
"Bagus, deh. Mama itu jadi sibuk, karena kamu tidak ada." ucap Keila seraya turun dari tangga. "Suka sekali bolos bekerja, maunya makan gaji buta saja." lajutnya yang mazih dapat di dengar oleh Sinar.
Sinar meneruskan langkahnya menuju kamar Surya dan Marlin yang mendengar kata-kata putrinya hanya dapat menggelengkan kepalanya.
Sebelum menuju kamar Surya, Sinar masuk ke kamarnya lebih dulu yang hanya bersebelahan drngan kamar Surya. Sinar menyimpan tas dan mengganti pakaiannya, kemudian keluar lagi menuju kamar Surya.
Surya yang merasa gerah segera mengambil handuk dan menuju kamar mandi, terdengar suara langkah kaki menuju kamarnya namun, langkah itu hilang, kemudian kembali lagi terdengar. Surya tak mengambil pusing, paling-paling Marlin yang datang ke kemarnya, siapa lagi karna Sinar tak ada di sana, pikir Surya.
Surya melajukan langkahnya menuju pintu kamar mandi yqng tertutup.
Klek
"Mas Surya," sapa Sinar tertegun.
Kraak
Pintu kamar mandi tertutup dengan sangat cepat. Saat pintu terbuka dan dia mendengar suara Sinar yang menggema hampir masuk, Surya segera berlari ke dalam kamar mandi dan menutup pintunya dengan kasar.
Sinar terperanjat kaget saat pintu tertutup keras. Dia berjalan menuju depan kamar mandi dan mengetuk di sana.
Tok tok tok tok
"Mas, Mas Surya di dalam?" tanya Sinar dengan menempelkan telinganya di dekat pintu.
"Iya! Aku mau mandi!" jawab Surya dari dalam kamar mandi dengan memegang dadanya yang berdegup kencang karena panik.
"Kenapa cepat sekali kembalinya!" umpat batin Surya.
Sinar berbalik untuk menyiapkan pakaian ganti unyuk Surya, namun Sinar terhenti kembali dan menatap kursi roda yang berada di dekat lemari.
__ADS_1
"Kursi rodanya?" gumam Sinar sambil berpikir.
"Apa jalan sendiri, ke sini?" Sinar bertanya-tanya. Dia menjadi bingung, Surya belum bisa melangkah sendiri tapi kursi rodanya ada di dekat lemari.
"Mungkin memang berjalan sendiri ke sini, tapi .... Ya, mungkin saja, waktu kemarin mas Surya berjalan sambil berpegangan dinding dari depan kamar mandi." Sinar menyangkal pemikirannya sendiri.
"Kasian juga." Sinar membawah Kursi rodanya di dekat ruangan yqng berada Surya di dalamnya, agar dia tak kesulitan saat keluar. Sinar sungguh tak tahu, jika Surya sudah bisa berjalan dengan sendirinya.
Beberapa saat, setelah Sinar telah menyiapkan pakaian ganti untuk Surya dan membereskan kamar itu, tiba-tiba terdengar suara Surya dari kamar mandi.
"Sinar!" panggil Surya dengan pintu yang masih tertutup.
Sinar mendengar dan segera mendekat k arah suara Surya.
"Ada apa, Mas?" tanya Sinar.
"Tapi, Mas, keluar saja dulu. Biar saya bantu. Nanti aku ambil map dan laptop setelah itu," jawab Sinar dari luar.
"Tidak-tidak! Kamu ambil saja! A-aku mau langsung bekerja setelah ini!" tolak Surya.
"Hm, baiklah. Aku ambil. Mas kalau mau keluar hati-hati, ya!" pinta Sinar.
"Iya!"
"Ada apa dengan orang itu? Aneh sekali!" gumam Sinar dan segera berlalu dari sana menuju keluar.
Klek
Surya membuka pintu perlahan setelah tak mendengar suara lagi.
__ADS_1
"Huuff!" Surya membuang nafasnya kasar dan segera keluar. "Awk!" pekiknya saat menabarak kursi roda di depan pintu kamar mandi. "Pasti Sinar," gumamnya lagi saat melihat kursi rodanya.
Dengan segera dia mengunci pintu dan menyelesaikan kegiatannya yang lain.
Klek klek klek
Tok tok tok tok
"Mas, kok pintunya di tutup?" teriak Sinar dari depan pintu.
"Kayak suami-istri sungguhan," gumam Sinar memprotes ucapannya sendiri.
Tok tok tok tok
"Mas! Ini laptop dan mapnya!" ucap Sinar lagi seraya mengetuk pintu.
"Iya sebentar!" jawab Surya yang bergerak menuju kursi rodanya. Dia duduk dan menjalankan kursi rodanya, menuju pintu yang di ketuk.
Klek
.
.
.
.
By... By...
__ADS_1