
Sinar berjalan duduk di sofa, dengan air mata yang menetes dan hati yang bergelut dengan getaran, dia ingin penjelasan dari Surya.
Lama berkutat di kamar mandi, Surya yang tidak menyadari keberadaan Sinar segera keluar dan berjalan keluar.
Klek
Baru beberapa langkah saja, Surya sudah terhenti, melihat sosok wanita yang duduk santai di sofa kamarnya.
Sinar menatap nyalang ke arah Surya, seakan ingin menerkamnya saat itu juga.
"Si-Sinar!" kejut Surya.
"Ya, ada yang perlu di jelaskan? Sejak kapan? Kenapa aku tidak tahu?" cecar Sinar pada Surya dengan pertanyaan.
"Si-Sinar, duduk dulu, ya, akan ku jelaskan." ucap Surya gugup.
"Ya, harus di jelaskan dan hari ini juga pekerjaanku selesai!" tegas Sinar.
"Baiklah. Akan ku jelaskan, tapi sebentar, aku siap-siap dulu," ucap Surya.
Sinar terlihat tenang, bahkan sangat tenang. Dia mengendalikan rasa yang ada di hatinya, rasa marah, rasa kecewa dan rasa yang belum dia tahu apa itu.
"Aku di taman belakang," jawab Sinar dan segera berlalu dari sana.
Braak
Sinar telah pergi dan Surya hanya dapat menatap punggungnya tanpa berkata apa-apa.
__ADS_1
"Si4l!" umpat Surya.
"Kenapa aku teledor!"
Surya segera memakai bajunya dan bergerak menuju pintu kamar untuk keluar, namun langkahnya terhenti.
"Apa yang harus ku katakan padanya?" gumam Surya.
Sedang di luar, di taman belakang mansion. Sinar telah duduk di bangku taman seorang diri.
"Kenapa mas Surya melakukan ini? Kenapa, kenapa mereka berbohong? Bukankah lebih baik, jika aku tidak bekerja lagi. Orang kaya memang tidak memikirkan uang mereka, padahal kami sangat sulit untuk mencari kertas dan koin yang berharga itu." Batin Sinar.
Hampir setengah jam Sinar menunggu di taman itu, namun bayangan Surya tak juga muncul di sana. Entah apa yang di lakukannya di dalam kamar hingga tak turun dengan cepat.
"Mungkin mas Surya tak ingin menjelaskan," gumam Sinar.
Di luar, Aldrick telah datang berkunjung di mansion itu. Di depan rumah Aldrick bertemu dengan bi Inem dan menanyakan keberadaan Sinar.
"Bi inem, Sinar-nya ada?" tanya Aldrick.
"Eh, Tuan Aldrick. Tadi saya liat, di taman belakang lagi duduk," jawab bi Inem.
"Sama Surya?"
"Nggak. Tadi sendirian, bibi liat."
"Oh, ok. Saya ke belakang dulu, ya. Nemuin Sinar sebentar, sekalian bawah coklat." jawab Aldrick dan terus melangkah menuju tempat Sinar berada.
__ADS_1
"Mas Aldrick, ckckck, istri orang, kok ngebet banget, ya." gumam bi Inem, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya yang sedang memegang sapu di tangannya.
"Hai!" sapa Aldrick, langsung duduk di bangku yang sama dengan Sinar.
"Mas Aldrick!" kejut Sinar.
"Ini buat kamu," Aldrick menyerahkan kantong yang sedari tadi di bawahnya.
Sinar membuka kantong yang di berikan Aldrick dan melihat isi di dalamnya.
"Coklat! Lagi?" ucap Sinar.
"Ya. Karena aku ingin kamu selalu tersenyum, agar kecantikan kamu itu nggak pudar," gombal Aldrick dan di sambut dengan senyuman oleh Sinar.
"Makasih, ya, Mas. Kamu memang selalu perhatian sama aku," jawab Sinar.
Dan di belakang mereka, Surya telah berdiri menyaksikan interaksi keduanya. Senyuman yang di tunjukan Sinar pada Aldrick, senyuman yang tulus yang tak pernah dia dapatkan.
"Apa aku, tak bisa membuat senyum seperti itu di wajahmu?" batin Surya.
Dia mengurungkan langkahnya saat ingin mendekati mereka. Tawa renyah dari Sinar, membuat dia bimbang, Sinar tak pernah sebahagia itu bersamanya. Canda dan gurau yang menurut Surya tidak lucu, bisa membuat senyuman lebar di wajah Sinar, sedangkan dia yang telah memberikan kartu saktinya pada Sinar waktu itu, bahkan hampir di tolaknya dan tak membuat senyuman di wajahnya. Padahal Jia dulunya, selalu meminta hal itu padanya dan dia pikir itu membuat Jia bahagia.
.
.
.
__ADS_1
.
By... By...