Menjadi Istri Untuk Pengasuh Suamiku

Menjadi Istri Untuk Pengasuh Suamiku
Bab.42 ~Bayangan masa lalu


__ADS_3

"Jangan pikirkan itu. Yang terpenting mereka saling mencintai, jika ingin meneruskan hubungan. Karena orang lain tidak akan membahagiakannya dan begitu pun juga kita, saling mencintai dan hanya kita yang bisa menentukan kebahagian kita, bukan orang lain," ucap Nilam. "Seminggu lagi, ibuku kembali dari singapura dan aku akan bicara padanya," lanjut Nilam.


Nilam dan Bintang sudah menjalin hubungan selama 3 bulan. Nilam anak kuliahan, yang belum lama pindah di universitas tempat Bintang menuntut ilmu sejak awal kuliah.


Empat bulan yang lalu, Nilam masuk ke universitas itu dan setelah bertemu dengan Bintang mereka menjadi akrab dalam sebulan ke akraban mereka berubah menjadi hubungan yang diresmi oleh keduanya.


Pada awalnya Bintang ragu, namun perasaannya tak bisa di sembunyikan saat Nilam dekat dengan pria lain, Bintang segera menyatakan perasaannya dan Nilam pun sama mempunyai perasaan yang sama dengannya, akhirnya mereka menjalin hubungan kekasih hingga sekarang.


Saat Nilam mengutarakan pada ibunya, Jaklin mitn, tapi dia berkata bahwa Nilam tidak boleh menjalin hubungan dengan pria untuk saat ini karena masih menjadi pelajar.


"Bin, aku ada kelas. Aku masuk dulu, ya." pamit Nilam dan Bintang mengangguk.


*


*


Di mansion, Marlin yang sedang duduk di kamarnya, mengenang kejadian delapan belas tahun lalu.


Flashback


Seorang wanita yang tengah terbaring di sebuah bangsal rumah sakit dengan Marlin yang berada duduk di sisi ranjangnya.

__ADS_1


"Nyonya Marlin, terima kasih telah merawat anak saya dan tolong jaga anak saya, berikan dia kasih sayang seorang ibu yang tak di dapa dariku," ujar wanita yang telah terbaring di bangsal rumh sakit itu dengan lirih dan berurai air mata.


"Trima kasih, kamu sudah membantuku. Aku tidak akan melupakan kebaikanmu, jika bukan karena kau, aku tidak tahu apa yang akan Dennis lakukan padaku. Kau sungguh mulia, memberikan anakmu, saat anakku tiada dalam kandunganku sendiri. Aku tidak akan melupakan kebaikanmu itu. Aku janji, akan menyayanginya sebagai ibu kandung dan akan membesarkannya tanpa kekurangan sesuatu apapun." ucap Marlin dengan air mata berlinang.


"Trima kasih, Nyonya," ucap wanita itu lagi.


"Jangan berterima kasih. Aku menganggapmu sebagai kakakku, bukan pelayan di rumahku. Kau mengabdi pada orangtuaku dan juga padaku, aku menganggapmu keluarga. Dan jangan khawatirkan Surya, dia tidak akan kekurangan kasih sayang dan sesuatu apapun." ucap Marlin dengan airmatanya yang terus mengalir.


Tanpa mereka sadari seorang wanita lain tengah mendengar pembicaraan mereka dan merekamnya.


Tiiiiitttttt


Tiba-tiba komputer yang berada di samping bangsal wanita sakit itu, berbunyi panjang menandakan wanita yang bersama Marlin itu telah menghembuskan nafas terakhirnya.


Flash on


Marlin masih duduk di kamarnya, hingga seseorang masuk dan mengejutkannya.


"Ma,"


Marlin memalingkan wajahnya cepat, menatap kedatangan Dennis dengan wajah yang penuh kekhawatiran.

__ADS_1


"Ada apa, Ma?" tanya Dennis bingung.


"Ah, tidak." Marlin segera menyambut jas yang di lepas oleh suaminya.


"Wajahmu tidak menunjukan itu, Ma," bantah Dennis.


"Iya, sebenarnya ... aku ingin bicara masalah Surya dan Sinar, tapi nanti saja. Papa masih capek, mandi dulu." jawab Marlin.


"Iya. Jangan sembunyikan sesuatu dariku, Ma. Aku akan tahu," ucap Dennis yang berhasil membuat Marlin terdiam.


Dennis beranjak menuju dalam kamar mandi dan Marlin hanya menatap hingga pintu tertutup.


"Maafkan aku, pa ...." batin Marlin.


.


.


.


.

__ADS_1


By... By...


__ADS_2