
"Baiklah, Mas. Aku pergi, jika ada waktu untuk kembali, aku akan kembali sore nanti," ucap Sinar dan mendapat anggukan.
*
*
Bintang tengah menunggu Sinar di depan rumah sakit, tak lama kemudian Sinar turun dari sebuah taksi menuju ke arahnya.
"Bintang!" panggil Sinar saat melihatnya. "Bagaimana keadaan ibu?"
"Ibu, sedang di tangani dokter, Kak," jawab Bintang.
"Ada apa dengan ibu? Kenapa bisa kambuh?" cecar Sinar.
Ayo, Kak. Kita masuk dulu," ajak Bintang dan mereka segera masuk ke dalam rumah sakit.
Sinar melihat keadaan ibunya dari balik kaca, airmatanya menetes melihat Rosma di sana.
"Tenang, Kak. Kita duduk dulu," ucap Bintang seraya menuntun Sinar duduk di depan ruangan itu. "Kak, sebenarnya kemarin-kemarin saat aku membawah ibu unyuk cuci darah, dokter mengatakan kalau penyakit ibu tidak memperlihatkan tanda-tanda ...."
"Lalu?" selah Sinar yang sudah tahu apa yang akan dikatakan Bintang.
"Dokter bilang, kalau sekarang ibu harus melakukan cuci darah 3 minggu sekali," jawab Bintang.
"Kenapa kau tak memberitahuku?"
"Ibu melarang. Aku tidak bisa membantah ibu."
Klek
Sinar dan Bintang berdiri menyambut dokter yang baru saja keluar dari ruangan itu.
"Dokter, bagaimana keadaan ibu saya?" tanya Sinar.
"Kami harus melakukan cuci darah lagi. Silahkan selesaikan administrasinya, agar kami bisa melakukannya dengan segera," ucap dokter.
"Bintang kamu tunggu di sini. Kakak, akan membayar biayanya!" pinta Sinar.
__ADS_1
"Kakak punya uangnya?" tanya Bintang.
Bintang tahu seberapa uang yang ada pada Sinar, karena semua gaji kakaknya di serahkan pada mereka untuk biaya berobat dan kuliahnya, jadi kini pasti uangnya habis, karena belum saatnya untuk gajian bagi Sinar.
"Tenangnya saja. Kakak, ada uang," jawab Sinar dan segera pergi dari sana.
Sampai di bagian administrasi, Sinar segera menyapa wanita yang berada di sana.
"Sus, saya mau bayar biaya cuci darah untuk pasien bernama Rosma Suryana," ujar Sinar.
"Baik, saya lihat dulu, ya..." Suster itu segera menghadap layar di depannya dan melihat permintaan Sinar. "Rp. 2.500.000,-" lanjut suster itu.
"Ini!" seorang pria menyodorkan kartunya pada suster dari balik punggung Sinar.
"Mas Aldrick!" kejut Sinar menatap Aldrick yang berdiri di baliknya.
"Hai," sapa Aldrick dengan senyuman.
"Emp, Sus. Jangan yang itu ..., ini saja." Sinar menyodorkan kartu yang baru saja di keluarkan dari tasnya, pemberian dari Surya.
"Tapi, Mas ...."
"Nggak apa, Sinar! Skali-skala bantuin kamu, nggak apa!" Aldrick memaksa dan Sinar pun tak bisa menolaknya lagi.
"Aku jadi, nggak enak!" ucap Sinar.
"Ok. Jangan merasa seperti itu, karna kalau kamu minta ginjalku, dengan senang hati aku memberikannya," canda Aldrick dengan senyuman.
"Gombal!" Aldrick segera membawah Sinar dari sana setelah mendapat jawaban dari Sinar.
Mereka berjalan menyusuri lorong, menuju tempat di mana Rosma dan Bintang berada. Dari kejauhan Aldrick sudah dapat melihat Bintang, namun dia berpikir jika ubunya Sinar di rawat di kamar lain.
"Bin, gimana ibu? Biayanya sudah selesai, kasih tau dokter, biar ibu segera bisa cuci darah!" ucap Sinar.
"Siapa ini?" tanya Bintang, dengan tatapan tajamnya.
"Oh, ini Aldrick dan Aldrick ini Bintang, dia-"
__ADS_1
"Ngapain di sini?" tanya Bintang sinis.
"Saya ... datang untuk menjenguk."
"Udah! Yang sopan. Sana cepat beritahu dokter dan ini, bawah!" sela Sinar dengan menyerahkan selembar kertas kecil pada Bintang.
"Dia siapa kamu, Sinar?" tanya Aldrick setelah Bintang pergi.
"Oh, dia adikku."
"Oh, aku kira dia berondongmu."
"Enak aja!"
*
*
"Sury, sudah saatnya makan siang. Sinar-nya di mana?" Tanya Marlin yang baru saja masuk ke ruangan Surya.
"Sinar ke rumah sakit, Ma. Katanya, ibu-nya masuk rumah sakit, jadi aku biarkan dia pergi," jawab Surya.
"Kok, nggak ngazih tau mama? 'kan, Mama bisa ikut nemenin dia."
"Tadi, dia buruh-buruh, Ma."
"Oh, ya sudah. Kita makan siang aja, setelah itu nyusul." ucap Marlin dan Surya menginyahkan dengan mengangguk.
.
.
.
.
Di coment yang enak, ya😁 kalau perluh yang rasa coklat🤣
__ADS_1