Menjadi Istri Untuk Pengasuh Suamiku

Menjadi Istri Untuk Pengasuh Suamiku
Bab.11 ~Di kamar mandi


__ADS_3

"Bagaimana ya?" batin Sinar, melihat ke arah kain yang menutup tubuh bagian bawah Surya.


"Keluarlah!" pinta Surya.


"Tidak bisa, Tuan. Saya harus menyelesaikan pekerjaanku dulu sebelum keluar," jawab Sinar.


"Tidak! Kau mau apa?" bentak Surya.


"Mau buka celana," jawab Sinar santai.


"Astaga! Kau tidak tahu malu!" ucap Surya seraya mengeratkan satu tangannya di bagian pembuka celana yang pakainya.


"Tuan. Ayolah, jangan membantah terus! Kapan pekerjaanku akan selesai!" kesal Sinar.


"Terserah! Aku mandi seperti ini saja!" pinta Surya.


"Aku sekarang lebih banyak bicara," gumam Sinar.


"Apa kau mengumpatiku?"


"Tidak Tuan. Baiklah sekarang kita mandi."


"Kita? Kau juga?"


"Oh, emp tidak. Kau saja, aku hanya membantu." jawab Sinar.


Sinar memulai mengiram air di badan Surya, kemudian kepala juga, mengambil shampoo dan memulai keramas. Sinar melakukannya dengan telaten lalu menyabuni.


Sinar mengambil sabun dari tempatnya, memberi sedikit air dan mulai mengosok, dari leher belakang hingga turun ke dada pria yang berada di depannya.


Surya tak sanggup menatap Sinar, rasanya dia sangat malu sekali dan sentuhan-sentuhan tangan wanita itu membuat buluh kuduknya berdiri. Sebagai pria normal, walaupun cacat tapi jiwa kelelakiannya tetap sama seperti dulu, sangat sensitif dengan sentuhan-sentuhan wanita.

__ADS_1


"Iisshhh!" ringis Surya saat tangan Sinar bermain di bidang datang milik Surya, hingga ke perut dan bermain-main di sana.


Sinar menatap Surya intens, saat tangannya di hentikan oleh Surya di dadanya.


"Ada apa, Tuan?" tanya Sinar yang sungguh-sungguh tidak mengerti.


"Biar aku saja!" ucap Surya.


"Kenapa? Memang anda bisa?" tanya Sinar heran dengan Surya yang merebut sabun dari tangannya.


"Biar aku saja!" ucap Surya lagi ketus.


"Baiklah. Aku akan mengosok kakimu saja," jawab Sinar dan beralih duduk sejajar dengan lutut Surya.


Sinar mulai menggosok kaki Surya, dari telapak, betis dan naik ke atas pahanya.


"Huts! Jangan di situ!" bentak Surya yang merinding karena area sensitifnya kemvali di sentuh dengan tangan Sinar.


"Huuf! Wanita ini tidak mengerti apa-apa!" kesal Surya juga.


"Apa sih! Tuan yang harus mengerti, kita tidak akan selesai dengan cepat! Sekarang diamlah, atau aku akan melakukannya dengan kasar," ucap Sinar tanpa takut.


"Kau!" Surya menunjuk Sinar yang berdiri di hadapannya kini.


Di luar ruangan itu, Marlin masih saja duduk di sofa dan mendengarkan argumen keduanya di dalam kamar mandi, namun dia tak menghiraukan mereka dia hanya duduk dan tetap mendengarkan.


"Diam! Atau aku akan berlaku kasar! Kau tidak bisa apa-apa Tuan. Kau tau, jadi kau tidak bisa membalasku," ujar Sinar yang kini telah merebut sabun dari tangan Surya. "Tuan, jangan macam-macam. Sudah ku peringatkan!"


Karena takut dengan ancaman Sinar, akhirnya Surya pun diam, membiarkan Sinar mengerjakan tugasnya.


"Dia benar! Aku tak bisa apa-apa sekarang, membalas wanita sepertinya pun tak bisa," sesal batin Surya dengan keadaannya sekarang.

__ADS_1


"44h...." d*sah Surya saat tangan Sinar menyentuh bagian pahanya dan mulai naik ke atas.


"Ada apa sih?" kesal Sinar yang terus menggosok-gosok pahanya dengan sabun. Mulai ke atas, ke atas dan... Sinar mulai mempercepat gerakan.


"44h...4h...4h..." Surya sudah berusaha menahannya, tapi rasa itu tak bisa tidak membuat Surya menahan des*hannya.


Sedangkan Sinar tak mengerti dengan des*han Surya. Dia mengira jika Surya sedang mengerjainya.


Dan di luar ruangan itu, Marlin yang mendengarkan suara Surya, sangat penasaran hingga dia berjalan ke arah pintu kamar mandi untuk mendengar lagi, apa yang terjadi di dalam sana.


Dan satu lagi des*han saat Sinar menyiram dan menyentuh dada Surya untuk membersihkan sabun yang tersisa. Surya benar-benar tak melawan lagi saat mendapatkan ancaman dari Sinar.


"44hhh.... sudah-sudah, aku tak tahan lagi. Cepat!" pinta Surya dengan mengcengkram tangan Sinar.


"Akh, sakit Tuan!" pekik Sinar.


Dan yang berada di pintu, jantungnya berdetak cepat dengan gemetar mendengarnya.


"Iihhh, apa, sih, yang mereka lakukan? Kenapa lama sekali?" gumam Marlin sangat penasaran. Dia sampai bergidik ngeri membayangkan apa yang mereka lakukan.


Setelah itu tak ada suara lagi, yang ada hanya suara gemercik air yang berjatuhan dan Marlin masih tetap saja menempel di pintu bagaikan cicak.


Klek


.


.


.


.

__ADS_1


Like-like, like. Jangan lupa di like ya😁


__ADS_2