
Surya menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa dan memikirkan langkah apa yang harus diambilnya. Dia belum siap untuk mengatakan kesembuhannya pada Sinar dan dia sangat tidak suka Sinar pergi dari hidupnya.
*
*
"Hoam." Sinar baru saja membuka matanya yang terpejam dari setelah tengah tadi.
Sinar menghadang sinar matahari pagi yang menyinari tepat di matanya.
"Jam berapa sekarang?" tanyanya pada diri sendiri dan mengedarkan pandangan pada benda bulat pipih yang tergantung di dinding.
"Haa! Astaga! Aku kesiangan!" seru Sinar, bangkit dan berlari menuju lemari, mengambil handuk dan mencari kamar mandi di dalam kamar itu.
"Astaga! Aku di rumahku, bukan mansion." ucap Sinar dengan menepuk jidatnya.
Sinar kembali ke sisi ranjang dan duduk di sana.
"Emang orang kaya beda sama orang susah. Kamar mandi saja di dalam kamar, orang susah kamar mandinya di luar rumah bukan hanya luar kamar." gumam Sinar.
Sinar kembali bangkit dan berjalan menuju luar. Terlihat Rosma sedang berkutatbdi dapur dengan sarapan.
"Bu, kenapa ibu di sini? Ibu 'kan lagi sakit, biar Sinar aja yanh buat sarapan!" seru Sinar dengan menghalangi Rosma yang sedang membuat bumbu.
"Kamu ini! Sudah, ibu sudah sehat. Kamu mandi sana. Bintang sudah berangkat kuliah dari pagi-pagi sekali." jelas Rosma.
__ADS_1
"Tapi, kalau Ibu sakit lagi, gimana?" bantah Sinar.
"Orang tidak akan sakit hanya karna buat sarapan. Sudah sana, pergi mandi!" pintah Rosma dan Sinar tak bisa membantah lagi.
*
*
Surya keluar dengan mengenakan kursi roda dari kamarnya, masuk ke lift dan menuju ruang kerja Dennis yang di gunakannya untuk bekerja sekarang.
Marlin yang melihat itu, hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Bagaimana mungkin anaknya yang sudah bisa berjalan itu rela duduk di atas kursi roda hanya karena tak mau berpisah dengan istri pengasuhnya itu, pikir Marlin.
Surya menutup pintu rapat setelah masuk ke ruangan kerja Dennis. Dia berdiri dari kursi rodanya dan berpindah ke kursi yang terdapat di meja kerja, membuka laptop dan memulai pekerjaannya.
"Ma, mau ke mana?" tanya Keila.
"Sudah aku bilang, panggil Sinar kembali. Sekarang apa, Mama juga 'kan yang repot," ujar Keila yang berada di meja makan menikmati sarapannya.
"Keila, Surya itu anak mama juga. Nggak apa dong, mama perhatian sama dia. Coba kalau kamu yang begitu, trus mama biarin kamu sama perawat saja." jawab Marlin meninggalkan Keila tanpa suara di sana.
Klek
Pintu terbuka dan Surya menatap siapa yang datang ke ruangan itu, raut kecewa tersirat di wajahnya. Dia berharap orang yang dicintainya sudah kembali, namun tidak. Surya kembali memalingkan kepalanya ke arah laptop yang sedari tadi dia gunakan untuk bekerja.
"Sarapan dulu," ucap Marlin, meletakan nampan yang di bawahnya ke hadapan Surya.
__ADS_1
"Iya, Ma. Nanti aku sarapan, selesai ini." jawab Surya tanpa mengalihkan pandangannya.
"Apa jika Sinar yang memintah kamu juga akan berkata seperti itu?" ujar Marlin dengan duduk di hadapan Surya, terhalang dengan meja.
"Mama, apa Mama cemburu dengan Sinar?" Surya menatap Marlin dengan penuh tanya.
"Buat apa mama cemburu sama mantu sendiri. Mama cuma mau kasih nasihat sama kamu, lebih baik kamu jujur, jangan sampai dia mengetahuinya sendiri. Sinar akan merasa di bohongi nantinya," jelas Marlin.
"Tapi, Ma. Aku belum siap untuk mengatakannya. Akan ku cari waktu yang tepat, untuk mengatakannya dan memberitahu perasaanku padanya," jawab Surya.
"Terserah kamu saja, semoga tidak terlambat untuk mengatakannya."
"Aku ingin merebut hatinya, dulu."
"Siapa yang tahu, isi hatinya. Siapa tahu, dia juga sudah ada hati sama kamu dan kamu mengulurkan waktunya." Surya terdiam mendengar ucapan Marlin.
"Benarkah, Sinar sudah ada hati padaku?" batin Surya.
.
.
.
.
__ADS_1
By... By...