Menjadi Istri Untuk Pengasuh Suamiku

Menjadi Istri Untuk Pengasuh Suamiku
Bab.31 ~Curiga


__ADS_3

Sinar kembali beranjak, ingin memasuki kamar Rosma, namun dia di kejutkan oleh Bintang yang tengah berdiri di depan pintu.


"Bintang!" kejut Sinar.


"Kak Sinar, kok di luar?" tanya Bintang.


"Emp, iya. Belum ngantuk, jadi cari angin sebentar." jawab Sinar dan meninggalkan Bintang sendiri di depan pintu.


Bintang memandang kepergian Sinar dengan perasaan yang kalut. Dia mendengar seluruh perbincangan Sinar dan Surya di telvon tadi. Bukan dia tak suka mendengar kakaknya begitu bahagia berbincang dengan Surya, tapi ...


Bintang menduduki kursi yang semula di gunakan oleh Sinar dan berfikir, tentang hubungan Sinar dan Surya. Dia sangat tahu, melihat dari gerak-gerik mereka, sudah terdapat hati yang mempunyai rasa antara keduanya, entah mereka sadar atau tidak, tapi yang di khawatirkan Bintang adalah, jika suatu saat mereka menganggap kakaknya memanfaatkan keadaan untuk menarik simpatik dari Surya dan ibunya.


"Tidak muda hidup, menjadi orang susah!" seru Bintang pelan, meratapi hidup mereka.


*


*


Surya yang kini sedang di landah bahagia, karena telvon dari Sinar tadi, kini terlelap dengan nyenayknya, hingga pagi menyongsong dan sinar matahari menyinari dari celah-celah di di kamarnya.


"Emp, bentar lagi Sinar!" seru Surya dengan mata yang masih tertutup.


"Sinar-Sinar! Ini anak, matahari sudah tinggi juga, masih larut dalam mimpinya.

__ADS_1


Marlin kembali menggoyang badan Surya yang masih bergelut dalam Selimut.


"Surya! Surya bangun, sudah siang!" ucap Marlin.


Sungguh rasa kantuk masih menyerang dirinya. Semalam dia dan Sinar bicara di telvon hingga pukul 02.00 dini hari dan dia baru bisa tidur pukul 03.00, itulah kenapa saat ini dia sangat sulit untuk di bangunkan.


"Ump, Sinar masih ngantuk. Jangan di siram, ya!" ucap Surya dengan masih menutup matanya.


"Astaga!" Marlin sungguh kesal sekarang. "Surya!!"


Surya terbangun dari tidurnya dengan segera, pasalnya Marlin telah memekik di telinganya, hingga telingganya berdenging mendengar suara Marlin.


Perlahan tapi pasti, Surya memvuka matanya dan yang ada di hadapannya bukan seperti yang dia inginkan.


"Apa katamu? Mentang-mentang sudah dapat bidadari Sinar, jadi mama kamu anggap mak lampir!" pekik Marlin marah.


"Oh, emp, maksudku Mama sayang!" ucap Surya dan tanpa sadar dia berjalan melewati Marlin menuju kamar mandi.


Marlin melongoh menatap Surya yang berjalan santai menuju kamar mandi. Pasalnya selama ini mereka hanya tahu Surya baru dapat berdiri sendiri saja, bahkan kemarin dia masih butuh bantuan untuk berpindah tempat duduk dan sekarang dia berjalan seolah-olah tak terjadi apa-apa padanya.


"Sur-ya," gumam Marlin terbata. Dia tak tahu harus senang atau apa, Marlin sangat terkejut.


"Apa?" tanya Surya yang juga belum menyadarinya.

__ADS_1


"Kamu ...."


Surya menatap dirinya sendiri, dan dia pun terkejut dengan apa yang di lakukannya. Sebenarnya sudah 2 minggu ini, dia dapat melangkah walau hanya beberapa langkah saja yang dia gapai, di tambah dengan terapinya yang tak pernah bolong di waktu yang sudah di jadwalkan membuat penyembuhannya begitu cepat dari yang di taksirkan.


Rencananya dia akan memberi kejutan pada semua orang saat dia benar-benar sudah dapat berjalan dwngan sempurna, namun sekarang gagal karena Marlin sudah tahu dan mulut ember ibunya itu tak bisa di diamkan, jika orang-orang belum tahu.


"Papa, Keila!" panggil Marlin dengan berteriak dan hendak keluar dari kamar itu, namun dengan cepat Surya mengunci pintu kamarnya, tidak menginjinkannya untuk keluar.


"Eh, kenapa? Mama mau kasih tau papa sama kakak kamu!" ucap Marlin.


"Jangan dulu, Ma. Jangan kasib tau mereka dan Sinar juga!" pinta Surya dengan memohon.


Marlin terdiam mendengar permintaan Surya yang menurutnya tidak masuk akal.


"Sinar juga tidak tahu! Jangan-jangan kamu ...." Marlin menatap Surya dengan penuh curiga di benaknya.


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa di like😁


__ADS_2