Menjadi Antagonis Dalam Novel

Menjadi Antagonis Dalam Novel
Episode 21. Perpisahan?


__ADS_3

“Warga-warga, invasi Zombie kali ini akan benar-benar sangat menakutkan dan banyak. Jadi semuanya harus masuk ke bangker di ruang bawah tanah dan tidak boleh ada yang keluar sebelum siang hari,” kata kepala desa dengan bijak.


“Pak, karena kami akan pergi seminggu lagi. Kami membuat cincin ini sebagai kenang-kenangan. Harap semua orang bisa selalu memakainya, kata orang-orang. Cincin ini adalah cincin pelindung.” Audrey memperlihatkan cincin biasa yang berwarna merah darah.


“Semuanya, mohon antri agar kami bisa memberikan cincin ini pada semua orang,” kata Abella dengan senyuman manisnya, orang-orang mulai berbaris dan menerima cincin itu. Satu cincin, satu orang.


Hampir sepuluh menit berlalu, semua warga akhirnya mendapatkan cincin yang sama. Sisa empat cincin lagi yang dibagikan untuk satu tim Audrey.


“Nona Audrey, di mana cincinmu?” tanya Abella, dia memakai cincin itu.


Audrey menggaruk pipinya. “Cincinku.. aku tidak perlu cincin! Aku memiliki kalung yang diberikan Ayahanda, itu sudah cukup!”


“Begitu ya?”


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


Chelsea memakai cadar, dia kemudian memasukkan satu botol bubuk hitam ke dalam panci besar yang diisi setengah air.


Chelsea kemudian memasukkan botol bubuk merah, coklat, abu-abu, dan putih. Setelahnya, Chelsea mengaduk semuanya hingga jadi satu.


Dia kemudian mengambil beberapa daun-daun yang tampak bercahaya dan dimasukkan kedalam panci, dan kemudian kembali mengaduknya.


Tiba-tiba, tercium bau harum dari dalam panci. Chelsea tersenyum tipis, dia mengambil pisau dan mengiris jarinya. Darah yang menetes itu langsung masuk ke dalam panci.


'Sempurna, dengan ini. Perlindungan mereka akan seratus persen aman, jika hanya cincin. Aku takut cincin itu tidak bisa menahan racunnya meskipun sudah terkena darahku.'


Chelsea kemudian mematikan apinya dan berjalan pergi, dia meninggalkan panci itu hingga dingin.


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


Audrey menguap, tidurnya terasa tidak nyenyak kemarin malam. Dia kemudian menatap Abella yang tampak sibuk menulis sesuatu di bukunya.


“Kau sedang apa?” tanya Audrey, Abella meliriknya sekilas dengan senyuman tipis.


“Karena merasa bosan di sini, aku jadi menulis semua hal yang kita alami. Mulai dari saat diserang bandit dan kemudian diserang harimau.”

__ADS_1


Audrey ber-oh, dia berdiri dan berjalan keluar sambil memasukkan kedua tangannya ke saku jaket.


Dia berjalan-jalan di sekitar desa sambil menyapa beberapa warga yang tengah mengurusi urusan mereka masing-masing.


“Kakek, apa perlu bantuanku?” tawar Audrey ketika melihat seorang kakek tua yang tengah berusaha mengangkat keranjang sayur-sayuran yang dipanen.


“Terima kasih, nak.”


Audrey tersenyum manis, dia mengangkat keranjang itu dan mengikuti si kakek tua. Hanya butuh waktu satu menit untuk sampai di rumah kakek itu, Audrey sedari tadi memperhatikan si kakek yang berjalan sambil membungkuk.


“Apa punggungmu sakit?” tanya Audrey dan membuat kakek itu menoleh.


“Ini sudah biasa, nak. Semakin tua umur kita, semakin rentan badan kita.”


“Apa ingin kubuatkan ramuan herbal? Aku cukup alih membuat ramuan-ramuan untuk sakit punggung.”


“Baiklah nak, letakkan keranjang itu di sana.” Kakek itu menunjuk kasurnya yang sudah hampir rusak, Audrey menatap simpati. Dia tiba-tiba mendapatkan ide yang bagus.


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


“Kalian ini tidak punya perasaan ya!!” kesal Audrey, padahal masukannya sangat bagus. Namun malah ditolak oleh keempat orang di timnya.


“Baiklah, jika kalian tidak ingin melakukannya. Biar aku saja!” Audrey menghentakkan kakinya ke tanah, dia kemudian berjalan keluar dengan kesal dan amarah.


