Menjadi Istri Untuk Pengasuh Suamiku

Menjadi Istri Untuk Pengasuh Suamiku
Bab.59 ~Untuk apa melarang


__ADS_3

"Kamu anak-nya Dennis. Dennis Haditama adalah ayah-mu!" ucap Wina.


"Apa," kejut Nilam dengan berlinang air mata.


"Itu kebenarannya, Nilam. Kamu adalah anak dari Dennis, anak kandungnya!" ungkap Wina.


Nilam tak bisa berpikir lagi, pikirannya buntuh mendapat kenyataan dari Wina. Tapi, satu yang tak terpikir olehnya, berarti dia dan pria yang akan di jodohkan dengannya adalah saudara tiri lalu kenapa Wina ingin menikahkan mereka.


Lama pikiran Nilam bergelut sambil menangis, akhirnya dia menyadari apa yang di lupakannya dan kembali bertanya.


"Lalu, kenapa Mami ingin menikahkanku dengan anak dari ayah kandungku? Kenapa? Apa Mami ingin aku menikahi kakak tiri-ku sendiri?" cecar Nilam dengan nada meninggi.


"Nilam ..., dia bukan kakak tiri-mu! Dia bukan anak Dennis! Anak Dennis meninggal saat di lahirkan dan dia tak tahu itu!" jelas Wina lagi.


"Maksud, Mami? Dari mana Mami tau?"


"Mami tau karena istrinya, tak sengaja mami mendengar percakapan Marlin dan ibu kandung dari anak yang di serahkan pada-nya!" jawab Wina.


"Jadi Mami memanfaatkan-nya, untuk menjodohkan aku dan anak itu?" ujar Nilam ketus.


"Mami hanya ingin kamu dekat dengan ayah kandung-mu, Nak! Hanya itu! Mami ingin kamu merasakan kasih sayang seorang ayah, hanya itu. Mami mau kamu punya ayah!" jawab Wina meyakinkan, Nilam.


"Nilam tidak akan bahagia, Mi. Tidak akan! Walaupun Nilam akan menikah, tinggal dekat dengan ayah kandung-ku, tetap tidak akan bahagia. Aku hanya akan dianggap menantu oleh ayah, bukan anak kandung, bukan putrinya dan itu akan semakin menyakiti-ku. Saat ada perbedaan antara anak kandung dan menantu," ujar Nilam sesegukan.

__ADS_1


Wina terdiam, mendengar penuturan Nilam. Dia pikir, Nilam akan bahagia jika dekat dengan ayah-nya, ayah kandungnya. Ternyata berbeda dengan apa yang akan Nilam katakan, ucapkan padanya. Nilam diam dan tetus menangis tanpa mau menatap diri-nya.


"Mi, aku ingin sendiri," lirih Nilam.


"Sayang, maafkan mami. Mami sungguh tidak tahu, jika kamu akan merasa begitu." jawab Wina.


"Aku ingin sendiri, Mi," ucap Nilam lagi.


"Maafkan mami," ucap Wina lagi seraya mengelus pelan kepala anak itu dan meninggalkannya sendiri di dalam kamar.


*


*


"Bagaimana kerjaannya, Pi?" tanya Marlin hanya ingin basa-basi saja, karena sejak kejadian mereka yang di datangi Wina, hubungan ibu dan anak, duami dan istri itu menjadi renggang.


"Hm, baik," jawab Dennis singkat seraya duduk di sofa ruang tamu. Marlin segera melangkah menuju kamar untuk menyimpan jas dan koper milik Dennis, walaupun siangkat setidaknya dia menjawab, pikir Marlin.


"Sury," panggil Dennis yang melihat Surya dan Sinar turun dari tangga kamar mereka.


Surya memalingkan wajahnya, melihat Dennis yang duduk di sofa ruang tamu lalu menjawab panggilan itu.


"Iya, Pa." Sinar berjalan menuju dapur sedangkan Surya melangkah menuju Dennis yang duduk.

__ADS_1


"Sury, apa kamu besok sudah bisa kembali ke kantor?" tanya Dennis.


"Bisa. Memangnya ada apa, Pa? Apa ada masalah?" lanjut Surya, kembali bertanya.


"Enggak. Soalnya asisten papa mau cuti," jawab Dennis.


"Oh, bisa. Pa, aku mau ngomong, tentang aku Sinar," ucap Surya.


"Oh, ya. Waktu kemarin kita tak sempat bicara. Katakan!" pinta Dennis.


"Kami sudah bicara dengan ibu dan adik Sinar dan mereka setuju tentang hubungan kami," ujar Surya.


"Hm, begitu. Baiklah, itu terserah kalian, yang menjalani kalian juga, untuk apa papa melarang," jawab Dennis.


"Makasih, Pa," ucap Surya tersenyum dan Dennis hanya mengangguk.


.


.


.


.

__ADS_1


By... By...


__ADS_2