
Hampir tiga jam berlalu, namun kereta masih tak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Audrey dengan bosan mengetuk-ngetuk kursi dan membuat nadanya sendiri.
Mereka hanya sering mampir di toko-toko untuk membeli makanan dan mengisi perut, setelahnya perjalanan kembali dilanjutkan dan kebosanan kembali melanda.
“Nona Audrey,” panggil Abella dan membuat nada yang dibuat Audrey langsung rusak, dia menoleh dengan kening berkerut.
“Apa Nona tidak merasakan hal aneh? Sedari tadi, jalanan di sekitar sini sangat sepi, bahkan satu pun orang tidak terlihat di jalanan. Apa kita tidak tersesat?”
Audrey menoleh keluar jendela, dia baru sadar akan hal yang diucapkan Abella. Suasana jalan sangat sepi dan mencurigakan sekaligus mencekam, meskipun masih siang hari. Tetapi pepohonan lebat yang mengelilingi jalan cukup untuk membuat suasana terlihat menyeramkan.
“Permisi pak, apa kita tidak salah jalan?” tanya Audrey pada pak kusir.
“Tidak Nona, jalannya sudah benar.”
Audrey bersandar sambil menatap penuh selidik ke arah pak kusir, ada keanehan pada diri pria yang kini tengah mengendalikan kuda-kuda.
“Berhenti di sini!” kata Audrey cepat, Abella menatapnya bingung.
“Ada apa, Nona? Kita belum sampai di tempat tujuan.”
“Jangan banyak tanya! Apa yang kau inginkan??”
“Ap--”
“Heh, ternyata kau sudah tau ya?” pria yang menjadi kusir berucap dengan nada rendah, sekelompok orang dengan slayer hitam yang menutupi wajahnya tiba-tiba muncul di depan kedua kereta kuda.
“Berhenti dan serahkan semua barang-barang berharga kalian!”
Abella yang mendengar suara teriakan sontak menutup telinganya ketakutan, Audrey turun dari kereta kuda dan berjalan ke arah beberapa pria berbadan kekar yang dia sangka adalah bandit. Dan mungkin yang menjadi kusir di kereta mereka adalah komplotan bandit.
“Wah, wah, wah. Lihatlah gadis cantik ini,” ucap salah satu pria, Audrey menatap mereka semua dengan tenang. Tak ada sedikitpun rasa takut atau putus asa di matanya, hanya ada ketenangan seperti teratai di atas air.
__ADS_1
Salah satu dari mereka melangkah ke Audrey dan mengangkat tangannya hendak menyentuh wajah gadis itu, namun tangannya langsung dipelintir oleh Audrey.
“Jangan menyentuhku, Tuan. Aku benci itu,” kata Audrey disela-sela teriakan pria itu, beberapa orang berlari ke arahnya dengan senjata yang diangkat seolah siap memotong Audrey kapanpun.
“Apa kalian begitu ketakutan sehingga tidak berani menyerang seorang gadis sendiri-sendiri?” tanya Audrey dengan nada sindirannya yang begitu pedas, mereka saling menoleh.
Salah satu dari mereka maju sambil hendak mengayunkan kapak di tangannya, untungnya. Audrey dengan cepat menghindar sehingga kapak itu terjebak di tanah, Audrey memanfaatkan hal itu dan memukul perut pria itu.
Dia kemudian menariknya kapak di tanah, Audrey cukup kesusahan karena berat kapak yang tidak sesuai perkiraannya.
'Apa aku gunakan saja ya?' batin Audrey berpikir, tiba-tiba. Seseorang menyelinap di belakangnya dan hendak menusuknya dengan pedang, namun seseorang sudah lebih dulu menahannya dengan pedang lain hingga menimbulkan suara dentingan.
Audrey tersadar dia telah lengah dan nyawanya hampir saja melayang, dia menoleh ke belakang dan berdecak. “Kenapa kau kemari?”
“Seharusnya kau tidak keluar dari kereta kuda!” jelas Xavier dengan nada datarnya, dia mendorong pedang lawannya dan langsung menghunuskan pedangnya ke arah perut lawan dan merobeknya dengan sekali sentakan.
