
Mereka berempat pun pergi dengan mengenakan mobil Dennis, yang di kendarai Surya dan Dennis di sampingnya. Marlin dan Sinar berada di belakang.
Dengan arahan Marlin, akhirnya mereka sampai di sebuah makam besar kota itu. Mereka turun dari mobil, Surya segera mendekati Sinar seperti takut jika wanitanya akan di ambil oleh orang lain, Surya selalu menggenggam tangannya.
Marlin menuntun mereka masuk ke dalam makam dan setelah beberapa jarak di tempuh, akhirnya mereka sampai.
Terlihat dua buah makam, tepat di mana Marlin berdiri sekarang. Satu beukuran orang dewasa dan satu makam lagi berukuran anak kecil.
Tertera nama Sonya Anggita Putri di sana, di makam orang dewasa itu dan satu makam kecil lagi, bernama Demian Haditama. Surya mendekati makam besar itu, yang tertera nama Sonya di sana.
Surya terduduk tanpa melepas genggaman tangannya pada Sinar. Surya berjongkok di sisi makam ibunya, Surya meneteskan air matanya, tanpa suara kini Surya sudah sesegukan.
27 tahun, baru kali ini dia mengunjungi makam ibunya. Surya terseguk, Sinar hanya dapat mengelus punggungnya, menguatkan sang suami yang mendapatkan kebenarannya.
Surya tetap menggenggam tangan Sinar, tanpa mau melepasnya. Sinar hanya diam, dia rak ingin menghentikan suaminya yang melepas segala rasa yang ia rasakan. Entah rasa apa, namun dia ingin Surya menuangkan segalanya di sana.
Sementara, Dennis yang kini tengah mendekati makam anak kandungnya dengan mata yang sudah berkaca-kaca hanya bisa berucap pelan di makam itu.
"Maafkan papa, Nak," ujar Dennis.
Marlin pun menangis melihat itu, dia tak menyangka jika akhirnya akan seperti ini. Beruntunglah, Surya dan Dennis tak menghakiminya. Setelah ini entah apa yang akan terjadi pada keluarganya, namun dia berharap semua akan membaik dan keadaan kembali seperti sedia kala.
*
__ADS_1
*
Beberapa minggu setelah dari makam itu, keadaan mansion seperti yang Marlin inginkan. Surya sudah tak sedingin biasanya, sepertinya dia mulai menerima kebenarannya dan Dennis pun telah berbaikan dengannya.
Hubungan Sinar dan Surya, kini semakin baik. Bahkan mereka tak malu-malu lagi untuk mengumbar kemesraan.
Di hari minggu, keluarga itu sedang duduk di ruang tv dengan menonton di temani camilan sambil mengobrol ringan.
"Surya, bagaimana pekerjaanmu?" tanya Dennis.
"Sudah beres. Masalah bersama investor kita telah selesai, hanya kesalah pahaman sedikit dan aku telah menjelaskan pada mereka," jawab Surya.
"Slamat siang!" suara dari pintu utama mansion dan seorang anak kecil sedang berlari ke arah mereka.
"Kevin!" sapa Marlin. "Kamu sama siapa?" tanyanya.
"Itu!" tunjuk anak itu pada ayah dan ibunya.
"Kalian! Kenapa tidak memberitahu?" ujar Marlin.
"Tante! Aku rindu..." ucap Kevin seraya memeluk Sinar.
"Hei-hei! Jangan peluk-peluk. Ini punya Om!" ujar Surya.
__ADS_1
"Ih, cemburu sama ponakan sendiri!" ucap Keila yang ikut duduk bersama mereka.
"Kak, apaan sih?"
"Sudah! Kalian itu nggak ada akur-akurnya!" lerai Marlin.
"Kevin, sini sama opa!" ajak Dennis lalu mengangkat anak itu ke pangkuannya.
"Ma, Pa, kapan-kapan kita piknik keluarga. Itu pasti seru!" seru Dikta.
"Iya, boleh juga, tuh. Sudah lama kita tidak refreshing. Skali-skali, nggak apa?" sambung Dennis.
"Iya, nanti kita cari waktu luang, buat pergi," sambung Marlin juga.
"Aku sama Sinar di rumah aja!" ucap Surya dan semua mata tertuju padanya.
.
.
.
.
__ADS_1
By... By...