telah berubah, kau bukan lagi Audrey. Ini keputusanmu, Alina. Kau tidak boleh menyerah!'


Audrey berdiri, dia berjalan keluar kamarnya. “White, waktunya mengerjakan misi.” Audrey memakai sarung tangan berwarna hitam, dia mengambil katana. White meraung.


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


“Misimu kali ini.” Pria tampan berwajah datar meletakkan secarik kertas kecil berisi gambar seseorang, Audrey mengambil dan membuka kertas itu. Matanya membulat melihat gambar orang di dalam, dia melirik pria di depannya.


“Apa kau yakin?”


“Ya, ini adalah targetmu selanjutnya. Dia biasanya ke rumah bordil untuk menemui gadis-gadis cantik, kau kesana dan menyamarlah.”


Audrey berdecak, dia mengangguk dan berjalan pergi. 'Cih, kenapa harus dia? Dan untuk apa dia ke rumah bordil? Apa dia benar-benar bertemu gadis-gadis cantik, dasar menyebalkan!!' Audrey menepuk-nepuk wajahnya. “Sadarlah, Audrey. Dia bukan lagi tunanganmu, kau tidak ada hak untuk melarangnya!” gumam Audrey sambil menyadarkan dirinya.


White tiba-tiba meraung dan membuat Audrey tersadar, gadis itu berdehem. “Kali ini, kau tidak perlu mengikutiku. Cukup tunggu aku di hutan biasa, aku akan membawa target ke sana.”


White melolong panjang, dia dengan sekali lompatan melewati tembok tinggi yang menjadi penghalang. Audrey berdecak, dia membuka gerbang dan berjalan keluar.


“Ah, Nona Chelsea. Apa kau mendapatkan misi baru lagi?”


“Selamat pagi, Nona Chelsea.”


“Selamat pagi, semuanya. Kenapa kalian tiba-tiba berkumpul di sini?”


“Ketua meminta kami untuk berkumpul, mungkin ada hal penting. Semangatlah mengerjakan misi, jangan biarkan dirimu terluka.”


Audrey tersenyum. “Baik, aku pergi dulu. Ketua ada di ruangannya.”


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


'Di sini kan?' Audrey memperhatikan isi tulisan di kertas kecil yang dia bawa, setelah mencocokkan nama. Dia mengangguk dan berjalan masuk.


“Siapa kau? Ada perlu apa kemari?” tanya prajurit kekaisaran, Audrey menduga-duga. Xavier atau keluarga kekaisaran pasti ada di dalam.


“Tuan-tuan, aku ke sini ingin membicarakan sesuatu dengan Pemilik rumah bordil.”


“Ada urusan apa?”

__ADS_1


Audrey memainkan jemarinya dengan wajah gugup, dia tersenyum seringai. Audrey menatap mata kedua prajurit itu, keduanya seketika terjatuh tak sadarkan diri.


Audrey melepaskan ikat rambutnya. 'Kerja bagus, Laura. Terima kasih mau meminjamkan kekuatanmu padaku.' Audrey menyelipkan rambutnya ke belakang telinga, dia berjalan masuk dengan cadar yang selalu menutupi wajahnya.


Sesampainya di dalam, Audrey melihat sekitaran. Dia tak tau dimana targetnya berada. 'Di sini ada banyak kamar, aku harus ke mana?'


“Hey, kau!”


Audrey menoleh ke asal suara, dia menunjuk dirinya sendiri dan membuat wanita cantik dengan make up tipis mengangguk. “Kemari.”


Audrey berjalan ke arah wanita itu. “Ada apa?”


“Apa kau orang baru yang diminta Nyonya Li?”


Audrey terdiam. 'Nyonya Li? Bukankah dia pemilik rumah bordil ini.' Audrey mengangguk. “Iya, aku kemari karena perintah Nyonya.”


“Baguslah, akuti aku. Tamunya sudah menunggu.”


Audrey mengangguk, dia mengikuti wanita itu ke sebuah ruangan. “Dia ada di dalam, kau masuklah dan ingat. Jangan pernah membuatnya marah.”


Audrey dengan ragu mengangguk, dia memperhatikan sang wanita yang berjalan pergi dengan anggun. Audrey menghela napas, dia melihat sekitaran, suasana di sana benar-benar sangat sepi.


“Oh, kau sudah datang.”


Audrey langsung diam membeku. 'Tunggu, tunggu! Bukankah itu suara Zachary! Kenapa dia bisa di sini??' Audrey melirik ke asal suara, dan benar yang dipikirkannya. Zachary bersandar di dinding sambil melipat tangannya.


