
"Maksud, Mama?" Dennis menatap Marlin. "Apa Mama mau jadikan dia menantu sungguhan?"
"Emangnya sekarang menantu bo'ongan? Ya, Pa. Sinar itu anaknya baik ... dan keluarganya juga. Mama suka sama dia, dia juga santun anaknya. Sopan," jelas Marlin.
"Tapi, kalau mereka tidak saling suka, kita mau bagaimana lagi, Ma! Papa, sih, tersera Mama aja. Papa nggak ikut campur, selagi itu kemauan keduanya. Jangan di paksa-paksa, Ma, biar mereka yang memutuskan." ujar Dennis.
"Tapi, Pa-"
"Sudah, Ma. Biarkan saja, kalau mereka jodoh, pasti akan terjadi." selah Dennis.
Marlin hanya menghembuskan nafasnya pasrah. Suaminya tidak mau membantu, sedangkan dia sangat menginginkan Sinar dan Surya meneruskan hubungan mereka, sebagai suami istri.
*
*
Saat ini Jia tengah duduk di sebuah cafe, bersama seorang teman wanitanya, bernama Cella.
"Jia," panggil seorang wanita lain yang menuju ke arahnya.
"Hai, sini-sini!" panggil Jia setelah menatap seorang yang telah memanggilnya.
"Lama, ya? Sory... Tadi macet banget!" tukas Wanita itu.
"Iya, kamu lama banget. Udah laper, nih." jawab Cella.
"Hm, sory-sory-sory banget. Skarang, kan, udah di sini. Kita ngapain?" tanya Siska. Wanita yang baru saja berkumpul bersama mereka.
"Ok. Kita makan dulu, setelah itu kita ke mall. Borong-borong, aku yang traktir!" ucap Jia bersemangat.
"Wiiihhh, lagi banyak duit, nih!" seru Siska.
"Ya, iyalah! Lihat ini!" pinta Jia dengan mengeluarkan blackcard milik Surya yang dia dapatkan tempo hari.
__ADS_1
"Haa! Punya siapa, tuh?" Cella mengernyitkan dahinya menatap kartu yang di keluarkan oleh Jia.
"Surya! Kita bisa belanja sepuasnya!"
"Emangnya, kamu masih berhubungan sama Surya?" tanya Cella.
"Ya, begitu. Walau beberapa bulan ini aku tidak menemuinya dan tapi atm ini selalu bersamaku!" ucap Jia dengan penuh percaya diri.
*
*
Malam ini, keluarga Haditama sedang berkumpul termasuk Keila, suami dn anaknya. Pasangan keluarga kecil itu baru saja kembali dari Belanda, Amsterdam. Dikta di pinta Marlin untuk menggantikannya di Amsterdam untuk mengurus perusahaan keluarga Marlin di sana.
"Cucu Oma, sini!" panggil Marlin ke atas pangkuannya.
"Oma!!" pekik anak itu berlari menyambut uluran tangan omanya.
"Seneng Oma. Seru!!" jawabnya bersemangat.
"Hebat! Ayo duduk sini!" pinta Marlin, ke samping tempat duduknya.
"Dik, bagaimana pekerjaan di sana?" tanya Dennis.
"Beres, Pa! Om Maxi, tinggal menjalankannya saja setelah kembali dari London!" jelas Dikta.
"Trima kasih, ya, Dik!" sambung Marlin.
"Sama-sama, Ma. Kalau aku tidak ada pekerjaan, aku siap, kok. Bantu kerjaan di sana," ungkap Dikta.
"Iya, kapan-kapan lagi, pantau perusahaan di sana. Sebenarnya mama kasian, sama om kalian di sana, dia harus mengurus perusahaan di Amsterdam dan sesekali harus London juga, untuk melihat perusahaan yang di sana."
"Iya, Ma. Tenang saja, jika mama butuh bantuan, aku siap bantu," ucap Dikta dan Marlin mengangguk padanya.
__ADS_1
"Sur, kamu sudah bisa kerja?" tanya Dennis, tiba-tiba menatap Surya yang juga berada di sana.
"Aku. Papa tanya sama aku?" tanya Surya.
"Iya, kamu! Siapa lagi," ujar Dennis membenarkan.
"Aku, sebenarnya ... sebenarnya ... bisa jika hanya dari rumah. Aku belum bisa pergi ke kantor," jawab Surya masih ragu.
"Baiklah, kau bisa menggunakan ruangan kerja Papa. Besok papa akan bawah berkas-berkas untukmu." ujar Dennis. "Papa, istirahat dulu. Oh, ya ... kau bisa meminta bantuan Sinar saat bekerja," lanjut Dennis yang telah beranjak dari duduknya dengan tersenyum.
Marlin pun tersenyum, dengan usul dari Dennis. Dia tahu, Dennis telah membantunya secara tidak langsung.
"Ma, aku juga mau istirahat," ucap Keila.
"Ya, pergilah. Sejak tadi, kau hanya sibuk dengan ponselmu saja!" kesal Marlin. "Sinar, kalian juga, sebaiknya istirahat saja." lanjut Marlin.
"Baik, Nyonya," ucap Sinar dan segera membantuh Surya untuk berpindah ke kursi roda.
"Sinar, tolong matikan lampunya!" pinta Surya dan kembali lagi memerintah Sinar. "Itu juga, tolong ambilkan dulu, laptopku di laci sana," lanjutnya, menunjuk laci meja samping lemari.
"Ini, jangan kemalaman tidurnya." ucap Sinar dan mendapat tatapan dari Surya, bukan tatapan tak suka, tapi tatapan dengan senyum.
"Sinar, besok kau akan membantuhku, kan?" tanya Surya dan mendapat anggukan.
.
.
.
.
Jangan lupa Votenya😀
__ADS_1