Audrey terkejut, namun dia segera berlari ke arah kereta kuda yang dia naiki dan Abella. Xavier pikir kalau gadis itu telah ketakutan dan kembali untuk bersembunyi.
“Apa kau bodoh!?” teriak Xavier sambil menahan pedang lawan, Audrey tak memperdulikannya sama sekali. Dia terus menyerang para bandit seperti sedang menari, sangat lihat dan indah. Pakaian asrama gadis itu bahkan terkena darah dari para bandit.
Xavier tertegun, dia tak mengira gadis manja dan sombong itu ternyata sangat ahli menggunakan senjata. Bahkan disetiap gerakannya sangat berbahaya dan indah, dia kini seperti Dewi perang yang datang membantu disaat-saat genting.
Disisi lain, dua pria juga tengah bertarung dengan beberapa bandit yang menyerang kereta kuda mereka. Keduanya cukup kewalahan, namun semuanya masih dalam kendali.
Tidak ada yang memperhatikan Abella yang terus meringkuk di dalam kereta kuda dengan mata terpejam erat dan kedua tangan yang menutupi telinganya.
Salah satu pria membuka pintu kereta kuda dan menarik Abella secara paksa, gadis itu tentu memberontak. Namun pria itu langsung meletakkan pisau di samping lehernya sambil berkata. “Jika kau tidak diam, maka aku akan menghabisimu!”
Abella dengan pasrah mengikuti pria itu, pisau terus diarahkan ke lehernya hingga dia benar-benar takut untuk berbuat apapun.
“Berhenti atau kuhabisi gadis ini!”
__ADS_1
Xavier dan Audrey berhenti bertarung, keduanya menatap ke asal suara dan melihat Abella yang tengah disandera.
“Buang pedang kalian dan berikan semua harta berharga kalian!” kata pria itu dengan tegas, Audrey dan Xavier saling melirik.
Audrey mengangguk kecil dan melempar pedangnya ke depan, Xavier juga melakukan hal yang sama. Pria yang menyandera Abella tersenyum penuh kemenangan.
Audrey tersenyum simpul, hal itu membuat semua orang yang melihatnya terpanah. Begitu pula dengan Xavier yang menatapnya tanpa berkedip.
Dia memanfaatkan hal itu dan langsung melempar kunai tepat di dahi pria yang menyandera Abella, suasana seketika tegang. Pria yang menyandera Abella tak bergerak karena terkejut, darah mulai mengalir keluar dari luka yang disebabkan kunai.
Pria itu langsung terjatuh bersimbah darah.
“Gadis sialan!!” teriak salah satu dari mereka setelah melihat bos mereka mati dengan mudah.
Audrey mengeluarkan dua belati dari lengan bajunya, dia mulai menyerang mereka semua yang mengepung. Audrey hanya menggores sedikit saja dan orang yang terkena goresan langsung terjatuh dengan mulut yang mengeluarkan busa.
“Belatinya memiliki racun mematikan loh,” kata Audrey diakhiri kedipan mata dan senyuman manis, Xavier tersadar dari rasa kagumnya. Dia mengambil pedang yang dia lempar ke tanah dan membantu Audrey untuk menghabisi sisa bandit.
Akhirnya, para bandit tewas di tangan keempatnya. Sementara beberapa bandit lainnya lari terbirit-birit.
Audrey tersenyum manis, dia berjalan ke arah mayat pria yang menyandera Abella dan menarik kunai yang menempel di dahi pria itu. Audrey mengusap darah di kunainya dan menghela napas pelan.
“Aku tidak tau kau sangat hebat dalam hal beladiri.”
Audrey melirik ke arah Xavier dengan senyuman tipis. “Aku tidak selemah yang dilihat, jika kau berpikir aku lemah.” Audrey berbalik ke arah Xavier.
“Maka kau sungguh naif, ingat. Yang Mulia, kecantikan bisa menjadi racun yang mematikan.”
Xavier mengangguk membenarkan, dia melihatnya dengan mata kepalanya sendiri.
“Apa kalian semua baik-baik saja??”
__ADS_1
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