
Keduanya menoleh ke asal suara, Eryk dan Zachary berlari kecil ke arah keduanya.
“Kami baik-baik saja, jangan khawatir,” kata Audrey dengan kedua tangan di belakang punggung, dia berusaha menyembunyikan alat-alat yang digunakannya untuk membunuh para bandit.
“Apa kau baik-baik saja? Apa ada yang terluka? Kenapa seragammu penuh darah??” tanya Eryk bertubi-tubi, Audrey menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Dia tidak tau bagaimana harus menjelaskannya.
“Ah, aku baik-baik saja. Aku tidak terluka, jadi jangan khawatir. Soal darah ini, aku tadi tidak sengaja disandera oleh salah satu bandit. Dan untungnya, Yang Mulia menyelamatkanku dan Bella.” Audrey melirik Xavier, pria itu hanya diam sambil memasukkan pedangnya kembali ke sarung pedang.
Xavier kemudian mengambil pedang yang digunakan Audrey tadi dan memberikannya pada gadis itu. “Ambil ini, jangan merepotkanku lagi.”
Audrey mengambil pedang itu sambil mengoceh dalam hati. 'Apa?? Merepotkanku? Heh, bocah sinting. Yang merepotkanmu siapa!? Justru aku yang kau repotkan di sini!' batin Audrey tidak terima, bisa-bisanya dia dianggap merepotkan.
“Eryk, bisa bantu aku untuk membawa Bella? Dia tampaknya shock dan tidak sadarkan diri.” Audrey menoleh ke arah Abella, Eryk mengangguk. Dia berjalan ke arah Abella yang terbaring pingsan dan menggendongnya ala bridal style.
“Maaf merepotkanmu,” kata Audrey tidak enak hati, Eryk tersenyum tipis.
“Tidak masalah, pergilah ke kereta kudamu. Aku akan membawa Abella ke sana.”
Audrey mengangguk, dia berjalan ke arah kereta kudanya dan melihat sang kusir yang sepertinya tak sadarkan diri. Entah karena terkejut atau mungkin tidak sengaja terkena racun dari kunainya tadi.
Audrey menghela napas, dia membuka tasnya dan mengeluarkan sebotol obat dari tasnya. Audrey bergeser ke dekat sang kusir dan membuka tutup botol.
Dia kemudian mengetuk-ngetuk dagunya berpikir. 'Bagaimana caranya agar dia mau membuka mulutnya??'
Audrey menghela napas, dia berusaha membuka mulut sang kusir dari belakang. Cukup menyusahkan untuknya melakukannya sendiri, namun untungnya semuanya berhasil. Dia bisa menuangkan obat itu ke dalam mulut sang kusir.
Dan tidak lama setelahnya, kusir itu terbatuk-batuk dan terbangun. Dia hendak turun, namun tersadar akan belati yang kini tepat berada di lehernya.
“Jangan berteriak, jangan macam-macam. Jika kau tidak patuh, nyawamu akan melayang di angkasa! Sekarang, putar balik dan jalan ke tempat yang diberitahukan profesor. Jika kau membantah..” Audrey menggerakkan sedikit belati dan hampir mengenai leher pria itu.
“Ingat tuan, belatiku sangat beracun. Jika terkena sedikit saja, kau akan mati saat itu juga. Jika kau tidak ingin seperti teman-temanmu. Maka dengarkan ucapanku dengan tenang,” lanjut Audrey dengan eskpresi wajah yang tenang, dia hanya sesekali melirik Abella yang masih tak sadarkan diri.
__ADS_1
“A-aku mengerti, aku akan patuh dan membawa kalian ke tempat yang diinginkan profesor.”
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
“Ah, akhirnya kita sudah tiba.” Audrey meregangkan otot-otot lengannya, wajahnya yang semula cerah berubah bingung ketika melihat suasana desa yang sepi.
Para penduduk hanya menatap datar dari jendela rumah.
'Apa yang sebenarnya terjadi?'
“Selamat datang, kalian anak-anak yang diutus oleh kekaisaran untuk membantu kami. Kan?” tanya seorang pria berkepala 6.
“Ah maaf, kami bukan--”
“Benar, kami adalah anak-anak yang diutus untuk mencari tau keberadaan bunga herbal beracun itu,” jawab Xavier dengan nada datar tanpa ekspresi, Audrey menatapnya bingung.
