
Dennis dan Marlin menatap jam tangan masing-masing, pukul 08.10 menit, dua orang yang mereka tunggui tak keluar juga dari kamar, hingga Marlin berinisiatif untuk menyusul. Mereka punya janji untuk ke makam hari ini, dan Surya, apa dia melupakannya? Begitu cepat? Pikir Marlin seraya berjalan menaiki tangga.
Marlin menempelkan telinganya ke daun pintu yang masih tertutup rapat itu. Tak ada suara dari dalamnya, sunyi senyap bagai tak berpenghuni. Marlin menjadi khawatir hingga dia memutuskan untuk mengetuk pintu itu dengan sangat keras.
Tok tok tok tok
Masih tak suara.
Plak plak plak plak
"Surya! Sinar!" panggil Marlin di depan pintu.
Dua insan yang masih di pembaringan kamar mereka, membuka mata dengan mengerjap-ngerjap dan betapa terkejutnya Sinar, cahaya matahari telah masuk ke dalam ruangan itu dengan terik yang sangat memancar terang.
Sinar melebarkan matanya melihat betapa siangnya dia bangun saat ini, dengan tenaga yang masih dia kumpulkan, Sinar menguncang tubuh Surya ysng enggan untuk bangun.
"Mas! Mas!" ucap Sinar.
"Hm,"
"Mas, bangun!" pinta Sinar.
Sedang yang berada di luar kamar mereka, sedang khawatir dengan segala pemikirannya sendiri.
"Apa mereka kabur?" batin Marlin dengan sangat khawatir.
__ADS_1
Tok tok tok tok
"Surya! Sinar!" teriak Marlin lagi dengan menggedor-gedor pintu mereka.
Sinar yang mendengar itu, maupun Surya membuka lebar mata mereka, sedangkan pintu itu tak hentinya berbunyi bersama teriakan Marlin dari depan pintu.
Surya segera bangkit dan duduk di atas kasur, Sinar segera memerintahnya untuk membuka pintu.
"Mas! Ada mama di luar. Buka pintunya!" Surya pergi dengan kesal, memerintah perintah Sinar padanya.
"Mama apaan sih! Pagi-pagi!" gumam Surya seraya berjalan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Mas!" pekik Sinar lagi.
"Ada apa lagi?" tanya Surya dengan membalik badannya.
"Eh, iya. Hehehe," Surya terkekeh meliaht penampilannya sendiri dan segera menuju lemari mengambil jubah mandi yang berada di dalamnya dan segera mengenakan untuk menutupi tubuh yang masih polos.
Klek
Marlin hampir saja menangis, menunggu di depan pintu kamar mereka. Dia pikir Surya dan Sinar telah pergi meninggalkan mansion itu karena kebenaran yang terungkap.
"Surya..., hiks..." tangis Marlin pecah saat pintu terbuka dari dalam.
Saat wajah Surya nampak dari balik pintu, Marlin segera mendekap tubuh Surya. Tak peduli dengan keadaan mereka, Sinar sampai terperanga begitu pun Surya yang mendapat pelukan dari Marlin.
__ADS_1
"Surya.., hiks... Mama kira kamu sudah pergi meninggalkan mansion kita, hiks..." ucap Marlin dengan sesegukan.
Surya menjadi risih, pasalnya sekarang Marlin tengah mendekap tubuhnya erat dan dia hanya melingkarkan jubah mandi di tubuhnya.
"Pergi ke mana sih, Ma?" ujar Surya.
Marlin melepas dekapannya. "Mama kira kamu ninggalin mama, pergi dari mansion," ucap Marlin dan betapa terkejutnya dia saat melihat Surya yang sepertinya terburu untuk membuka pintu untuknya, hingga hanya asal-asalan memakai jubah mandinya.
Marlin menjadi kepo, dia tahu jika Sinar berada dalam kamar itu dan segera menyingkirkan Surya yang berada di hadapannya, untuk melihat Sinar.
Sinar menjadi salah tingkah, mendapat tatapan dari Marlin.
Marlin tersenyum melihatnya. Sinar sedang duduk di atas kasur dan hanya menutupi tubuhnya dengan selimut, sebatas atas dada.
"Pa! Kita akan punya cucu!" pekik Marlin segera berlari keluar dari kamar itu, menuju tempat di mana Dennis berada.
Surya dan Sinar saling pandang, menjadi malu dengan keadaan mereka saat ini.
.
.
.
.
__ADS_1
By... By...