Menjadi Antagonis Dalam Novel

Menjadi Antagonis Dalam Novel
Episode 22. Akademi


__ADS_3

“Apa yang terjadi?” tanya Xavier dengan wajah bingung, kenapa tiba-tiba ada banyak warga yang tergeletak di tanah tak sadarkan diri. Terlebih lagi, para warga itu pingsan di tempat tornado tadi berputar.


“Tidak tau, tadi anginnya tiba-tiba mereka dan orang-orang ini jatuh pingsan. Bahkan para Zombie itu menghilang tanpa sebab.” Eryk berkacang pinggang, dia tampak tidak mengerti dengan kejadian yang terjadi di depan matanya.


Chelsea melihat dari balik pohon, dia bersandar di pohon itu dan menghela napas. Chelsea membuka topengnya dan melemparnya ke tanah, dia memegang dadanya yang terasa sakit.


'Hey monster, kau seharusnya tidak perlu keluar lagi kan? Aku sudah melakukan hal yang kau inginkan, jadi jangan gunakan tubuhku lagi untuk menghabisi seseorang.'


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


“Maafkan kami, pak kepala desa. Kami benar-benar tidak sadar akan apa yang kami lakukan.” Seorang pria mewakili semua orang membungkuk hormat di hadapan kepala desa.


“Tidak apa-apa, kita juga tau semua yang terjadi. Syukurnya, ada seorang wanita yang bisa membuat penawarannya dan menyembuhkan kalian.”


Eryk, Abella, Zachary, dan Xavier berdiri di belakang kepala desa. Sedari tadi, Eryk terus menoleh ke kanan-kiri namun tak menemukan keberadaan orang yang dicarinya.


“Di mana Audrey?” bisik Eryk pada Abella yang berdiri di sampingnya.


“Aku tidak tau, Nona Audrey sudah menghilang saat aku bangun. Barang-barangnya juga tidak ada di rumah.”


“Apa dia sudah kabur, ya?” gumam Eryk sambil memegang dagunya. “Mungkin saja Audrey tidak tahan di sini terlalu lama, makanya dia kabur dan pulang sendirian.”


“Juga untuk kalian, terima kasih sudah mau menolong desa ini. Tapi di mana Nak Audrey?”


“Tidak ada masalah, pak. Kami semua senang membantu kalian, dan soal Audrey. Dia mungkin sudah pulang karena tidak enak badan,” kata Abella.


“Begitu ya, jadi apa kalian semua akan pulang hari ini?”


“Iya, pak. Karena semuanya sudah kembali normal, kami akan kembali ke akademi hari ini,” kata Abella, Pak kepala desa mengangguk.


“Baiklah, berhati-hatilah dijalan.”


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


“Apa? Audrey tidak kembali ke akademi?” tanya Eryk, Mia mengangguk.


“Iya, aku belum melihatnya sejak kemarin. Apa mungkin Audrey kembali ke kediaman Tuan Grand Duke?” tebak Mia, Eryk mengetuk-ngetuk dagunya.


“Bisa juga sih, tapi apa mungkin Audrey kembali tanpa memberitahu Mike sama sekali?”


“Loh, Mike tadi izin pulang.”

__ADS_1


Eryk menatap Mia, dia kemudian mengangguk kecil dan berjalan pergi. Mia berbalik badan dan berjalan ke perpustakaan.


'Semoga Nona Audrey baik-baik saja.' batin Mia, dia membuka pintu perpustakaan dan berjalan masuk.


“Nona Mia, Anda datang kemari?”


“Erika, bantu aku mencari tau keadaan Nona Audrey sekarang.”


“Nona Audrey? Ah, putri manja Tuan Grand Duke kan? Ada apa memangnya??”


Mia menggeleng. “Aku tidak tau, aku merasa khawatir dengannya.”


“Khawatir?? Kau sungguh lucu, Mia. Kau bahkan baru bertemu dengannya beberapa kali dan kau bilang kau khawatir??”


“Sudahlah, Erika. Bantu aku mencarinya, aku akan menyuruh ‘dia’ juga.”


Erika menghela napas dan melambaikan tangannya. “Baiklah, baiklah. Aku akan mencari tau keadaannya nanti.”


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


Audrey menatap ruangan gelap tanpa penerangan sedikitpun, dia melihat sekelilingnya namun tak menemukan secercah cahaya. Seolah dirinya telah masuk ke dalam kegelapan seutuhnya.


“Audrey.”


“Maaf, aku tidak bermaksud ingin membawamu ke tempatku. Tapi aku ingin memberitahu sesuatu padamu.”


“Sesuatu? Sesuatu apa?” tanya Audrey, orang itu berbalik badan dan mengangkat tangannya ke depan. Tiba-tiba, sebuah istana megah muncul di ruangan gelap itu.


