
Sinar tak bisa membantah lagi, setelah mendengar penjelasan Surya. Dia hanya bisa ikut dengan pria itu, walau hatinya berdebar-debar.
"Pasti ada sesuatu!" Batin Sinar.
Mereka berdua turun dari kamar menuju ruang makan dengan Surya di depan dan Sinar di belakangnya dengan menundukan kepalanya.
"Su-Surya!" kejut Keila yang baru melihat Surya berjalan sendiri.
Semua orang mengarahkan pandangan ke arah Surya dan begitu pun Dikta sama terkejutnya seperti Keila, namun dia tidak bicara apa-apa.
"Om, Surya!" teriak Kevin dan lagsung berlari ke arahnya. "Om, Surya sudah bisa jalan?" lanjut Kevin bertanya dan Surya mengangguk. "Tante Sinar, ayo, ikut kita makan malam!" ajak Kevin.
"Ah, tidak sayang. Tante mau ke paviliun, makan bersama bi Inem di sana," jawab Sinar.
"Kenapa, makan di sana? Makan malam di sini, bersamaku!" pinta Surya.
"Tapi..."
"Sinar. Duduk di sini," ajak Marlin.
"Ma!" protes Keila.
"Keila, duduk diamlah!" pinta Dennis.
Keila pun kembali duduk, saat ingin beranjak dari tempatnya.
Sinar yang melihat itu, merasakan perbedaan di keluarga itu, membuat hatinya semakin berdebar takut, gelisah dan perasaan tidak enak.
__ADS_1
"Ayo, Surya. Ajak Sinar duduk untuk makan malam. Setelah ini papa ingin bicara dengan kalian semua," ucapnya serius, membuat pandangan Keila dan Dikta mengarah pada Dennis yang bicara.
"Ayo, Sinar." Surya meraih jemari Sinar untuk ikut dengannya duduk bersama di sampingnya untuk makan malam.
Acara makan malam pun berlangsung. Semua makan dengan hikmat, hanya dentingan sendok yang terrdengar di ruangan itu.
Setelah selesai, mereka semua pergi menuju ruang keluarga kecuali Kevin yang telah di bawah bi Inem ke kamarnya.
"Duduklah!" pinta Dennis.
Semua duduk, dengan perintah Dennis. Mereka duduk berdampingan, Sinar di samping Surya, Dikta dan Keila dan Marlin di samping Dennis.
"Sebenarnya, ada apa sih, Pa?" tanya Keila penasaran. "Apa ini tentang Surya?" lanjutnya.
"Duduk dan dengarlah, apa yang akan ku bicarakan. Ini untuk semua," ujar Dennis.
"Surya, papa ingin bertanya," ujar Dennis.
"Iya, Pa."
"Bagaimana hubunganmu dan Sinar sekarang?" tanya Dennis langsung saja.
"Kami ..." Surya memandang Sinar yang juga menatapnya. "Kami akan melanjutkan pernikahan," lanjutnya.
"Apa benar begitu Sinar?" tanya Dennis
Sinar tak menjawab pertanyaan Dennis, dia hanya menatap Surya yang membuat wajah permohonan padanya.
__ADS_1
Surya mengambil tangan Sinar, mencoba menetralkan hatinya yang sudah berdegup kencang sedari tadi, menunggu jawaban Sinar.
Sinar menatap Dennis kembali dan Marlin lalu ke Keila yang menunjukan wajah tidak suka.
"Saya belum bisa menjawabnya sekarang, Tuan." jawab Sinar mantap.
"Mengapa?" tanya Dennis.
"Saya harus memantapkan hati saya dulu, saya tidak mau salah dalam mengambil keputusan dan keluarga saya juga harus tahu dulu, jika saya akan mengambil keputusan besar seperti ini," jelas Sinar dan itu membuat Dennis berpikir dan mengangguk.
"Baiklah. Akhir pekan. Katakan keputusanmu, bicaralah dengan Surya terlebih dahulu." ucap Dennis. "Saya tidak keberatan, jika kalian ingin melanjutkan hubungan, asal itu terbaik untuk kalian." lanjutnya.
"Trima kasih, Tuan." jawab Sinar.
"Dan kamu Keila, papa minta maaf karna selama ini papa tidak perhatian padamu dan Surya juga, mama juga. Papa sibuk dengan pekerjaan kantor, hingga tak peduli yang terjadi di mansion ini. Tapi papa janji akan berubah, dan Keila, jika kamu bisa merubah sikapmu, itu akan lebih baik," ujar Dennis.
Marlin meneteskan air mata mendengar ucapan suaminya, tapi dia mempunyai rahasia yang besar yang tak bisa dia ungkapkan dan wanita yang menelvonnya dengan ancaman, dia tidak tahu dapat menyimpan rahasianya atau tidak.
.
.
.
.
By... By...
__ADS_1