
'Aku tidak tau apa yang terjadi, hingga suatu hari. Seseorang datang menemuiku, dia selalu mengenakan jubah dan menutupi seluruh tubuhnya. Namun dari suaranya, aku sadar. Dia seorang pria, tapi dia sangat baik padaku. Setiap rasa sakitnya kembali, dia selalu datang dan menghiburku hingga aku lupa dengan rasa sakit yang telah menggerogoti tubuhku selama bertahun-tahun. Er, dia selalu mengatakan itu namanya. Memiliki sahabat pertama itu sangat mengharukan bagiku, tapi hal itu tidak lama. Karena kedatangan Abella, dia merebut semuanya. Merebut Er, merebut keluargaku, dan bahkan merebut kekuatanku.'
Audrey terus membaca sambil mengetuk-ngetuk dagunya berpikir, pikirannya sangat rumit karena buku yang dia baca meski baru dua lembar.
'Abella, aku membencinya! Dia selalu menganggu kehidupanku dengan senyumannya yang palsu, membuat semua orang percaya dan memanfaatkannya. Aku benci Abella, sangat, sangat membencinya! Setelah kepergian Er bersama Abella. Entah kenapa, aku merasa sakit di dadaku. Namun kali ini, sakitnya berbeda dari penyakit yang kuderita selama bertahun-tahun. Sakit yang kualami saat itu sangat aneh dan tidak bisa kujelaskan. Aku pernah menemui seorang peramal seorang diri, dan setelah dia meramal dan memberitahuku. Aku mengerti kenapa mereka ingin aku terus meminum obat aneh yang tak kukenali, obat itu terus membuat rasa sakitnya kembali datang setelah aku meminumnya. Dan suatu hari, pelayan mengantarkan obat yang sama. Tapi obat itu sebenarnya berbeda, setelah aku meminumnya. Aku muntah darah dan sakit selama beberapa hari, rasa sakit di dadaku juga-- dan juga apa??' Audrey memukul keningnya, dia memperhatikan robekan kertas yang disengaja.
'Apa ada hal penting hingga seseorang merobek dan membuat kertas itu?' Audrey membalik halaman lain, namun semuanya masih utuh kecuali satu kertas itu. Hal itu semakin memperkuat kecurigaannya tentang hal penting yang sepertinya ingin disembunyikan seseorang.
Suara ketukan pintu membuat Audrey gagal fokus, dia segera memasukkan buku itu kembali ke laci dan menutupnya.
“Audrey, apa kau ada di dalam?”
“Iya, Kak. Buka saja pintunya.” Audrey menutup matanya dan berusaha untuk tetap tenang, dia kemudian menoleh ke arah Damien dengan senyum.
“Kak Damien, ada apa?”
“Audrey, aku dengar dari Ayahanda, Kak Caesar dan Mike. Kau sedang sakit, apa kau tidak apa-apa?” Damien hendak menyentuh dahi Audrey, namun gadis itu dengan cepat menghindar.
“Aku baik-baik saja kak, mungkin.. tadi hanya sedikit pusing saja.”
“Begitu ya? Kalau ada apa-apa, beritahu Kakak. Mungkin kakak bisa membantu.”
Audrey mengangguk, Damien mengusap rambut Audrey dengan lembut disertai senyuman tipis.
“Jaga kesehatanmu ya, kakak tidak ingin kau terluka. Apalagi sampai sakit.” Damien mencubit pipi Audrey, gadis itu mengangguk pelan.
“Kak Damien juga, tapi kenapa kakak bisa ada di sini? Bukankah kakak masih harus melakukan pemulihan di kekaisaran?” tanya Audrey bingung, dia baru ingat kalau suara Damien juga terdengar ketika dia berpura-pura tertidur.
“Ah soal itu, kakak sudah merasa lebih baik. Itu sebabnya kakak pulang, kakak juga tidak ingin merepotkan Putra Mahkota dan keluarga kekaisaran lebih lama lagi.”
'Aduh, kalau Damien kembali ke kediaman. Itu artinya aku akan semakin kesusahan untuk mencari tau obat yang sering diberikan dan dicampur oleh keempat keluarga ini! Astaga, aku harus mencari cara agar Damien atau kaisar pergi dari kediaman selama beberapa hari.'
“O-oh, begitu ya?”
__ADS_1
“Ada apa? Kau terlihat tidak terlalu senang.”
