Menjadi Istri Untuk Pengasuh Suamiku

Menjadi Istri Untuk Pengasuh Suamiku
Bab.30 ~Malam panjang


__ADS_3

"Akh! Kenapa panjang sekali. Seperti berpidato saja!" ucapnya.


Klek


"Mas Surya!"


"Sinar!!" kejut Surya.


Surya memalingkan wajahnya, mencari seseorang di dalam kamar itu, namun tak ada siapa pun di sana. Pandangannya mengelilingi setiap sudut kamar, namun tetap saja, tidak ada siapa-siapa di sana.


"Sinar," gumam Surya lagi.


"Ah! Aku mulai gila karena tidak ada Sinar di sini," ucapnya dengan lesu.


Klek


"Sinar!" seru Surya lagi saat pintu kamarnya terbuka.


"Bukan Sinar. Mama! Kamu kangen, ya?" ledek Marlin.


"Biasanya juga Sinar yang tiba-tiba masuk, jadi ku kira dia sudah pulang." Alasan Surya.


"Hee, alasan! Bilang ajak kangen. Belum juga sehari di tinggal, udah kangen aja," ucap Marlin.


"Serah Mama, deh!" Surya kembali berbaring di kasur, tak ingin berdebat dengan Marlin.


"Iya, deh. Yang lagi kangen istri!" Marlin terus saja meledek Surya dan yang sedang di ledek tak mengubrisnya sama sekali.


"Ada apa Mama ke sini?" tanya Surya.


"Jadi, nggak boleh, nih?"

__ADS_1


"Mama, udah dong! Kan, nggak mungkin Mama datang, nggak ada alasannya.


"Iya, deh. Nggak, mama cuma mau tanya, kamu mau sarapan di sini, apa di bawah?" tanya Marlin, mengakhiri kejahilannya.


"Di sini aja. Males buat turun," jawab Surya.


"Kenapa, nggak ada yang dorong, ya?" Lagi-lagi, Marlin meledek Surya dengan senyuman yang mengejek.


"Serah Mama deh, ya. Emang bener kata papa, berdebat dengan wanita itu tidak akan menang!" ucap Surya.


"Itu karena, wanita punya dua mulut dan pria hanya satu," jawab Marlin dengan tersenyum lebar.


"Astaga, Mama!"


Surya menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar ucapan Marlin yang dia sendiri tahu apa maksud dari ucapan Marlin dan Marlin sendiri keluar dari kamar itu dengan cekikikan, menutup mulutnya.


*


*


Disana dia duduk dalam kesendirian, memikirkan Surya yang di tinggalnya di mansion.


Bukan tanpa alasan dia mengawatirkan Surya, tapi selama dia bekerja di mansion itu sebagai perawat dari Surya, sangat jarang sekali ada yang memperhatikannya kecuali Marlin.


Keluarga itu seperti acuh, tapi bukan tak peduli. Mereka seakan acuh jika Surya sedang dalam keadaan seperti itu. Mereka hanya tahu, Surya ada dan ada yang merawatnya. Tidak ada perhatian, walau hanya sekedar mengajaknya mengobrol.


"Sedang apa ya, mas Surya sekarang?" gumam Sinar.


"Apa aku telvon aja, ya? Ya, aku telvon saja, ajak ngobrol. Dia pasti sunyi sendiri, tidak ada yang di ajak bicara." Sinar mengeluarkan ponsel dari sakunya lalu menekan nomor Surya dan pangilan pun tersambung.


"Halo, Mas Surya," sapa Sinar.

__ADS_1


Sedangkan di seberang sana, Surya senyum-senyum sendiri, betapa bahagianya dia dapat mendengar suara Sinar yang telah dia rindukan sejak tadi.


"Halo, Halo, Mas Surya!" panggil Sinar sedikit Keras.


"Eh, ya! Sinar, kamu belum tidur?" ucap Surya dengan senyuman, namun tak dapat di lihat oleh sinar, karena mereka hanya melkukan panghilan telvon biasa saja.


"Iya, Mas. Belum ngantuk," jawab Sinar.


"Terus, ngapain sekarang?" tanya Surya lagi.


"Lagi, telvonan sama Mas," jawab Sinar.


"Oh, iya-ya." Surya menjawab dengan cekikikan karena merasa bodoh dengan pertanyaannya sendiri. "Maksud aku, ngapain kamu telvon?"


"Nggak apa-apa, Mas. Cuma mau ngobrol aja," jawab Sinar.


Dan akhirnya malam ini mereka habiskan dengan mengobrol berdua sepanjang, hingga rasa kantuk menyerang dan mereka pun mengakhiri panggilannya.


Sinar kembali beranjak, ingin memasuki kamar Rosma, namun dia di kejutkan oleh Bintang yang tengah berdiri di depan pintu.


"Bintang!" kejut Sinar.


.


.


.


.


Simpan di favorit klian, ya😁

__ADS_1


__ADS_2