Menjadi Istri Untuk Pengasuh Suamiku

Menjadi Istri Untuk Pengasuh Suamiku
Bab.54 ~Mau lagi?


__ADS_3

Bintang menancapkan gas motornya, meninggalkan kediaman Wijaya yang seseorang tengah berdiri di teras rumah itu dengan menatap mereka berdua yang terlihat mesra di atas motor matic yang di kendarai Bintang.


"Siapa pria itu?" gumam Wina yang menatap kepergian mereka.


*


*


Saat ini Surya berada di kamar Sinar, seperti biasa mereka beradu argumen tetlebih dahulu baru masuk ke dalam kamar. Surya memaksa ikut Sinar di kamarnya, karena Sinar tidak mau ikut di kamar Surya.


"Mas, kamu balik kamar sana, deh!" pinta Sinar.


"Sinar, kita ini suami-istri! Kenapa harus pisah kamar? Suami-istri itu pisah kamar kecuali saling marahan. Kita tidak marahan, lagi aman-aman aja, kenapa juga harus pisah kamar?" ujar Surya.


"Iya, sih. Tapi, nggak enak sama tuan dan nyonya," jawab Sinar.


"Eh, ngapain kamu masih pake tuan dan nyonya. Mereka itu mertua kamu, jadi panggilnya mama dan papa aja. Berasa lagi selingkuh sama pelayan gua!" ujar Surya.


"Apa, Mas mau selingkuh sama pelayan?" ucap Sinar dengan nada tinggi.


"Eh, nggak-nggak! Bukan itu maksudku!" jawab Surya.


"Terus, tadi! Kamu bilang, berasa kayak selingkuh sama pelayan, itu apa?" marah Sinar.


"Enggak! Bukan gitu. Maksud aku itu," Surya bingung harus meenjelaskan dan kini terjadilah Sinar telah menghajar Surya dengan bantal yang berada di tangannya.


"Hu! Hu! Rasakan itu!" ucap Sinar dengan geram.


"Eh! Eh! Sinar! Bukan begitu," ucap Surya seraya menangkis hantaman Sinar yang telah geram terhadapnya.


"Ah, bikin kesal aja!" ucap Sinar dengan mode ngambek, sedangkan yang sedang di ambekin hanya tersenyum dengan kekehan tanpa suara yang di tutupi.


"Aku keluar saja!" ketus Sinar.

__ADS_1


"Eh, eh, tunggu! Jangan pergi dulu. Ayo sini!" ajak Durya dengan meraih tangan Sinar dan membawahnya ke tempat tidur.


"Mas!"


"Sinar..., dengerin dulu. Ayo," Surya membawahnya duduk bersama di atas kasur dengan bersandar dan memeluk pinggangnya erat.


"Mas, jangan begini. Nanti ada yang datang," keluhnya.


"Tidak ada yang melarang," jawab Surya.


"Iya. Tapi nggak enak."


"Sudahlah. Biarkan begini," pinta Surya.


Sinar melihat Surya yang membenamkan kepalanya di bahu Sinar, ada yang tersembunyi di balik wajah Surya.


"Mas Kenapa?" tanya Sinar pelan.


"Tidak apa," jawabnya dengan menyembunyikan wajahnya.


"Maaf. Aku cuma kepikiran papa dan mama. Kayaknya mereka menyimpan sesuatu, yang tidak mereka bicarakan." ujar Surya.


"Berpikir positif saja, Mas. Mungkin hal itu memang pribadi yang nggak bisa di bicarakan bersama. Jika itu memang hal yang harus di ketahui kita, maka suatu hari mereka akan mengatakannya juga," ucap Sinar.


"Iya, tapi aku takut... hal itu yang akan membuat masalah nantinya."


"Jika memang akan ada masalah, maka akan di hadapi. Apa pun itu! Kita hanya perlu saling dukung," ujar Sinar lagi.


"Trima kasih." ucap Surya seraya bangkit menatap Sinar yang berada di sampingnya.


"Untuk apa?" tanya Sinar.


"Karna ..."

__ADS_1


Cup


Sekilas tapi, membuat Sinar terdiam dengan wajah merona merah bak kepiting rebus yang telah matang.


"Mas Surya," ucap Sinar dengan mata yang di lebarkan.


"Kenapa?" tanya Surya dengan senyuman nakal.


Sinar meraba bibir yang mendapatkan kiss mendadak dari Surya. Tiba-tiba dia tersenyum lebar dan mengalungkan tangannya di leher Surya membuat pria itu menjadi salah tingkah.


Awalnya memang dia yang memulai, tapi sekarang Sinar terlihat lihai di hadapannya. Sinar menjelajahi wajah pria di hadapannya dengan telunjuk, mulai dari mata, hidung, bibir dan terus turun ke bawah, hingga membuat Surya menelan salivanya dengan susah payah.


"Si-Sinar," ucap Surya gugup.


"Aku tidak sepolos itu, Mas. Mau lagi?" ucap Sinar pelan.


"Ka-kamu mau?" tanya Surya yang sudah dalam mode on. Adik di bawah sana telah nyut-nyutan menginginkan sesuatu.


Tiba-tiba Sinar mengambil bantal yang berada di samping dan menempelkan pada wajah Surya.


"Tuh, sama dia aja!" ketus Sinar, membuat Surya melongo dengan mulut terbuka menatap bantal yang jatuh di atas tangannya.


Sinar bangkit dari kasur dan meninggalkan Surya yang tak bisa berkata-kata, hanya bisa menatap Sinar yang menghilang di balik pintu keluar dari ruangan itu.


"Sinar!!!" pekik Surya geram, adiknya tak bisa di kondisikan lagi. Tubuh sensitifnya, tak bisa menahan hasrat hingga dia harus bermain solo di dalam kamar mandi.


.


.


.


.

__ADS_1


By... By...


__ADS_2