
Surya dan Sinar saling pandang, menjadi malu dengan keadaan mereka saat ini.
Surya kembali menutup pintu kamar mereka dan beejalan menuju kasur, di mana Sinar berada sekarang.
Di luar, Marlin yang tengah berlari menutuni tangga dengan pekikannya, membuat Dennis yang melihatnya merasa ngeri karena Marlin berlari sambil menuruni tangga itu.
"Pa, kita akan punya cucu lagi!" pekik Marlin.
"Apa yang kau katakan?" ucap Dennis yang telah di guncang tubuhnya oleh Marlin karena kegirangan.
"Itu, itu, Surya, Sinar!" Marlin menjadi bingung bagaimana cara mengatakan pada Dennis, apa yang dia lihat di kamar Surya tadi.
"Apa? Ada apa dengan mereka?" tanya Dennis, penasaran.
"Mereka, mereka ..." Marlin tak bisa mengucapkan dengan kata-kata, hingga dia harus menjelaskan dengan tangannya apa yang dia lihat. Marlin menyatuhkan ujung jari-jari tangannya dan menyentuhkan ke ujung jari-jari tangan tangan yang lain juga terkumpul menjadi satu, menjelaskan pada Dennis apa yang di lihatnya.
"Oh, mereka sudah ekhem," jawab Dennis yang mengerti.
"Iya! Kita akan punya cucu lagi," ucap Marlin girang.
"Memang langsung jadi?" tanya Dennis.
__ADS_1
"Ya, belum! Nunggu, kali. Kan sudah ada bibitnya yang di tanam, tinggal nunggu tumbuhnya," jawab Marlin seraya duduk di sofa dengan wajah yang bahagia membayangkan dia akan bermain dengan anak dari Surya dan Sinar.
Di kamar, Surya sedang membujuk sang ratunya, agar mau di ajak mandi bersama.
"Ayo, kita mandi sama-sama," ajak Surya.
"Nggak ah. Nggak mau. Mas mandi sendiri aja," jawab Sinar.
"Enak loh, kalau mandi bersama," godanya.
"Nggak. Mas mandi duluan, aku belakangan aja!" tolak Sinar.
"Yang ada itu bukan mandi! Tapi, Mas mau lagi dan lagi, kayak semalam!" jawab Sinar kesal.
"Hihihi...," Surya hanya cekikikan mendengarkan jawaban Sinar padanya. Padahal pemikiran Sinar itu, betul adanya. Di dalam pikirannya, di dalam kamar mandi itu, bukan hanya mandi, tapi sekalian melepaskan h4sratnya yang masih ada hingga siang ini.
Surya bergegas ke kamar mandi, sedang Sinar turun dari tempat tidur untuk membereskan sisa-sisa perjuangan mereka semalam. Surya sangat ganas, hingga jika membayangkannya saja, Sinar merasa ngeri sendiri.
Sinar mengangkat seprey dan selimut yang terlihat ada noda dar4h di kedua kain itu. Entah bagaimana jadinya hingga selimut pun terdapat noda keper4wanan yang semalam bobol itu. Sinar mengangkat dan mencium aromanya.
"Ueek!" Sungguh baunya sangat tidak enak, hingga dia merasa mual menciumnya.
__ADS_1
Selesai dengan pekerjaan membereskan tempat tidur yang berserakan itu, Sinar kembali duduk di sisi kasur, untuk menunggu Surya keluar dari kamar mandi.
Sinar, bukanlah wanita yang lemah, hingga dia akan manja dengan rasa perih yang dia rasakan. Dia tetap berusaha melakukan apa yang biasa dia lakukan, walau tertati, namun dia terus melakukan pekerjaannya. Apalagi, itu adalah masalah pribadinya dan Surya, dan tidak boleh di umbar kepada lain orang.
Surya keluar dari kamar mandi, dengan mengenakan handuk sebatas pinggang dia mendekat ke arah Sinar.
"Mau aku bantu?" tanya Surya dan Sinar sangat mengerti dengan apa yang di maksudkannya.
"Tidak perlu! Aku bisa sendiri!" jawab Sinar dan segera berlalu dari hadapannya, Surya hanya tersenyum melihat itu.
Sungguh benar apa yang di katakan Sinar, masalahnya hilang walau tak seluruhnya, tapi kebahagiannya bersama Sinar mampu melunturkan sedikit demi sedikit rasa sakit di hatinya.
.
.
.
.
By... By...
__ADS_1