Menjadi Istri Untuk Pengasuh Suamiku

Menjadi Istri Untuk Pengasuh Suamiku
Bab.60 ~Terserah


__ADS_3

"Hm, begitu. Baiklah, itu terserah kalian, yang menjalani kalian juga, untuk apa papa melarang," jawab Dennis.


"Makasih, Pa," ucap Surya tersenyum dan Dennis hanya mengangguk.


"Tuan, kopinya." Sinar meletakan 2 cangkir kopi di atas meja.


"Iya. Sinar duduklah. Papa mau bicara!" pinta Dennis.


Sinar menatap Surya dan dia menganggukan kepalanya. Sinar duduk di samping Surya dengan jarak di antara mereka.


"Karna kalian sudah bicara dan semuanya sudah sepakat, setuju. Jadi mulai sekarang jangan panggil saya, Tuan dan Marlin, nyonya lagi. Panggil seperti Surya, papa dan mama dan kalian bisa tinggal di satu kamar. Masa suami-istri kamarnya terpisah. Jadi, nanti minta pelayan untuk bantu beres-beres barangmu," ujar Dennis yang membuat senyuman di wajah Surya mengembang menatap Sinar yang juga sedang menatapnya.


"I-iya, Pa," ucap Sinar terbata. Dia merasa kaku saat harus mengganti nama panggilan dari Dennis dan merasa kikuk juga.


Marlin yang mendengar percakapan mereka, hanya bisa mendengarnya dari kejauhan, tak berani ikut campur dengan urusan itu, mengingat kejadisn kemarin, Wina datang dan menuntut perjodohan Surya dan putrinya.


Marlin kembali ke kamarnya, karena tak ingin terjadi ketegangan dengan kehadirannya. Marlin menatap ponsel yang berada di tangannya. Dia berfikir, jika dia harus menghubungi Wina untuk bicara, jangan sampai Wina kembali dan membeberkan rahasianya.


Tut tut tut tut


Panggilan telvon Marlin tersambung pada Wina, sedikit lama, namun akhirnya Wina menerima panggilannya.


"Halo," sapa Marlin.


"...."


"Aku ingin bertemu," ujar Marlin lagi.


"...."


"Baiklah, akan ku kirim alamatnya." Marlin menutup panggilannya.

__ADS_1


Di kamar Sinar, dia sedang membereskan barangnya. Surya tak memberi kesempatan padanya untuk menolak, dia memaksa agar Sinar segera pindah ke kamarnya seperti perintah Dennis.


"Mas Mas sudah bicara sama papa Dennis? Kapan?" tanya Sinar.


"Bukan papa Dennis, tapi papa! Papa saja, tidak perluh menyebut namanya!" ujar Surya.


"Hm, ya. Papa, aku masih canggung, Mas."


"Terserah kamu, yang terpenting itu harus di biasakan. Kalau ada yang tau, mereka akan mengira kamu ponakannya."


"Ponakan. Kan kalau ponakan, panggilnya om," protes Sinar.


"Terserah, aku nggak pintar bahasa Indonesia," jawab Surya.


"Dari tadi terserah, tapi kok, kayak maksa!" gerutu Sinar.


"Terserah. Yang penting intinya kamu mengerti," ujar Surya dengan duduk menunggu Sinar membereskan pakaiannya.


"Nah, itu kamu tau, mengerti." Sinar hanya menggelengkan kepalanya mendengarkan Surya.


"Kamu memang nggak pintar bahasa Indonesia," gumam Sinar dan hanya terdengar seperti bisikan di telinga Surya.


"Apa? Apa kamu sedang mengumpati-ku?" tanya Surya.


"Ya, aku berkata, jika kamu seperti, eh, memang tak pandai bahasa Indonesia," jawab Sinar tanpa memansang ke arahnya.


"Ter-se-rah," ucap Surya lagi.


"Ya, ya!"


*

__ADS_1


*


Tut tut tut tut


Suara yang muncul dari balik ponsel Bintang. Dia sedang melakukan panggilan video call pada Nilam, namun beberapa kali mencoba, panggilan itu tak kunjung terjawab.


"Ada apa dengannya?" gumam Bintang yang sedang berbaring di kasurnya.


Bintang meletakan ponselnya di kasur, karena tidak ada jawaban dari Nilam.


Deerrrtt deerrrtt


Tiba-tiba ponsel yang berada di kasur itu mengeluarkan bunyi tanda panggilan masuk. Nada tersendiri yang menandakan panggilan dari My Dear, itulah nama yang tertera di ponselnya.


Bintang mengerutkan dahinya, melihat panggilan telvon dari Nilam. Beberapa saat lalu dia melakukan panggilan video pada Nilam dan tak di angkat, sekarang Nilam membalas panggilan video callnya dengan telvon biasa.


"Apa ada sesuatu?" batin Bintang.


Dengan cepat Bintang menggeser tombol hijau di ponselnya, menerima panggilan Nilam.


"Halo.."


.


.


.


.


By... By...

__ADS_1


__ADS_2