Menjadi Istri Untuk Pengasuh Suamiku

Menjadi Istri Untuk Pengasuh Suamiku
Bab.17 ~Part 17


__ADS_3

"Mereka sangat berbeda saat berdua saja. Ada yang berbeda," batin pria yang tengah memperhatikan mereka.


Hendra berjalan menghampiri dua orang yang sedang berargumen di meja makan itu.


"Nona Sinar," sapa Hendra dengan memegang pundak Sinar dari belakang hingga dia terkejut.


"Iya!" jawab Sinar.


"Maaf, aku mau toilet," jawab Hendra dengan tersenyum simpul dan itu berhasil membuat Surya kesal karena tangan Hendra yang tak lepas dari pundak Sinar.


"Pergi sana!" ujar Surya dengan menghempas tangan Hendra.


"Kenapa kau kasar sekali?" ujar Sinar setelah Hendra pergi, tanpa mereka sadari Hendra masih memperhatikan itu.


Setelah selesai dengan makan siang, Sinar dan Surya kembali ke ruang tamu yang di mana terdapat Aldrick di sana.


"Sur, di mana Hendra?" tanya Aldrick yang ditinggal sendiri sejak tadi.


"Ke toilet," jawab Surya.


"Nona, bisa kita kenalan?" tanya Aldrick.


"Bukankah Anda sudah mengenal saya?" ucap Sinar.


"Iya, hanya saja kau belum mengenalku dan jangan panggil aku Tuan, namaku Aldrick," jawab Aldrick memperkenalkan diri.


"Iya," jawab Sinar tersenyum.


"Apa kalian tak menganggapku di sini?" kesal Surya.


"Hai, Al. Balik, yuk!" ajak Hendra setelah kembali dari toilet.


"Hm, ada apa memangnya?" tanya Aldrick.


"Papi, gue telvon. Katanya ada rapat penting di kantor," jawab Hendra yang sebenarnya hanya alasan.


"Sinar, aku balik, ya." ucap Aldrick berpamitan.


"Kenapa kau pamit padanya? Bukan padaku!" ucap Surya ketus.

__ADS_1


"Ok. Kita pamit, Sur," ucap Aldrick.


"Sur, gue ada rapat. Kita balik, ya." pamit Hendra juga.


"Pergilah dan tidak usah kembali!" ucap Surya dan mereka berdua tidak menghiraukan ucapannya karena seperti itulah dia yang mereka tau.


Aldrick dan Hendra pergi dari mansion itu dan setelah saat itu Aldrick mulai sering datang ke mansion, dengan alasan menjenguk Surya.


Aldrick mulai mendekati Sinar dan hasil dari itu membuat Surya sering marah-marah sampai terjadi pertengkaran antara Sinar dan Surya.


Enam minggu kemudian


Seperti biasanya, Sinar mengerjakan pekerjaan untuk mengurus Surya. Dari pagi setelah memandikan, mengganti pakaian yang selalu di kerjakan dengan drama dari Surya seperti saat pertama kali Sinar bekerja sebagai pengasuh Surya. Lalu sarapan dengan segala ancacam Sinar, karena makanan yang tidak disukainya.


"Sinar, aku tak mau makan itu!" tolak Surya.


"Tapi, kau harus makan ini," jawab Sinar ngotot.


"Aku tidak suka itu!"


"Tidak ada makanan lain, selain ini. Bi Inem tidak memasak untuk sarapan. Tuan besar dan tuan Dikta sarapan di kantor dan Nona muda sudah berangkat ke sekolah Kevin, tidak sarapan juga," jelas Sinar.


"Aku ingin makanan lain!" ucap Surya.


"Kau mau makan ini atau..." Sinar mengacungkan sendok yang berada di tangannya, seperti biasanya.


"Apa-apaan kau ini?" bentak Surya.


"Jika kau tak mau makan, aku akan menelvon nyonya besar," ancam Sinar dengan santai.


"Baiklah. Aku akan makan sendiri!" jawab Surya seraya merampas sendok di tangan Sinar. Dia tidak ingin Sinar benar-benar menelvon Marlin, karena itu akan membuat telinganya sakit dengan omelan Marlin yang panjang lebar.


"Bagus," ucap Sinar tersenyum dan Surya memaksa makan sarapannya dengan wajah cemberut seperti anak-anak 5 tahun.


Selesai dengan sarapan Sinar membawah Surya ke taman. Mereka duduk berdua di bangku taman, hingga seorang wanita datang menyampiri mereka.


"Surya!!" ucap wanita sambil memeluknya dari belakang.


Sinar dan Surya memalingkan wajah mereka serentak, melihat kedatangan wanita yang mengejutkan mereka.

__ADS_1


"Jia!" ucap Surya terkejut.


Jia mencium pipi Surya dengan tersenyum, dan berucap.


"Ayang, Beb. Aku merindukanmu," ucap Jia seraya berjalan masuk di antara duduk mereka.


"Jia, ngapain kamu di sini?" tanya Surya.


"Kok, kamu nanyanya gitu?" ucapnya dengan wajah cemberut.


"Sinar," sapa seorang pria yang tak lain adalah Aldrick.


"Mas, Aldrick," kejut Sinar saat memalingkan wajahnya dan Surya dan Jia juga.


"Jia, kau di sini juga?" ucap Aldrick.


"Aldrick, kau!" kejut Jia. Dia sangat takut bertemu dengan Aldrick, karena beberapa hari yang lalu dia bertemu Aldrick saat sedang bersama pacarnya yang lain.


"Ya, aku sering datang di sini, untuk bertemu Surya sekaligus Sinar." jawab Aldrick.


"Sinar? Kau datang untuknya?" cecar Jia.


"Ya, ada apa memangnya? Apa masalahmu?" ucap Aldrick dan Sinar hanya diam, begitu pun Surya.


"Hei, tak ku sangka kau seperti itu! Dulu kau mengatakan apa padaku? Harga diri? Di mana harga dirimu, saat mempunyai suami dan berselingkuh dengan pria lain!" ketus Jia dengan menatap Sinar dengan sinis dan Sinar hanya menatap Jia dengan malas.


"Jia!" bentak Surya pada Jia. Surya sengaja tidak mengatakan pernikahannya dan Sinar pada Aldrick dan Hendra dan kenapa dia tidak ingin mengatakannya.


"Suami? Apa maksudmu?" tanya Aldrick bingung.


"Sur, apa yang Jia katakan?" tanya Aldrick pada Surya.


"Jangan tanyakan pada Surya, tapi tanyakan itu pada wanita ini!" ketus Jia dengan menunjuk wajah Sinar dan dengan sekejap jari yang menunjuk Sinar kini sudah di tangkap oleh Sinar dengan menatap Jia dengan geram.


.


.


.

__ADS_1


.


Ayo, di coment ya. Yang enak-enak, jangan yang asem-asem, nti author ngilu😂


__ADS_2