Menjadi Istri Untuk Pengasuh Suamiku

Menjadi Istri Untuk Pengasuh Suamiku
Bab.75 ~


__ADS_3

"Oh, begitu. Terus sekarang, apa kalian mau langsung nikah aja?" tanya Dennis lagi.


"Haa/Apa!" ucap Nilam, Bintang dan Surya bersamaan.


"Papa ngebet banget mau bikin acara," ujar Marlin.


"Bukan gitu, Ma. Supaya bisa sekalian, kalau mau resepsi untuk Sinar dan Surya, sekalian aja sama nikahan Nilam," jelas Dennis.


"Hemat amat, Pa!" protes Surya.


"Buk-" Dennis ingin menjawab Surya, namun Sinar sudah menyelahnya.


"Aku pikir, tidak perlu melakukannya," ujar Sinar.


"Kenapa?" tanya Surya.


"Ya, buat aku yang penting sah, aja," jawab Sinar.


"Bener, tuh. Kalau seudah sah mau apalagi." sambung Surya, menyetujui usul dari Sinar.


"Ya, sudah. Terserah kalian, aja. Terus kalian berdua bagaimana?" tanya Dennis.


"Kami sepekat, masih ingin belajar, Pa." jawab Nilam.


"Oh, gitu. Nggak langsung nikah, aja? Kan, lebih baik." tawar Dennis lagi.


"Saya ikut saja, Om. Apa yang Nilam mau," jawab Bintang menengahi.


"Baiklah. Jika itu mau kalian," ujar Dennis mengalah. "Bagaimana dengan mamimu?" lanjut Dennis.


"Mami sudah tau dan setuju," jawab Nilam.


"Itu baik. Dan kalian tidak usah pulang dulu, kita makan malam bersama!" pintah Dennis dan semua menyetujuinya.


*


*


Dua bulan berlalu. Saat ini, keluarga Haditama sedang piknik di puncak dekat dengan vila Wijaya, tempat di mana kenangan Wina dan Dennis. Tapi, kini mereka sudah akur dan tidak mengungkit masa lalu lagi.


Mereka menggelar tikar, untuk duduk beramai-ramai. Marlin membawah bekal yang cukup banyak, hingga saat di mobil Dennis menggerutu karena persediaan Marlin harus memenuhi mobilnya.


Keila, Dikta dan Kevin ikut serta bersama mereka. Keila sudah tak masalah lagi dengan Nilam, yang terpenting harta keluarga Haditama aman untuknya dan Surya. Lagi pula dia sudah mengetahui, jika Nilam dan Wina juga adalah orang yang mempunyai segalanya, bahkan lebih dari apa yang mereka punya.

__ADS_1


Kini keluarga itu tampak bahagia. Marlin dan Dennis sudah akur kembali. Surya yang selalu menempel di sisi Sinar, tak Akan pernah jauh darinya, bahkan saat sedang bekerja, dia akan memaksa Sinar untuk melakukan video call hanya untuk dapat menatap wajahnya.


Nilam dan Bintang juga, semakin dekat, bahkan mereka dan keluarga sudah memutuskan untuk melakukan pertunangan untuk keduanya. Keila sudah bersikap biasa saja dengan Nilam bahkan mengakuinya sebagai adik.


Jam-jam pun berlalu dengan suka ria dari keluarga mereka, dan saat ini mereka akan pergi menuju vila Wijaya. Rencana yang mereka buat, setelah piknik di siang hari, mereka akan menginap di vila itu.


Surya yang selaku mengandeng tangan Sinar itu, tak pernah ingin melepasnya. Tiba-tiba di kejutkan oleh, Sinar yang terjatuh geletak di sampingnya saat berjalan menuju mobil.


"Sinar!!" pekik Surya.


"Sinar/Kak/Mba!!" pekik yang lainnya setelah melihat kejdian itu.


"Sinar! Sinar! Ya, ampun kamu kenapa?" ucap Surya panik seraya memeluk tubuh Sinar yang terjatuh.