“Apa sebaiknya kita menyusulnya?”


“Tidak perlu, biarkan dia sendiri. Kau tidak ingin kan dijadikan pelampiasan.” Xavier menatap Eryk yang tiba-tiba bergidik setelah mendengar ucapannya.


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


'Bagaimana caranya membawa banyak barang kemari?' Audrey mengetuk-ngetuk dagunya berpikir, dia benar-benar kehabisan ide sekarang.


Audrey menghela napas, dia bersandar di kursi dan mengetuk-ngetuk meja di sampingnya.


“Apa kugunakan saja ya?” gumam Audrey, dia lagi-lagi menghela napas untuk kesekian kalinya. Audrey berdesah frustrasi, dia benar-benar tidak tau harus melakukan apa sekarang ini.

__ADS_1


Audrey berdiri dan berjalan ke arah jendela, dia menatap datar matahari yang kini tengah terbenam. 'Apa aku begitu lama berpikir sehingga tidak sadar kalau matahari sudah terbenam??'


Dia kembali menghela napas, Audrey berjalan ke arah laci kasurnya dan membukanya. Dia kemudian mengeluarkan sesuatu dan menatap benda itu lekat.


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


“Oh ayolah, di mana Audrey?? Kita sedang kesulitan melawan para zombie, tapi dia dengan santai bersembunyi bersama para warga!” gerutu Eryk sambil menebas tangan dan kaki zombie, namun mau bagaimanapun. Semua yang telah dia tebas kembali tumbuh.


“Jangan banyak mengoceh, kita harus menghabisi semuanya sekarang!”


Disisi lain, seorang gadis yang tengah berdiri di atas atap menatap tak minat pertarungan di depannya. Chelsea, gadis itu bahkan tidak membawa senjata apapun kecuali tas kecil yang tidak ada yang tau apa isinya.


Angin berhembus dan membuat daun-daun kering beterbangan, Chelsea menghela napas pelan. Dia mengangkat tangannya ke langit.


Tiba-tiba, angin mengelilinginya seperti tornado. Chelsea mengarahkan tangannya ke depan, angin itu dengan kecepatan sedang melaju ke arah para Zombie.


“Menyingkir jika kalian tidak ingin mati,” kata Chelsea dengan nada datar, secara refleks. Zachary menarik tangan Abella menjauh, sementara Eryk dan Xavier melompat ke belakang.


Tornado itu menyedot semua zombie dan membuat mereka terbang berputar-putar, Chelsea membuka tasnya dan mengeluarkan sesuatu.


Dia kemudian melempar sebuah sebuah giok hijau yang agak bercahaya, giok itu langsung tersedot oleh tornado. Tiba-tiba petir menyambar tepat di tempat tornado itu berada, teriakan memilu terdengar jelas dari dalam.


Chelsea tersenyum tipis dan berbalik, dia hendak berjalan pergi namun Xavier tiba-tiba menggenggam tangannya.


“Kau.. ingin kemana?”


Chelsea melirik Xavier. “Yang Mulia, misiku sudah selesai. Jadi aku akan pergi, semuanya telah usai. Kau boleh melaporkan misimu pada Yang Mulia kaisar dan kembali besok.”


“Kenapa?? Apa kau tidak bisa tinggal di sini?”


“Yang Mulia, kau tentu tau. Aku bukanlah orang-orang dari keturunan mulia seperti kalian semua, di dunia ini. Aku hanyalah rumput liar yang selalu di injak.” Chelsea berbalik dan menatap Xavier, dia kemudian mengeluarkan sesuatu dari tasnya dan memberikannya pada Xavier.


“Yang Mulia, sebagai seorang calon Putra Mahkota. Banyak musuh yang mengincar nyawamu, jadi simpan giok ini dan bawa kemanapun. Batu giok ini akan melindungimu jika terjadi sesuatu.” Chelsea melepaskan genggaman Xavier dan berjalan mundur dengan senyum tipisnya.


“Semoga kita bisa bertemu lagi, Yang Mulia.” Gadis itu langsung terjun, Xavier hendak menariknya namun terlambat. Saat dia melihat ke bawah, tidak ada siapapun. Chelsea seolah ditelan bumi secara tiba-tiba.

__ADS_1


Xavier melihat batu giok di tangannya, ada getaran aneh di hatinya.


“Yang Mulia! Lihat ini!!”


__ADS_2