Audrey memaksakan senyuman. “A-aku senang, bahkan sangat senang karena Kakak sudah kembali.”
Damien mengusap rambut Audrey lembut.
“Baguslah kalau begitu, kau istirahatlah. Kakak akan keluar.”
Audrey mengangguk kecil, Damien tersenyum tipis dan berjalan keluar. Dia melirik Audrey sekilas sebelum menutup pintu.
Audrey memijat pelipisnya, dia menghela napas dan berbaring. Tiba-tiba, Audrey teringat dengan buku Audrey asli. Dia bangun dan membuka laci meja kemudian membukanya.
Keningnya tampak berkerut sambil membuka halaman lain. 'Kenapa semua halamannya kosong? Bukankah tadi masih memiliki tulisan??'
Audrey menutup buku itu dengan wajah bingung, dia meletakkan buku itu di meja dan menghela napas.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Grand Duke yang tengah berkencan dengan berkas-berkasnya sontak terkejut mendengar suara Audrey yang tiba-tiba berdiri diam di depan pintu.
“Audrey? Ada apa tiba-tiba ingin bersekolah di akademi?” tanya Grand Duke bingung, Audrey melangkah masuk dan duduk di depan meja Grand Duke.
“Sebelum aku pergi ke taman surga itu, Ayahanda memberikan surat dari akademi kan? Dan aku sudah mengambilnya. Aku kemari hanya untuk memberitahu Ayahanda kalau aku akan ke akademi.”
Grand Duke menghela napas, dia memijat pelipisnya pusing. “Baiklah, tapi kau akan berangkat bersama Mike.”
Audrey mengangguk, dia berdiri dan berjalan keluar dengan wajah datar yang selalu menghiasi wajahnya.
Audrey menutup pintu ruangan dan berjalan pergi sambil bersenandung kecil. 'Jika aku tetap di sini, aku bisa-bisa bertemu dengan pemeran utama sesuai alur yang ditulis. Jadi aku harus pergi ke akademi, akademi Kak Mike sepertinya aman-aman saja.. jadi aku tidak perlu terlalu khawatir lagi.'
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Audrey merapikan barang-barang yang akan dia bawa ke akademi, siang nanti. Dia dan Mike akan berangkat bersama karena perintah Grand Duke.
__ADS_1
“Nona Audrey, Tuan Muda Mike sudah menunggu Anda di bawah,” kata pelayan sambil mengetuk pintu.
“Sebentar lagi aku akan turun.” Audrey mengambil tasnya dan berlari kecil ke bawah, di halaman kediaman. Grand Duke, Damien, Caesar dan Mike sudah menunggunya.
“Selamat siang, kalian semua,” sapa Audrey sambil memamerkan senyum manisnya, namun berbeda dengan ekspresi keempat pria di depannya yang justru menunjukkan ekspresi keberatan.
“Ayo, Audrey.”
Audrey mengangguk dan mengikuti Mike, dia melewati ketiga pria yang menatapnya dengan tatapan yang berbeda-beda.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Kereta kuda yang dinaiki keduanya sampai di depan gerbang akademi, Mike turun terlebih dahulu dan kemudian membantu Audrey turun.
Sekilas gadis itu mengumamkan kata-kata kekagumannya, meskipun pernah membacanya di dalam novel. Tetap saja, akademi di depannya jauh lebih indah dibanding yang dia bayangkan dulu.
“Ayo,” ajak Mike sambil mengandeng tangan Audrey, gadis itu mengangguk dengan semangat dan mengikuti Mike sambil memperhatikan sekelilingnya.
“Selamat siang, Profesor. Perkenalkan, dia adikku. Audrey.”
Audrey membungkuk sopan di depan seorang wanita berkacamata yang tersenyum formal.
“Selamat datang, Nona Audrey. Tuan Muda Mike.”
“Profesor, tolong antar adikku untuk ke asramanya. Biar aku yang akan memberitahu adikku tentang akademi ini.”
“Baiklah, kau istirahatlah dulu. Aku akan mengantar Nona Audrey. Mari.”
Audrey mengangguk kecil sambil mengikuti Profesor yang telah berlalu pergi, dia melirik Mike yang tampak melambaikan tangannya sambil tersenyum tipis.
Audrey tersenyum tipis, dia berlari kecil dan menyamai langkah Profesor wanita itu.
“Profesor, apa Anda soal gadis yang dihuni ratu iblis?”
__ADS_1