“Kenapa kau-- eh, kau kemana?” Audrey menatap sekeliling namun tak menemukan orang yang dia ajak berbicara, Audrey menggaruk pipinya. Pintu istana megah itu.


Audrey tanpa ragu melangkah masuk ke dalam istana, pintu itu tertutup dan mengabur kemudian menghilang.


Audrey berdecak kagum, dia menatap seisi istana itu sambil mengumamkan kata-kata pujian.


Empat orang anak kecil berlarian di dalam istana, jika dari yang Audrey lihat. Tiga diantaranya adalah Caesar, Mike, Damien dan gadis kecil itu adalah Audrey asli.


Keempatnya berlari ke arah Audrey, gadis itu hendak menghindar namun keempatnya menembus dirinya seperti hantu.


Audrey melihat kedua kakinya yang tiba-tiba transparan, orang yang diajaknya berbicara tadi kembali muncul di depannya dan memegang wajah Audrey. Sama sepertinya, orang itu juga mulai menghilang, dia menatap Audrey sambil tersenyum.


“Audrey, ku-har-ap.. ka-u bis-a me-ng-ont-rol, kekuatanku.. ja-ngan sam-pai, kau.. kehi-langan, ja-ti dirimu.” Orang itu menghilang, Audrey terdiam sebelum gelap semakin menguasai pandangannya. Dia tersenyum tipis.

__ADS_1


“Baik, Audrey,” kata Audrey sebelum menghilang, istana itu seketika roboh setelah keduanya menghilang. Seperti sebuah pohon tua yang tidak memiliki penopang.


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


“Tabib, apa adikku benar-benar tidak bisa disembuhkan?”


“Maaf, Tuan Muda. Tapi ‘dia’ telah menguasai setengah dari jiwa dan raga Nona Audrey. Mustahil kalau bisa menghentikannya sampai mengambil alih raga Nona.”


Samar-samar, terdengar suara dua orang yang berbicara. Juga terdengar suara isak tangis yang sangat dekat dengannya.


Audrey berusaha membuka kedua matanya yang terasa berat. “I-bu..”


“Audrey, sayang. Kau sudah bangun??” tanya seorang wanita dengan mata sembah, Audrey membuka matanya perlahan. Matanya seolah diberi lem hingga tidak bisa dibuka. Namun untungnya, dia berhasil membuka matanya dan menatap sekitaran dengan samar.


“Bi-bi?”


“Iya sayang, ini bibi Cornelia.”


“Bi-bi, di.. mana. Ibu?”


Cornelia terdiam, dia tak paham dengan yang diucapkan keponakannya itu. “Audrey, ibumu sudah tiada. Kan?”


Tiba-tiba, air mata mengalir di wajah Audrey.


“Ibu.. sudah tiada?”


“Nona Audrey!!” teriak Gina, pelayan pribadi Audrey sambil berlari masuk, namun dia langsung mengatupkan mulutnya rapat-rapat ketika melihat tatapan nyalang dari Mike.


“Maaf atas ketidaksopanan hamba. Tuan Muda, Nyonya, tabib, dan Nona.” Gina segera membungkuk hormat, dia benar-benar merutuki kebodohannya yang berteriak memanggil nama Nonanya.


“Ah, tidak apa-apa Gina. Bagaimana kabarmu sekarang? Sudah lama kita tidak bertemu.” Cornelia tersenyum basa-basi, namun ekspresi yang dikeluarkan Gina seperti dia ingin memakan gadis itu hidup-hidup.


Audrey memegang kepalanya yang terasa sakit, dia tersenyum tipis. “Tidak apa-apa Gina, kau tidak perlu berbicara seformal itu.”


“Bibi, Kakak dan tabib. Terima kasih telah merawat dan menjagaku, sebaiknya kalian istirahatlah dulu. Aku sudah merasa lebih baik sekarang, Gina juga bisa menjagaku.” Audrey melirik Gina yang seketika merinding, apalagi melihat tatapan tajam dan Cornelia.


Dia langsung membungkuk hormat. “Ha-hamba berasa terhormat, Nona. Tapi hamba pikir, hamba tidak layak menjaga Anda.”


“Tidak apa-apa, Gina, jika itu permintaan keponakanku. Maka aku akan membiarkanmu menjaganya,” kata Cornelia sambil tersenyum manis, meskipun tatapan tajam masih terarah ke Gina yang langsung berkeringat dingin.


Cornelia berdiri. “Istirahatlah dengan baik, kami akan keluar. Gina, tolong jaga Nona Audrey ya.”

__ADS_1


“Ba-baik, Nyonya.”


__ADS_2