“K-kau?” Audrey melangkah mundur, Zachary yang menutup matanya membuka matanya pelan.


Keningnya berkerut sambil memperhatikan penampilan gadis di depannya. “Apa kita pernah bertemu, kau terlihat familier.”


'Uh, sial. Apa dia mengenaliku? Tapi kenapa dia bisa di sini?'


“Kenapa kau tidak menjawab?”


Audrey tersadar dari lamunannya, matanya membulat sempurna. Zachary tiba-tiba berdiri di depannya dan membuatnya terkejut. “A-aku..” Audrey melangkah mundur, namun Zachary terus melangkah maju ke arahnya. “J-jangan mendekat!”


“Kenapa? Kau kemari untuk menghiburku, kan.” kata Zachary dengan diakhiri seringai.


“K-kau!” Punggung Audrey menabrak tembok, dia hendak pergi. Namun tangan Zachary menghalanginya. “Sial, lepaskan aku!”

__ADS_1


“Heh, ada ap-- argh.” Zachary langsung meringis saat Audrey tanpa ampun menginjak kakinya menggunakan sepatu hak tinggi, Zachary melangkah mundur. “Kau! Beraninya kau menginjakku!”


Audrey menatapnya datar, di tangannya sudah ada botol kecil dengan kepulan asap. Audrey membuka botol itu, kepulan asap itu keluar. Seperti tak ada habisnya, kepulan asap itu sampai memenuhi ruangan.


Saat Zachary lengah, Audrey menyerang titik akupuntur dan membuatnya pingsan. Gadis itu berdecak, dia berjongkok di depan Zachary dan mengambil sesuatu dari lengan baju pria itu.


'Akhirnya dapat, dengan ini. Aku bisa berpura-pura menjadi Zachary dan membawa Xavier ke sana.' Audrey terdiam, dia menghela napas. 'Maaf, tapi ini adalah tugasku. Jadi kau harus mati.'


Tiba-tiba, pintu dibuka dan membuat Audrey terkejut. Dia menoleh, namun karena kepulan asap yang tebal. Audrey tidak melihat dengan jelas orang yang membuka pintu.


“Siapa kau?”


Audrey berdiri. “Heh, ternyata kau sendiri yang datang menemuiku. Yang Mulia.”


Xavier terbatuk-batuk karena asap, dia tidak bisa melihat dengan jelas sosok yang berdiri tidak jauh dari tempatnya. Namun, suaranya seolah sangat familier di telinga Xavier. “Audrey? Apa itu kau?”


Audrey terkejut. 'Tunggu, apa dia mengenali suaraku?' Tiba-tiba, sesuatu menerobos jendela dan mengikat pinggang Audrey. Gadis itu terkejut. 'Dia, kenapa dia ada di sini?'


Dia ditarik keluar lewat jendela, Xavier langsung berlari ke arah jendela namun tak melihat siapapun. 'Aku yakin, kau pasti Audrey! Aku sangat memgenali suaramu. Suara lembut itu.. tapi kenapa kau bisa ada di sini?'


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


Audrey berdecak, dia menatap gadis bertelinga rubah yang berdiri di sampingnya. “Setidaknya tariklah aku dengan lembut! Lihat, aku sampai terluka.”


Gadis itu melirik Audrey sekilas dan menghela napas. “Berterima kasihlah, aku sudah menyelamatkanmu. Jadi, apa kau sudah menghabisinya?”


Audrey berdiri dan membersihkan gaunnya yang kotor. “Belum, bukan dia yang ada di dalam kamar. Tapi Zachary, namun. Aku mengambil sesuatu yang bisa membantu kita memancing Xavier ke sini,” kata Audrey diakhiri seringai, Gadis bertelinga rubah itu mengerutkan keningnya.


“Apa?”


Audrey mengeluarkan sebuah kartu yang dia ambil, dia menunjukkannya pada Gadis bertelinga rubah itu.


“K-kartu ini..”


“Ya, kartu kekaisaran.”


“Hem, selamat. Ayo kita kembali dulu, ketua ingin bertemu denganmu.”


Audrey mengangguk, dia berbalik ke arah hutan dan bersiul. Harimau putih berbadan besar berlari dari dalam hutan dan menunduk di depannya, Audrey mengusap kepala White. “Mari kita kembali dulu, kita akan melanjutkan misi ini besok.”

__ADS_1


__ADS_2