
"Aku tunggu di cafe biasa!" ucap Jia lagi, kemudian keluar dari kamarnya.
*
*
"Sinar, sudah sore, kami pulang dulu, ya." pamit Marlin.
"Iya, Nyonya. Hati-hati di jalan."
"Kamu juga hati-hati, di sini," ucap Surya seraya menggenggam tangan Sinar.
Sinar menatap genggaman tangan Surya di tangannya sendiri. Sinar tersenyum dan mengangguk, ada perasaan bahagia saat Surya memberi perhatian walau hanya seperti itu dan Marlin yang melihatnya tak kalah bahagianya, namun hanya di simpan di hati saja dengan senyuman yang penuh arti tak pernah pudar dari bibirnya.
"Kami pamit, ya." ucap Marlin lalu meraih kursi roda yang di duduki oleh Surya.
"Trima kasih sekali lagi, Nyonya dan Mas Surya, sudah mau berkunjung ke sini."
"Nggak masalah. Kalau ada apa-apa, segera hubungi aku atau Surya."
"Pasti, Nyonya."
Surya melepas genggaman tangannya dan pergi meninggalkan tempat itu. Seakan berat perasaan hatinya Surya meninggalkan Sinar di sana, sedangkan Sinar hanya menatap kepergian mereka dengan senyuman.
"Bintang, kenapa kau diam saja dari tadi?" tanya Sinar.
"Tidak ada yang perlu dibicarakan, Kak." jawab Bintang tanpa menatap Sinar.
"Aku tau. Kakak, boleh minta sesuatu?" ucap Sinar dengan memegang pundak Bintang.
Bintang menatap ke arah Sinar dengan penuh tanda tanya dan mengangguk.
__ADS_1
"Tolong bersikap profesionallah. Kakak bekerja, aku tau kau tidak suka, tapi ingatlah untuk apa kakak bekerja, semua untuk ibu dan kau. Sulit rasanya melakukan pekerjaan itu, tapi kakak berusaha bersikap profesional karena itu pekerjaan kakak. Tidak ada yang salah, kita sama-sama membutuhkan. Mereka butuh tenaga dan kita butuh uang," jelas Sinar panjang lebar.
"Tapi, sudah kukatakan. Aku bisa bekerja membantu Kakak!" ucap bintang. Dia sungguh tidak suka Sinar bekerja sebagai perawat Surya dan juga harus menikah dengan orang yang tidak di cintainya, lalu setelah itu harus berpisah dan status kakaknya akan menjadi janda, itulah alasan kenapa sejak awal Bintang tidak setuju.
"Apa itu akan cukup? Untuk membiayai pengobatan ibu, kalau kakak bekerja sebagai pelayan biasa saja dan walaupun kau bekerja, itu semua tidak akan cukup." jawab Sinar.
Dokter keluar dari ruangan Rosma, Sinar segera bangkit dari duduknya dan menyapa dokter itu.
"Dokter, bagaimana ibu saya?" tanya Sinar yang menghadang dokter itu untuk pergi.
"Sudah selesai. Ibu Rosma bisa pulang sekarang," jawab dokter.
"Trima kasih Dokter."
Sinar segera masuk dan Bintang pun menyusulnya ke dalam ruangan Rosma.
"Bu," sapa Sinar pada Rosma yang berbaring di ranjang.
"Tidak, Bu. Jangan berkata seperti itu."
"Bu, Ibu sudah merasa lebih baik?" tanya Bintang.
"Maafkan ibu."
"Tidak, Bu. Ibu sudah bisa pulang, Kak Sinar juga akan menginap di rumah kita, Bu." ucap Bintang dan Rosma menatap Sinar dengan pertanyaan dan mendapat anggukan.
"Tapi, bagaimana pekerjaanmu?" ucap Rosma.
"Tenang, Bu. Sinar sudah mendapat ijin." jelasnya.
*
__ADS_1
*
Di mansion Haditama, Surya sedang uring-uringan. Pasalnya Sinar yang selalu bersamanya, menjadi bayangannya kemanapun dia pergi dan berada, kini dia sendirian tanpa ada teman dan seseorang.
"Sinar!" Surya sedang berbaring di pembaringan kamarnya dengan memikirkan Sinar yang tak berada di sisinya.
"Sinar, kenapa juga kau tidak di sini!" kesal Surya dengan bergumam.
Suryaengambil ponselnya, ingin menghubungi Sinar, tapi di urungkan.
"Apa yang akan ku katakan padanya?" gumam Surya.
"Chat saja."
Surya mulai mengetik di ponsel, setelah selesai mengetik dengan panjang lebar, Surya kembali membaca pesan yang akan dia kirimkan pada Sinar.
"Akh! Kenapa panjang sekali. Seperti berpidato saja!" ucapnya.
Klek
"Mas Surya!"
"Sinar!!" kejut Surya.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa kasih gift, di sini, ya😄