Menjadi Istri Untuk Pengasuh Suamiku

Menjadi Istri Untuk Pengasuh Suamiku
Bab.38 ~Taman


__ADS_3

Dia mengurungkan langkahnya saat ingin mendekati mereka. Tawa renyah dari Sinar, membuat dia bimbang, Sinar tak pernah sebahagia itu bersamanya. Canda dan gurau yang menurut Surya tidak lucu, bisa membuat senyuman lebar di wajah Sinar, sedangkan dia yang telah memberikan kartu saktinya pada Sinar waktu itu, bahkan hampir di tolaknya dan tak membuat senyuman di wajahnya. Padahal Jia dulunya, selalu meminta hal itu padanya dan dia pikir itu membuat Jia bahagia.


Sinar dan Aldrick tak menyadari kehadiran Surya yang sudah berada di belakang mereka. Hingga Surya mengurungkan niatnya untuk menemui Sinar dan kembali ke dalam mansion.


"Sin, bagaimana perkembangan Surya?" tanya Aldrick.


"Mas Surya sudah sembuh," jawab Sinar.


"Sudah sembuh, maksudnya?" tanya Aldrick lagi.


"Iya. Mas Surya sudah bisa jalan lagi sekaarang," jelas Sinar.


"Sudah bisa jalan lagi. Sejak kapan?" tanya Aldrick penasaran.


"Aku juga bru tahu, tadi." jawab Sinar.


"Maksud kamu? Kamu juga baru tahu, apa maksudmu, kau tidak tahu kapan Surya bisa jalan lagi?" tanya Aldrick dengan tingkat penasaran yang besar.


"Sudah, ya, Mas. Ini masalah pribadi, nggak seharusnya aku cerita!" pinta Sinar.


"Baiklah. Tapi aku bingung, jika memang sudah sembuh, kenapa Surya tak mengatakannya dan bukannya kamu yang selalu merawatnya?" Aldrick masih saja penasaran dengan ucapan Sinar.


"Sudah, ya, Mas! Nggak baik ngibahin orang!" ucap Sinar.


"Baiklah. Kita bicara kamu saja," ucap Aldrick mengganti topik pembicaraan mereka. "Kapan kamu bebas dari pekerjaan kamu yang skarang?" lanjut Aldrick.


"Ya, mungkin hari ini sudah selesai. Kan, mas Surya sudah sembuh," jawab Sinar.

__ADS_1


"Aku nggak sabar nunggunya!" ungkap Aldrick.


"Mas Aldrick terlalu terbuka. Langsung to the ponit!" ucap Sinar.


"Buat apa menyembunyikan perasaan? Akhirnya bahagia atau tidak itu tergantung kita." jawab Aldrick.


"Mas benar. Ada baiknya saling terbuka, agar tidak jadi bumerang nantinya," ucap Sinar penuh arti.


"Ya, tentu saja."


"Mas, nggak ada kerjaan gitu?" tanya Sinar.


"Sebenarnya ... nggak ada." jawab Aldrick dengan menatap Sinar.


"Mas, pulang aja dulu, ya. Maaf, bukannya mau ngusir, tapi aku mau bicara dengan nyonya Marlin," ujar Sinar.


"Maaf, ya, Mas!" ucap Sinar lagi.


"Nggak apa, Sinar. Aku ngerti kamu, kok. Dan inget, ya. Kalau ada apa-apa, telvon aku saja." pinta Aldrick.


"Trima kasih. Dan aku akan memberitahu, jika perlu bantuan," jawab Sinar.


"Ok. Aku pergi dulu, ya." pamit Aldrick sambil tersenyum dan berlalu.


Sinar menatap kepergian Aldrick, ada rasa tidak enak di hatinya. Pria itu sangat baik, dan dia tahu apa maksud dari kebaikan hati Aldrick, namun hatinya kini belum bisa menerima pria itu di hatinya.


Sinar kembali ke dalam mansion, setelah kepergian Aldrick dan Surya yang tak kunjung tiba di tempatnya. Akhirnya Sinar memutuskan untuk menemui Marlin.

__ADS_1


Marlin sedang duduk di sofa ruang tv dengan menonton, lalu Sinar menyapanya.


"Nyonya."


Marlin memalingkan wajahnya ke arah suara yang berada tepat di belakangnya.


"Sinar," jawab Marlin. "Ada apa?" lanjutnya.


"Nyonya, saya ingin bicara dengan Anda," ucap Sinar.


"Bicara. Masalah apa? Apakah sangat penying?" Marlin mengerutkan dahinya saat bertanya.


"Iya, Nyonya. Buat say ini sangat penting unyuk di bahas," jawab Sinar.


"Baiklah, kita ke taman saja. Biar bebas ngobrolnya. Taman depan saja, biar luas." jawab Marlin dan Sinar mengangguk setuju.


Dada Marlin berdegup kencang, saat berjalan beriringan dengan Sinar. Dia menduga-duga apa yang akan di bicarakan Sinar dengannya.


"Apa Sinar sudah tahu? Dan dia akan minta berhenti sekarang. Apa yang harus ku jawab?" batinnya.


.


.


.


.

__ADS_1


By... By...


__ADS_2