“Bunga beracun?”
Audrey ber-oh, dia tidak menyangka kalau dirinya yang hanya gadis biasa justru dikirim untuk menyelesaikan misi yang sangat susah untuknya.
“Apa aku akan berguna?” tanya Audrey sambil menatap mereka semua bergantian, dia ragu dengan kemampuannya sendiri. Dia takut dia akan membebani orang lain dan berakhir kegagalan misi.
Xavier tiba-tiba menggenggam tangannya secara diam-diam, Audrey yang terkejut menatap wajah Xavier yang masih tenang seolah tak terjadi apa-apa.
“Jangan khawatir, kekuatan penyembuhanmu sangat dibutuhkan di sini,” kata Zachary dan membuat Audrey menoleh ke arahnya, gadis itu menunduk dan mengangguk kecil. Ada rasa lega di hatinya ketika tau kekuatannya akan berguna di situasi ini.
“Kalian semua istirahatlah terlebih dahulu, Bapak akan mengantar kalian ke kamar masing-masing.” Pria itu berjalan pergi dengan tongkatnya, mereka berlima saling menatap sebelum mengikuti pria itu.
“Silahkan, disini kamar para gadis. Dan di sebelah sini, kamar para pria.”
Kelimanya mengangguk. “Terima kasih, pak kepala desa,” jawab Audrey, pria itu mengangguk dan berjalan pergi.
__ADS_1
Audrey menatap keempat rekannya bergantian. “Semuanya, mungkin untuk hari ini. Kalian boleh istirahat sepuasnya, besok kita akan mulai menyelidiki bencana yang terjadi.”
“Apa aku boleh berkeliling desa?” tanya Eryk.
“Yang Mulia, bagaimana detail kasus ini?” Audrey menoleh ke arah Xavier yang sedari tadi hanya diam dan tak mengeluarkan suara apapun.
Xavier menghela napas. “Hari sudah sore, kembali ke kamar masing-masing. Dan jangan keluar lagi, pastikan untuk mengunci pintu dan jangan membukanya pada siapapun!”
Mereka semua saling melirik dengan wajah bingung, namun tetap mengangguk dan berjalan ke kamar masing-masing.
Setelah Abella berjalan masuk, Audrey menutup pintu kamar dan menguncinya. Dia kemudian menatap dua kasur yang ada di kamar itu dan berjalan ke salah satu kasur.
“Bella, kau tidurlah di situ. Biar aku yang tidur di sini,” kata Audrey, Abella mengangguk dengan wajah pucat. Gadis itu sepertinya benar-benar shock setelah hampir terbunuh siang tadi.
Audrey meletakkan tas di sampingnya, dia kemudian meniup lilin di atas meja dan berbaring. Audrey menarik selimut dan menutup matanya.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Angin berdesir di tengah malam, seorang gadis bertopeng berdiri di atas atap dengan tenang seperti setenang teratai di atas air.
Dengan sarung pedang yang diikat di pinggangnya, pakaian hitam yang agak ketat. Dan topeng rubah merah yang indah, rambutnya dibiarkan terurai hingga terlihat sangat indah dibawa sinar rembulan dan diterpa angin.
Ada anak panah di belakang punggungnya, sebelah tangannya memegang panah.
'Invasi kali ini, sepertinya akan sangat berbahaya.' Gadis itu mendongak ke arah rembulan yang sangat indah tanpa dihalangi satupun awan.
'Cahaya rembulan ini, membuatku merasakan hal berbahaya. Apakah kali ini mereka akan kembali muncul? Jika benar, akan sulit untuk menyelamatkan para penduduk desa.' Gadis itu menghela napas pelan, dia mengambil abu di saku celananya dan melemparnya ke langit. Abu itu secara otomatis terjatuh ke arahnya, seperti sebuah sihir. Badan gadis itu perlahan transparan hingga dia menghilang.
'Aku akan mencari sumbernya dan menyelesaikan misi ini secepat mungkin, desa ini terlalu berbahaya untuk dihuni warga. Dan yang dikatakan Xavier sore tadi, sepertinya malam hari di desa ini sangatlah berbahaya.'
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
__ADS_1