"Kak! Kak!" Bintang pun tak kalah paniknya, tak biasanya kakaknya itu seperti ini. Tapi beberapa saat sebelumnya, dia pernah bicara dengan Sinar yang terlihat nampak lesu, namun kakaknya hanya menjawab, mungkin karena kelelahan saja.


"Bagaimana ini, Ma?" tanya Surya yang sudah meneteskan air mata,


"Ayo, Surya. Bawah ke mobil, kita ke rumah sakit saja!" pinta Keila yang ikut merasa panik.


Surya segera membopong tubuh Sinar, membawahnya menuju mobil yang terparkir di sisi jalan.


Marlin menemani Surya, untuk menjaga Sinar di mobil dan yang lainnya mengikuti dari belakang. Pedal gas mobil itu, hampir saja habis di injak oleh Surya yang sedang mengendarai, membuat Marlin khawatir bukan saja pada Sinar, tapi juga keselamatan mereka.


"Surya! Sinar hanya pingsan! Pelankan mobilnya! Kau bisa membawah maut untuk kita!" gertak Marlin yang kesal.


Surya memarkir mobilnya sembarang dan segera menurunkan Sinar dengan menggendongnya.


"Dokter, tolong istri saya!" ucap Surya panik.


"Ada apa ini, Tuan?" tanya dokter.


"Istri saya pingsan Dokter!" ucap Surya yang terlihat sangat panik.


Dokter itu pun sampai menggelengkan kepalanya, mendengar keterangan Surya, bahwa istrinya hanya pingsan.


"Baiklah. Kalian bisa menunggu di luar!" pinta Dokter itu.


"Kenapa, Dokter?" tanya Surya tidak terima.


"Surya!" ketus Marlin dan akhirnya Surya pun mengalah.


Dua jam sudah Sinar tidak sadarkan diri, seharusnya dokter itu memberikan dia obat untuk siuman, tapi mungkin dia sengaja karena melihat keadaan Surya yang sangat kacau saat Istrinya pingsan.

__ADS_1


Langit-langit kamar itu terlihat putih bersih, Sinar mengerjap-ngerjapkan matanya, setelah melihat ke samping sisinya Surya tengah tersenyum ke arahnya.


"Mas," panggil Sinar, yang merasa kepalanya masih pening.


"Iya," jawab Surya yang tak pernah pudar senyumannya.


Sinar melihat ke sisi lainnya, dan di sana terlihat yang lainnya juga berada dalam satu ruangan itu.


Semuanya tersenyum ke arah Sinar, membuatnya menjadi bingung.


"Ada apa ini?" tanya Sinar.


Surya melebarkan senyumannya, kemudian menjawabnya.


"Di sini, ada aku yang kecil," ucap Surya dengan menunjuk bagian perut Sinar.


Sinar menatap telunjuk Surya dan dia sangat mengerti dengan apa yang di maksud oleh Surya.


"Sungguh?" tanyanya meyakinkan.


Surya mengangguk dan semuanya pun mengucapkan selamat padanya, seraya dengan senyuman dan serempak.


Sinar dan Surya saling berpelukan, mereka sangat bahagia. Sesuatu yang di tunggu-tunggu akhirnya datang juga. Syukur dan syukur mereka panjatkan tak henti-hentinya.


Akhir yang bahagia untuk mereka. Semua masalah terselesaikan dan nikmat pun di dapatkan oleh masing-masing dari mereka.


.


.


.


.


...~End/Tamat~...


*


*


Makasih untuk para readers tercinta dan setianya aku.


Maaf, kalo masih ada yang kurang, dan banyak kesalahan🙏

__ADS_1


Maaf, ya, novelnya aku tamatin. Udah bulan puasa, fokus sama Ramadhan dulu dan menyambut hari raya Idul Fitri.


Buat semuanya selamat menunaikan ibadah puasa🙏


__ADS_2