Menjadi Istri Untuk Pengasuh Suamiku

Menjadi Istri Untuk Pengasuh Suamiku
Bab.26 ~Ijin ke rumah sakit


__ADS_3

Sinar menggelengkan kepalanya, saat mendengar ungkapan Jia. Dia tak menyangka jika wanita dapat berbuat seperti itu dan Keila segera menyeret wanita itu keluar dari mansion, karena sudah muak dengan penuturannya.


*


*


Hari ini Bintang tak masuk kuliah, karena Rosma yang kambuh lagi penyakitnya. Rosma merasakan nyeri di pinggang belakangnya dan sangat susah untuk meredakan nyerinya.


"Bu, kita ke rumah sakit, ya," bujuk Bintang.


"Tapi, uang dari kakakmu itu tidak akan cukup lagi, jika harus pergi ke rumah sakit," jawab Rosma.


"Ibu, tenang saja. Bintang akan mencari jalan keluarnya, Bintang akan cari uang buat bantu-bantu kak Sinar dan biaya Ibu berobat juga." ucap Bintang lagi.


"Tidak, Nak. Sinar tidak akan suka, kamu masih sekolah dan harus belajar. Jangan sia-siakan kesempatanmu untuk mendapat pendidikan yang baik."


"Bintang tau, Bu. Tapi untuk saat ini, tolong turuti Bintang. Kita ke rumah sakit, ya."


Dengan bujukan dan paksaan dari Bintang akhirnya Rosma mau di ajak ke rumah sakit. Bintang meminjam mobil dari pak RT untuk membawah Rosma ke rumah sakit dan beruntung dia mendapatkannya.


Sampai di rumah sakit Rosma segera di tangani oleh dokter, dan Bintang segera menghubungi Sinar untuk memberitahu keadaan ibu mereka.


Tut tut tut tut


"Halo," sapa Sinar di balik telvonnya.


"Halo, Kak. Aku di rumah sakit," ucap Bintang tenang.


"Rumah sakit! Ada apa? Apa terjadi sesuatu dengan ibu?" tanya Sinar yang sudah khawatir.


"Sakit ibu kambuh, Kak. Aku bawah ibu ke rumah sakit, nanti kita ngobrol lagi di sini, ya, Kak. Kakak, bisa datang 'kan?" tanya Bintang.

__ADS_1


"Ok-ok. Kakak, ijin dulu, setelah itu ke sana," jawab Sinar di balik telvon.


Tut tut tut tut


*


*


Sinar menutup panggilan telvon dari Bintang, kemuadian melangkah ke arah Surya yang menghadap laptopnya.


"Mas Surya," panggilan itu seakan menyentuh hati Surya saat Sinar mengatakannya.


Surya tersenyum memalingkan wajahnya ke arah Sinar yang menyapa, hatinya sangat senang saat Sinar memanggilnya begitu.


"Ya, ada apa Sinar?" tanya Surya lembut.


"Mas, aku bisa ijin keluar hari ini?" tanya Sinar dengan hati-hati.


"Adik saya telvon, katanya, ibu masuk rumah sakit. Penyakitnya kambuh lagi," terang Sinar.


"Adik kamu yang waktu itu, datang sebagai wali kamu, kan?" ucap Surya.


"Iya, Mas." jawab Sinar.


"Kenapa dia tak pernah lagi datang ke sini?" tanya Surya.


"Sebenarnya ..., dia tidak setuju dengan pernikahan kita, Mas. Maka dari itu, dia tidak pernah mau datang ke sini lagi," jelas Sinar walau berat mengatakan itu.


"Aku mengerti."


"Bagaimana, Mas? Mas bisa, ditinggal sendiri?" tanya Sinar lagi yang mulai khawatir berlama-lama.

__ADS_1


"Hm, sebenarnya aku ingin ikut, tapi pasti akan repot. Kau pergilah!" pinta Surya.


"Baiklah, Mas." Sinar segera beranjak dari kursinya untuk pergi. "Saya akan menemui nyonya dulu," lanjut Sinar.


"Biar aku yang mengatakan pada mama," ujar Surya.


"Tapi, Mas ... sebenarnya saya-" belum sempat Sinar mengatakan maksudnya, Surya sudah menyelah dengan memberi kartu berwarna gold pada Sinar.


"Bawah ini!" pinta Surya.


"Apa ini, Mas?" tanya Sinar bingung. Dia bukan tidak tahu kegunaan kartu itu, tapi dia heran, mengapa Surya memberikan itu padanya.


"Kau pasti akan membutuhkannya. Bawahlah, dan gunakan untuk pengobatan ibumu. Aku tau kau tak akan memakainya untuk yang lain, tapi pakailah jika kau perlu," ujar Surya pada Sinar yang berdiri menatap diam ke arah Surya.


"Tapi, Mas. Nanti tuan besar akan marah," ucap Sinar.


"Tidak akan! Aku akan menjelaskan pada papa. Dan ingat, ini perintah. Gunakan kartu itu untuk pengobatan ibumu, aku akan mengetahuinya jika kau tak menggunakannya!" ucap Surya lagi.


"Tapi, Mas,-"


"Sudah! Kau pergilah sekarang! Bintang pasti menunggumu," pinta Surya.


"Baiklah, Mas. Aku pergi, jika ada waktu untuk kembali, aku akan kembali sore nanti," ucap Sinar dan mendapat anggukan.


.


.


.


.

__ADS_1


Ayo, di like😁


__ADS_2