Menjadi Istri Untuk Pengasuh Suamiku

Menjadi Istri Untuk Pengasuh Suamiku
Bab.22 ~Nikmati saja


__ADS_3

Sinar diam menatap Surya, menatap mencari sesuatu dari raut wajahnya.


"Aku tidak memikirkan itu. Aku hanya menjalani hidupku apa adanya, bagaimana semuanya berjalan, aku hanya mengikutinya saja. Bagaimana hari esok akan berlalu, aku juga tidak tau. Jalani saja dan nikmati saja, apa yang terjadi nanti, jangan terlalu di pikirkan. Jika ada masalah, maka hadapi, jika ada kebahagian maka, nikmati. Hidup itu sudah rumit, untuk apa di persulit lagi," jawab Sinar dengan menatap ke depan dan tersenyum di akhir katanya.


"Huuf, ternyata ucapanmu benar. Aku telah mengalaminya, apa yang akan terjadi besok, kita tidak mengetahuinya. Baik itu alam atau perasaan."


"Benar, mari nikmati hari ini, kita tidak tau apa yang terjadi hari selanjutnya. Jangan banyak memikirka!" Seru Sinar.


Surya tersenyum, walau tak mendapat jawaban dari pertanyaannya, namun kata-kata Sinar mampu membuat pikirannya tenang, untuk tak lagi memikirkan apa yang selanjutnya akan terjadi padanya dan apa yang akan dia lakukan selanjutnya.


Menit-menit berlalu dengan obrolan ringan dan sedikit candaan antara Surya dan Sinar, tanpa terasa hampir dua jam mereka lewati duduk di taman itu, hingga perut mereka sudah merasa lapar.


"Sinar, aku kok, udah lapar, ya?" ucap Surya.


"Iya, sekarang kamu lebih banyak makan. Pipimu juga sudah terlihat cabi," jawab Sinar.


"Padahal masih sore. Kamu sih, keseringan kasih aku jajan!"


"Bukan aku yang sering kasih jajan, tapi itu karna kamu nggak ada kerjaan lain aja, selain makan."


"Balik, yuk!" ajak Surya.


"Ayo, aku juga udah laper, sih." jawab Sinar dengan memegang perutnya.


"Tuh, kan! Kamu juga doyan makan. Karena kamu merawatku, aku jadi ketularan doyan makan!" ucap Surya.


"Enak aja!" Sinar berdiri dari duduknya, kemudian membantu Surya untuk naik ke kursi roda untuk kembali ke mansion.


Sampai di mansion Sinar mencari sesuatu yang bisa di makan berdua dengan Surya. Sisa makanan tadi siang, sudah tak ada lagi dan di lemari, Sinar hanya menemukan mie instan persediaan beberapa waktu lalu.


Sinar memang selalu menyediakan itu, makanan instan untuknya, di karenakan perutnya yang keseringan lapar di saat-saat yang tak terduga, bahkan di tengah malam sekali pun.

__ADS_1


"Tidak ada sisa makanan lagi!" ungkap Sinar.


"Terus itu apa?" tanya Surya.


"Mie instan, kamu mau?" tanya Surya.


"Kamu kok, doyan sama mie instan! Itu nggak sehat," ucap Surya.


"Hanya ada ini. Aku nggak bisa, nahan laper!"


"Ya, udah. Buat saja! Aku juga," pinta Surya.


"Ok!"


Sinar segera memasak mie instan itu, dan memberi satu untuk Surya dan satu lagi untukny sendiri. Kedunya makan dengan lahap, hingga mie dalam mangkok masing-masing tandas.


"Mas, mau apa lagi?" tanya Sinar dengan mengubah nama panggilannya untuk Surya.


"Ok. Aku antar ke kamar!" Sinar segera meraih gagang kursi roda dan mendorongnya menuju kamar Surya. Dia juga ingin istirahat sebentar, karena perjalan bolak-balik taman itu, cukup membuat kakinya sedikit pegal.


*


*


Saat ini, Marlin sedang berkunjung di kantor suaminya.


"Ma, kok datang nggak bilang-bilang?" tanya Dennis.


"Cuman pengen datang aja, males di rumah!" jawab Marlin.


"Kenapa?"

__ADS_1


"Semua orang sibuk sendiri, nggak ada temen ngobrolnya di rumah," aduh Marlin.


"Loh, kan, ada Surya sama istrinya, siapa itu namanya ...?" tanya Dennis yang melupakan nama menantunya, lantaran jarang berkumpul di rumah.


"Papa ... sama mantu sendiri, bisa lupa namanya! Lama-lama Papa, bisa lupa juga, kalau punya istri di rumah!" kesal Marlin.


"Hehehe," kekeh Dennis. "Papa nggak akan lupa, Ma. Cuman Mama yang selalu, papa inget!" lanjut Dennis dengan senyuman.


"Udah tua, jangan ngengombal! Nggak mempan!"


"Terus, Surya sama istri atau perawatnya itu, ke mana?" tanya Dennis.


"Mereka jalan-jalan ke taman komplek katanya."


"Kenapa Mama tidak ikut saja, atau ajak mereka jalan-jalan belanja," usul Dennis.


"Mana mau sih, Suryanya! Nggak akan mau, dia."


"Hm, ya. Dia memang seperti itu!" ucap Dennis membenarkan.


"Pa, Papa punya cara, nggak. Biar, Surya dan Sinar itu tidak berpisah, setelah Surya sembuh nanti?" tanya Marlin serius.


"Maksud, Mama?" Dennis menatap Marlin. "Apa Mama mau jadikan dia menantu sungguhan?"


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa, comentnya, yang enak, aja😀


__ADS_2