
"Sinar!!!" pekik Surya geram, adiknya tak bisa di kondisikan lagi. Tubuh sensitifnya, tak bisa menahan hasrat hingga dia harus bermain solo di dalam kamar mandi.
"Ah..., sial!" umpat Surya yang berada dalam kamar mandi dengan bermain sabun untuk menuntaskan hasratnya.
Sedangkan yang membuat Surya bermain di kamar mandi lagi asyik-asyiknya bersama panci dan isinya. Dia sedang membantu bi Inem membuat makan malam.
"Non Sinar, kok, senyum-senyum sendiri?" tanya bi Inem yang memperhatikannya.
"Hm, nggak kok, Bi. Hanya ingat cerita tadi siang lucu," jawab Sinar sambil tersenyum.
"Oh," Bi Inem hanya ber O ria, mempercayai ucapan Sinar.
"Udah selesai, Bi. Abis ini, Sinar mandi dulu, ya," ujarnya seraya mematikan kompor dan mengisi masakan ke tempatnya.
"Iya. Itu, biar bibi yang teruskan. Sana mandi, udah bau," canda bi Inem.
"Iiihh, Bibi! Siang tadi aku mandi," protes Sinar dan wanita tua itu hanya tersenyum.
Sinar pergi dari dapur, menuju kamarnya. Perlahan-lahan Sinar membuka pintu kamarnya, melihat jika terdapat seseorang di kamarnya.
"Tidak ada. Mungkin sudah kembali ke kamarnya," gumam Sinar.
Dia melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar, mengunci pintu dengan pelan agar rak menimbulkan suara sampai ke kamar sebelah.
__ADS_1
Tiba-tiba sebuah tangan terjatuh di bahunya, membuat Sinar terperanjat kaget dan membalik badannya cepat.
"Mas Surya!" Pria yang di sebut namanya hanya mengangkat alis dan menatap sang pesuara dengan tatapan nakal.
Surya mendekat ke arah Sinar, selangkah demi selangkah dan Sinar hanya dapat memundurkan diri tanpa suara. Ada bahaya yang mengancam di hadapannya, pria itu seperti macan yang hendak menerkam mangsanya.
"Mas Surya, mau apa?" tanyanya pelan.
"Aku, aku ..." Sinar telah terperangkap dan terjatuh duduk di kasurnya.
Dengan cepat, kini Surya sudah mengunci pergerakan Sinar dengan menopang kedua tangannya di kasur dan Sinar berada di antaranya.
"Aku mau kamu," ucap Surya lirih.
"Mas Surya, jangan macam-macam loh. Aku bisa membuat Mas berteriak, memekik dan mengaduh," ujar Sinar dengan jantung yanf sudah beraduh, berdetak tak karuan, hingga bicaranya juga membuat Surya tak mengerti.
"Berteriak, memekik dan mengaduh, untuk apa?" Surya menyebut kembali ucapan Sinar padanya dan bertanya.
Dengan tatapan yang bisa di artikan Surya, dia tahu apa yang dimaksudkan Sinar padanya.
Tatapan nakal yang di tujuhkan Sinar di area kehidupan h4sratnya, membuat Surya dengan cepat mundur dari tubuh Sinar yang hampir saja terbaring di pembaringan kamar itu.
"Sinar," aduh Surya seraya menghempas badannya di kasur. "Kenapa kau menyiksaku," lanjutnya.
__ADS_1
Sinar tersenyum menatap Surya yang mengahadap langit-langit kamar tanpa mau memalingkan wajahnya.
"Nanti, ya, Mas. Belum saatnya. Aku mau mandi dulu, Mas keluar gih, sana!" pinta Sinar.
"Aku akan menantinya malam ini, tidak bisa tidak. Aku memaksa! Kalau tidak, aku kvtuk kamu, jadi kodok!" ucap Surya kesal.
"Emangnya malin kundang," gumam Sinar yang masih di dengar oleh Surya.
"Malin kundang itu anak durhaka, kalau kamu Maling Kandang, istri durhaka!" ujar Surya seraya keluar dan menutup pintu kamar dengan keras.
Braakk
Deg deg deg deg
Jantung Sinar berdebar mendengar ujaran Surya. Dia berpikir, apa mungkin benar apa yang di katakan Surya, jika dia istri durhaka? Apa dia keterlaluan dengan menahan apa yang menjadi hak Surya padanya? Mungkin memang benar.
Pikiran Sinar berkecamuk, memikirkan ucapan Surya padanya. Hingga kini dia masuk ke dalam kamar mandi, pikirannya terus saja tidak tenang.
.
.
.
__ADS_1
.
By... By...