
"Siapa yang tahu, isi hatinya. Siapa tahu, dia juga sudah ada hati sama kamu dan kamu mengulurkan waktunya." Surya terdiam mendengar ucapan Marlin.
"Benarkah, Sinar sudah ada hati padaku?" batin Surya.
"Sudalah. Mama keluar dulu," ucap Marlin dan segera berlalu dari tempat itu.
*
*
Di tempat Sinar, dia sedang bersama ibunya, duduk di sofa sambil mengobrol ringan. Tiba-tiba, Rosma berkata yang membuat Sinar berfikir keras.
"Sinar, apa kamu dan Surya itu telah melakukan sesuatu?" tanya Rosma.
Sinar mengarahkan tatapan pada Rosma, tatapan penuh tanda tanda tanya kenapa Rosma berkata seperti itu.
"Apa, maksud Ibu?" tanya Sinar dengan menggenggam tangan Rosma.
"Kamu mengerti maksud ibu," ujar Rosma.
"Bu, tidak ada yang seperti itu. Sinar selalu menjaga diri, di mana pun Sinar berada." jawabnya meyakinkan.
"Ibu tau, setelah ini, kehidupanmu akan berubah. Kau akan menggrmgam status janda, dan kau tahu bagaimana pandangan orang-orang terhadap wanita yang di tinggal suaminya. Ibu cuma berharap, jika suatu saat kamu menikah lagi, suamimu tidak akan merendahkanmu karena bisa menjaga diri." jelas Rosma.
"Iya, Bu. Sinar mengerti, tapi untuk saat ini Sinar tidak ada fikiran untuk ke sana, seperti yang ibu katakan."
"Apa kamu sudah menaruh hati pada Surya?" tanya Rosma tiba-tiba.
Pertanyaan itu berhasil membuat bibirnya keluh. Perasaan itu memang telah tumbuh perlahan-lahan, namun dia tidak mau berharap yang nantinya akan membuat dia akan terluka nantinya.
__ADS_1
"Sinar ke dalam dulu, ya, Bu," ucapnya seraya kembali ke kamar. Bukan dia tak ingin menjawab, namun dia tidak ongin berbohong pada ibunya.
Perasaan Sinar pada Surya tak menentu, dia tak tahu arti perasaannya yang sebenarnya, dia mengalami dilema, tentang perasaannya.
Di dalam kamar Sinar tengah bersiap-siap untuk kembali ke mansion tempatnya bekerja, setelah selesai dia kembali keluar menemui Rosma yang masih duduk di sofa.
"Kamu akan kembali sekarang?" tanya Rosma yang melihat Sinar telah siap dan rapi.
"Iya, Bu. Sinar nggak enak sama, nyonya dan tuan kalau kelamaan bolos, sedang gajinya di terima pul," jawab Sinar.
"Bukan kangen?" canda Rosma.
"Ibu apaan sih! Nggak ada yang seperti itu, Bu. Sinar tidak lebih dan mungkin juga kurang dalam bekerja, nggak ada yang lain. Sinar pamit, ya, Bu. Tolong pamitin juga sama Bintang, dia masih nggak suka dengan kerjaan Sinar. Tolong Ibu ngertiin ke dia, ya." minta Sinar.
"Iya, nanti ibu coba bicara sama dia." jawab Rosma dengan mengelus kepalanya.
"Iya sudah. Kamu pergi saja dan hati-hati di jalan."
"Iya, Bu. Sinar pamit, ya."
*
*
Surya kembali ke kamarnya, hari menjelang sore dan pekerjaannya sudah selesai. Rasa penat dan gerah di tubuh Surya rasanya ingin sekali di siram dengan air hangat, walau hari masih menunjukan pukul 16.00.
Akhirnya Surya memutuskan untuk ke kamar mandi untuk membersihkan badannya, yang terasa lengket karena berkeringat.
"Sinar," sapa Marlin.
__ADS_1
"Nyonya."
"Kok, kamu sudah balik? Emang ibu kamu sudah mendingan?" tanya Marlin.
"Iya, Nyonya. Sudah lebih baik dari yang kemarin," jawab Sinar.
"Hmp, fisik ibu kamu kuat, ya. Padahal baru kemarin keluar dari rumah sakit," puji Marlin.
Sinar tersenyum lalu menjawab, "Ya, begitulah ibu, Nyonya. Dia tidak suka lama-lama berbaring di tempat tidur, maunya gerak terus," jawabnya.
"Bagus deh. Tolong kamu liat Surya, ya. Dia baru saja naik, selesai bekerja." pinta Marlin yang sengaja, siapa tahu saja mereka bisa bicara, pikirnya.
"Baik, saya ke atas dulu, Nyonya." pamit Sinar.
"Kamu sudah balik?" tanya Keila sinis yang melirik miring ke arah Sinar yang baru saja di temui saat tirun dari kamarnya.
"Iya, Nona muda." jawab Sinar sopan.
"Bagus, deh. Mama itu jadi sibuk, karena kamu tidak ada." ucap Keila seraya turun dari tangga. "Suka sekali bolos bekerja, maunya makan gaji buta saja." lajutnya yang mazih dapat di dengar oleh Sinar.
.
.
.
.
By... By...
__ADS_1