Menjadi Istri Untuk Pengasuh Suamiku

Menjadi Istri Untuk Pengasuh Suamiku
Bab.40 ~Menangih janji


__ADS_3

"Surya, mama ingin bicara!" tegasnya, Surya hanya dapat memandang Marlin yang tengah berbalik keluar dari kamar itu.


Dia tahu apa yang ingin Marlin bicarakan, dia pun menyusul Marlin yang menuju ruang kerja yang biasa di gunakannya.


"Ma," sapa Surya.


"Surya, apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu tidak bicara dengan Sinar?" marah Marlin.


"Ma, Ma! Mama tenang dulu, ya." ucap Surya.


"Mama sudah katakan, jangan sampai terlambat, tapi kamu tidak mendengarkan mama," ujar Marlin seraya terduduk di kursi sofa.


"Maaf, Ma. Surya salah, tapi Surya akan berusaha sekarang," ujar Surya.


"Apanya? Sinar minta berhenti sekarang juga, dari pekerjaannya. Kamu pikir, kamu akan mendapat istri lain yang sebaik Sinar! Tidak akan, tidak akan gampang!"


"Baik. Surya akan bicara dengan Sinar sekarang juga!" ucap Surya.


"Pergilah. Jangan biarkan Sinar pergi. Mama mohon yakinkan dia, buat Sinar mengerti!" pinta Marlin.


"Ok. Mama tenang! Surya akan usahakan Sinar tak pergi." ucap Surya.


Surya pergi meninggalkan Marlin di ruang kerja itu. Marlin sungguh tak mau jika Surya sampai berpisah dari Sinar, hingga dia meminta Surya agar mempertahankan Sinar agar terus menjadi istrinya.


Setelah kepergian Surya, tiba-tiba ponsel Marlin berdering, dia segera mengangkat telvon itu dengan tangan yang bergetar.


"Halo," sapa Marlin dari balik telvonnya.


"Halo, Marlin," sapa seorang wanita dari balik telvonnya.


"Kenapa kamu menghubungiku?" tanya Marlin ketus.


"Hahaha, apa kau lupa dengan janjimu dulu?" ucapnya dengan tawa lebar.

__ADS_1


"Apa maumu?" ketus Marlin.


"Saya. Sesuai perjanjian kita, Surya dan perjodohan!" ucapnya berubah tegas.


"Tidak! Surya sudah menikah!" jawab Marlin.


"Apa? Jadi kau ingin aku membeberkan siapa Surya!" ancam wanita itu.


"Kau mengancamku?"


"Anggap saja begitu. Sebentar lagi aku akan berangkat ke indonesia. Tunggulah. Aku akan menagih perjanjian kita," ucapnya lalu mengakhiri panggilan itu.


Tut tut tut tut


"Si4l!" kesal Marlin dengan menggebrak meja di hadapannya.


Braak


Tok tok tok tok


"Sinar!" panggil Surya dari luar pintu.


Sinar yang sedang beres-beres kamar itu, mendengar suara Surya dan segera membuka pintu untuknya.


Klek


"Mas Surya," sapa Sinar.


"Sinar, saya ingin bicara," ucapnya.


"Maaf, Mas. Aku sibuk," jawab Sinar seraya ingin mengunci pintu, tapi terhalang dengan kaki Surya yang menghalangi.


"Sinar, beri waktu sedikit untukku menjelaskan," ujarnya lagi.

__ADS_1


"Aku menunggu Mas hampir setengah jam di taman, tapi Mas Surya tidak muncul juga."


"Maaf, Sinar. Tadi aku turun, tapi melihat kau dengan Aldrick aku kembali," jawab Surya dan akhirnya Sinar membiarkan pintu itu terbuka.


Surya masuk dan mengunci pintu itu.


"Kenapa di kunci, Mas?" tanya Sinar.


"Aku ingin bicara dari hati ke hati dan tak ingin yang lain mengganggu," jawab Surya.


"Dari hati ke hati. Maksud, Mas?" tanya Sinar lagi.


"Akan ku jelaskan. Duduk dulu." Surya duduk di sofa kamar itu dan mengajak Sinar juga.


"Aku sedang beres-beres. Mas, bicara saja!" pinta Sinar.


"Lebih enak duduk bersama Sinar!" Surya beranjak dan membawah Sinar untuk duduk bersamanya.


"Mas ..."


"Sinar tolong dengarkan aku. Aku suka padamu, aku tidak ingin kamu pergi, aku ingin kamu berada di sini bersamaku, aku ingin kamu selalu menjadi istriku, aku mrncintaimu, Sinar." Surya mengatakan srmua itu tanpa jeda mrmbuat Sinar terperangah mendengarnya dengan jantung yang berdebar saat kata terakhirnya.


Deg deg deg deg


.


.


.


.


By... By...

__ADS_1


__ADS_2